Tuesday, December 13, 2011

Anak Rantau, Tongkrongan dan Kecantikan

Ini soal biasa saja, dahulu saya dan beberapa teman senang menghabiskan waktu santai di depan kampus III UMM (sebenarnya di depan Kios Galesong yang memang terletak di depan Kampus III UMM). Disana ada banyak kata, karena menghabiskan waktu dengan kata-kata alias ngobrol adalah pilihan yang paling murah dibandingkan yang lain seperti berselancar di dunia maya, menonton atau mendengarkan musik. Oia hampir lupa, sebenarnya ngobrol bukan kegiatan menghabiskan waktu kosong yang paling murah, karena yang paling murah adalah duduk diam (bengong) atau malah tidur.

Diantara obrolan teman-teman di depan Kios Galesong, tema kecantikan adalah yang paling populer. Pembahasan perihal cantik ini selalu menjadi alternatif paling cihui ketika tak ada lagi bahan obrolan. Akhirnya diantara perbincangan wanita ini, tersebutlah suatu rumus dimana pagi, siang, sore dan malam hari dapat dibedakan tanpa melihat jam, atau tanpa berpandu dari letak matahari atau kondisi cahaya. Keempat waktu tersebut dapat diketahui dengan melihat dandanan para mahasiswi yang lalu lalang di depan Kios Galesong.

Di pagi hari, kebanyakan diantara mereka terlihat segar dan kesannya begitu damai, tanda-tanda istirahat malam yang sempurna terpancar dari wajah mereka yang masih belum bercampur dengan beban akademik atau urusan lainnya. Di siang hari, kedamaian itu mulai pecah mungkin karena ada tugas atau kepentingan yang saling berkejaran dengan waktu, sehingga siang menjadi puncak stres yang berpengaruh terhadap wajah tentunya. Wajah cemberut menunjukkan si pemiliknya sedang berkeluh kesah, mungkin karena panasnya siang atau padatnya jadwal kuliah sehingga mereka telat menikmati makan siang yang sudah diatur dengan membuat janji untuk makan siang bersama teman, atau lainnya.

Pokoknya siang adalah jadwal pertarungan antara kecantikan tubuh (fisik) dan kecantikan pribadi (inner beauty). Sehingga banyak diantara teman-teman yang punya hobi nongkrong di depan Kios Galesong memilih siang hari sebagai waktu favorit memantau para mahasiswi. Siapa yang tetap terlihat cantik di siang hari, berjalan dengan tenang dan wajah damai adalah objek pujian, mereka pintar mengatur penampilan sehingga ritme kehidupan tidak mempengaruhi kecantikan fisik mereka, dari dalam kecantikan itu menebar aura yang mengagumkan, itulah hiburan dari pendar kecantikan yang makin langka di siang hari.

Perhatian teman-teman akhirnya tertular kepadaku, sehingga kadang kala jika sedang sepi dan kebingungan di kios, saya akan duduk di depan dan menikmati suasana, ahhh mirip seorang pengangguran berharap dewi fortuna datang menawar pekerjaan.

Oia, ada pula sore dan malam hari, para mahhasiswi sudah semakin ceria. Di sore hari romantika kehidupan dihidupkan, beberapa pasangan tampak menikmati sore dengan berjalan kaki, mereka yang berkendara tentu saja akan mengunjungi suatu tempat untuk melepas malam. Yang jelas sore adalah masanya kebebasan, dimana manusia lepas dari jeratan urusan duniawi. Kondisi ini tentu saja sangat romantik, mirip sepasang kekasih yang bertemu kembali setelah lama tak bertemu, sementara usaha mereka untuk bertemu sangat memberatkan.

Di sore hari itulah romantika, bukan malam hari. Alasannya malam terlalu bingar untuk suasana romantis, canda-tawa, pesta dan berkumpul dengan komunitas masing-masing adalah kegiatan yang mencerminkan kebingaran tersebut. Di depan kios Galesong berbaris beberapa warung nasi yang biasanya menjadi destinasi mahasiswa dan mahasiswi menikmati pesta, para wanita itu mulai menunjukkan siapa diri mereka, lepaslah citra yang dibentuknya dengan kosmetik yang bertarung bersama terik matahari. Mereka tertawa, terbahak malah. Para wanita yang terbiasa merokok melepas asap dengan penuh kebebasan, atau wanita yang alim saling bercengkrama biasa saja, mengambil tema-tema humor dan tersenyum lepas. Jika ingin mengenali siapa lawan bicaramu, bertemulah mereka di malam hari dan jika ingin menyatakan cinta pada seseorang, cobalah ungkapkan kepada si dia di sore hari.

Perlu diketahui, bahwa tema cantik ini tidak melulu dibatasi oleh penampilan fisik atau semangat seorang wanita, tentu saja cantik meliputi hal lain diluar wanita, misalnya penampilan mobil yang menarik hati dan memang cantik, melintas di depan kios, selain mobil ada juga motor. Intinya, banyak yang menjadi objek tema obrolan tentang kecantikan, hanya saja (memang) wanita adalah yang paling dominan karena dalam menilai kecantikannya, perangkat citra dalam tubuh kita dipengaruhi oleh libido lelaki normal yang seksual, sehingga diantara wanita cantik yang lewat di depan Kios Galesong, wanita sensuallah yang manduduki peringkat nomor satu.

Demikianlah suatu aktifitas diceritakan ulang, serajin dan sedalam-dalamnya para tukang nongkrong ini membuah-bibirkan kecantikan wanita, tak ada diantara kami yang berhasil menggaet salah satu diantaranya untuk menjadi pacar, pun untuk bercengkrama atau saling menyapa saja tidak. Entah apa alasannya, selain akibat teguranku karena takut Kios Galesong yang segmentasinya adalah mahasiswi akan kena imbas, mungkin dengan menyapa atau mengajak ngobrol, pemantauan dan obrolan perihal cantik ini akan sedikit hambar.

Nongkrong selalu punya cerita.

0 komentar:

Post a Comment

Jangan lupa meninggalkan komentar ya.... (Tolong jgn berkomentar sebagai Anonymous)

 

Alternative Road Copyright © 2012 -- Template was edited by Cheng Prudjung -- Powered by Blogger