Showing posts with label Activities. Show all posts
Showing posts with label Activities. Show all posts

Wednesday, April 11, 2012

Sekali Lagi; Ulang Tahun

Maaf saya bukan penipu, teman-teman saja yang terlalu mudah mempercayai Facebook perihal informasi tanggal lahir yang kucantumkan disana, tanya dulu kek!.


Satus Facebook; "Sy lg ultah ya? *bingung

Sejak awal menggunakan Facebook, saya sudah kepikiran untuk tidak mencantumkan inormasi tanggal lahir yang valid, malah beberapa kali gonta-ganti sampai ada kawan yang akhirnya menyadari, "Kok ulang tahunmu sampai tiga kali dalam sebulan?". Saya tertawa cekikikan membaca komentarnya.

Belakangan, intensitas mengganti inormasi tanggal lahir di Facebook mulai kukurangi untuk mengecoh, hahaha. Seringkali pada ulang tahun semu yang diumumkan Facebook berbuah ucapan selamat dan doa. Seorang teman baru saja bertanya lewat Twitter, "Ulang tahunmu banyak amat, Cheng. Tiga kali sehari kah?". Jawabanku sederhana, "Biar banyak orang yang sering doain aku sukses!".

Alasan lainku sederhana saja, mempermainkan hari ulang tahun yang disakralkan banyak orang. Keluargaku sangat kaku persoalan ulang tahun. Sejak kecil, ulang tahun bagiku adalah hal yang terlarang, bagaimana tidak setiap kali kutanyai Ibuku soal ulang tahun, dia berulang kali menjawab bahwa ulang tahun itu budaya orang Kristen (baca: non-muslim). Jawaban ini tak sepenuhnya kupercayai, karena banyak juga teman-teman muslim yang merayakan ulang tahun, tapi apa kata Ibu harus dituruti. Jadilah saya anak yang "terbelakang" tidak pernah hadir di setiap acara ulang tahun teman, soal pesta ulang tahun, masa duduk di bangku Sekolah Dasar adalah yang manis mungkin, karena setelah jenjang pendidikan itu, ulang tahun pasti adalah KERUSUHAN!.

Karena tidak pernah ikut acara pesta ulang tahun, saya tidak pandai dalam memilih dan menyerahkan hadiah yang pas buat seseorang. Bukan hanya hadiah ulang tahun, tapi hadiah apa saja, misalnya saat seseorang sahabat karib menerima prestasi gemilang. Oia, ini juga alasan bagi tean-teman yang sering menuntut dan mengeluh kenapa saya tidak pernah bawa oleh-oleh dari daerah-daerah yang kukunjungi, padahal mereka sering membawakan buah tangan padaku. Maaf, saya tidak biasa yang beginian.

Tapi, saya bukan orang yang pelit. Saya menuruni sifat kedermawanan sang Bapak. Beberapa teman kuberikan sesuatu, misalnya buku, baju, atau benda lain, tapi siatnya bukan hadiah melainkan kenang-kenangan, atau sekadar pemberian semata. Soal ini, saya selalu merasa senang saat melihat ekspresi wajah orang yang keberikan sesuatu, entah dia senang atau berpura-pura senang. Saya suka!

Lanjut cerita, belakangan Ibuku mulai berubah. Entah apa yang mempengaruhinya, dia mulai mengucapkan "Selamat ulang tahun", dan kutau jika dia ada tabungan yang cukup, pasti ada hadiah dibalik ucapan selamatnya. Sayangnya, saya sudah terlanjur mati rasa dengan ulang tahun, setiap ucapan selamat dan hadiahnya tidak pernah betul-betul "Nyantol di hatiku", malah keheranan. Kok bisa!!!

Terakhir, ibuku mempelopori acara ulang tahunku di rumah Makassar, sebuah kue tart dipersiapkan, ukurannya jumbo. Nah, ada cerita lucu disini, lebih tepatnya menggelikan. Kue tart yang sebenarnya akan jadi surprise bagiku terbongkar juga akibat adik-adikku yang cerewet, kue yang diamankan di atas lemari dan ditumpukin kain lawas memang tidak tampak sebagai benda aneh di rumah. Celakanya, adikku yang paling kecil memanggilku, "Kak Ahmad, siniki dule, ada yang mo sa kasi liatkanki", ajaknya merayu!.

"Apa?". Tanyaku penasaran.
"Ka sinimeki dulu, dehhh!". Tanganku di tarik masuk ke kamar orang tuaku, disana dia menunjuk ke kain lawas yang menutupi sekotak kue tart. Si anak bungsu ini membisikiku.

PNS style | Poto pas hari ultah.
Saking bersemangatnya, dia berlari (sambil loncat-loncat) keluar masuk kamar-kamar memberitahukan kepada warga "Pondok Fitriah" bahwa ada yang berulang tahun hari ini. "Sudami belli mama hadia", katanya membuat rumah makin seru. Ibuku diam saja mendengarnya, toh dia telah merancang ini menjadi sebuah surprise, mungkin dia sedang ekting 'pura-pura' gak sadar bahwa anak tercintanya (*hatsyahhhhh) berulang tahun.


Hari itu, tak ada yang bisa bersabar menunggu malam hari, karena hari itulah kue tart pertama dalam keluargaku akan dinikmati (Ingat Andrea Hirata) bersama. Saya malah merasa asing malam itu, kulihat keluargaku senang dan ibuku mempercayai ekting surpriseku (hahahaha, ekting balasan!), sementara saya sendiri kikuk, apa yang memotivasi sang Ibu ini merayakan ulang tahun?

Nah, itulah teman beberapa cerita. Saya sebenarnya merasa berdosa juga kepada mereka yang mengucapkan selamat dan berdoa untuk kesuksesanku pada hari ulang tahun palsu. Tapi serius, saya tidak pernah merasa bahwa doa di hari ulang tahun dan pada tahun baru lebih makbul dibandingkan hari biasa yang lain. Makanya saya juga tak pernah berdoa kepada teman-teman karena motivasi ulang tahun atau apalah.

Untuk ulang tahun palsuku tahun ini, saya mengucapkan terima kasih kepada teman-teman warga al-Kautsar 58 yang sekali lagi tertipu. Saya menghargai semangat teman-teman dalam menyemarakkan hari ulang tahun manusia kuno ini, menjadi objek ketawaan saat dikerjain di hari ulang tahun itu menyenangkan, karena bagiku, tak ada yang lebih seru dan lucu dibandingkan mentertawai orang-orang yang tertawa!. Hahahaha

Sunday, April 8, 2012

Pariwisata Sulawesi Selatan; Kami Ada dan Mengesankan!

“Kalau di Makassar ada apa aja, Cheng?”, tanya Juanita, seorang penggila wisata asal Bandung, saat perjalanan kembali ke kota Malang setelah berplesir di Pulau Sempu. Saya terdiam beberapa saat untuk menyusun jawaban atas pertanyaan teman yang gila wisata alam ini. Dia dan 4 teman lainnya pasti penasaran dengan jawabanku.

Saya betul-betul kesulitan berbicara soal pariwisata Sulawesi Selatan (Sulsel), utamanya Makassar sebagai ibukota provinsi dan ikon yang biasanya digunakan untuk merepresentasikan Sulsel "diluar", apalagi kepada seorang yang sudah mengunjungi beberapa tempat wisata yang aduhai seperti Pantai Pangandaran, Cukang Taneuh yang lebih akrab ditelinga dengan nama Green Canyon, Pulau Komodo, dan tentu saja Bali, terakhir mereka menikmati pantai Segara Anakan di Pulau Sempu, kabupaten Malang, bersama saya (sebagai pemandu).

Kondisiku dalam menyusun jawaban diperparah lagi oleh sopir kami yang berasal dari Bali, umurnya yang masih muda membuatnya menggebu-gebu berbicara soal Kampung Halamannya, apalagi dia tinggal di kecamatan Gerokgak, pintu gerbang untuk menyeberang ke pulau Menjangan, destinasi wisata bawah laut andalan Bali yang menjadi favorit turis mancanegara.

Akhirnya kukatakan pada mereka; Jika senang dengan wisata kuliner, Makassar tujuan yang bagus! Kalau bicara soal wisata pantai, pulau dan taman bawah laut, Makassar punya kesan tersendiri yang gak kalah mengesankan.


Jawabanku menarik perhatian mereka, utamanya tentang pulau dan taman bawah laut. Kuceritakanlah pengalamanku mengunjungi pulau Lumu-lumu dan Langkai betahun-tahun silam. Pada mereka kusampaikan bahwa, teman-teman akan terkejut saat tiba ke pulau Lumu-lumu, salah satu pulau terluar di Kota Makassar yang berpenghuni, berjarak 28 km dari kota Makassar. Disana ada terumbu karang (warga lokal menyebutnya pulau karang) yang berdekatan dengan pulau Lumu-lumu. Saat air laut sedang surut, pulau karang ini menyatu dengan pulau Lumu-lumu.

Landscape Pulau Langkai, Makassar | zizuzan.blogspot.com
Keindahan taman bawah laut di pulau karang masih terjaga. Saat berkunjung kesana, saya hanya diberikan kacamata kayu oleh teman untuk menikmati taman laut yang indah, beragam ikan karang yang mungil seperti menyapa "Selamat datang" padaku, pokoknya soal keindahan; kita punya nilai sendiri-sendiri.

Sekitar sejam perjalanan dari pulau Lumu-lumu menggunakan jolloro (Kapal kayu tradisional bermotor) ke arah barat, kita bisa menikmati keindahan pulau Langkai, 36 km dari kota Makassar. Pantai pasir putihnya menyilaukan mata saat matahari sedang terik, deretan pohon kelapa dan jejeran perahu yang tambat di bibir pantai menghadirkan kesan tersendiri. Langkai punya keindahan khas yang natural, belum lagi biota lautnya yang kaya.

Wah, di Makassar ada pulau seperti itu yah, Cheng?”. Tanya Nita, sapaan akrab Juanita, dengan semangat. 4 teman Nita lainnya lebih banyak diam.

“Baru tau?”.

“Iya, taunya cuma Pantai Losari aja, sama itu, Taka Bonerate yah?”.

"Toraja juga bagus yah, Cheng?", sahut Monika yang sedari tadi hanya jadi pendengar saja.

Oww, datang saja ke Makassar sekali-sekali, kalau perlu biar saya pandu lagi keliling Sulsel, asal waktu libur kuliah biar saya sekalian pulang kampung, hehehe”. Jawabku dengan aksen Makassar yang cukup kental.

Kehidupan bawah laut Pulau Langkai: Morray Eel | Sumber foto: zizuzan.blogspot.com

Kehidupan bawah laut Pulau Langkai: Sea Creature | Sumber foto: zizuzan.blogspot.com

Kehidupan bawah laut Pulau Langkai: Udang Mantis | Sumber foto: zizuzan.blogspot.com

Beberapa saat kemudian, obrolan kami didominasi oleh Iboy, sang sopir yang fasih menjelaskan tempat-tempat pariwisata di Bali, utamanya pulau Menjangan. Saya sendiri sibuk memikirkan penjelasanku tentang pariwisata Makassar yang masih asing bagi mereka. Entah apa yang diketahui dan difikirkan Nita serta keempat temannya tentang pariwisata Makassar. Sedangkal itukah informasinya tentang kota anging mammiri? sementara dia mengaku sering browsing di internet untuk mendapatkan informasi baru tentang destinasi wisata alam yang "gila".

Kupikir hanya persoalan promosi saja. Toh, pariwisata membutuhkan promosi yang bagus agar penggila wisata mengetahui dan tertarik untuk mengunjunginya.


Belajar dari Pulau Sempu

Soal promosi, Pulau Sempu mungkin bisa memberikan pelajaran yang menarik. Pulau ini adalah wilayah konservasi, bukan kawasan wisata. Namun, banyak orang datang berkunjung, baik dari Malang maupun dari daerah lain, seperti teman-teman yang kupandu ini berasal dari Bandung. Saking banyak dan makin seringnya dikunjungi, beberapa warga desa Sendang Biru menyiapkan perahu kayu untuk penyeberangan, bahkan sudah menjadi salah satu mata pencaharian bagi mereka, warga yang memiliki rumah di sekitar pantai mengais rejeki dengan membuka warung ikan bakar.

Saat menyeberang dari pantai Sendang Biru ke teluk Semut, saya menyempatkan diri berbincang dengan pemandu yang disewa guna memudahkan perjalanan. Kami membutuhkannya karena diantara 12 orang (teman-teman Nita yang kupandu, 5 diantaranya camping di pantai Segara Anakan, termasuk Nita), tak ada yang mengetahui jalur trekking dari teluk Semut ke pantai Segara Anakan selain saya. Kutanyakan pada pemandu yang berumur kira-kira 40 tahun ini, berapa orang yang datang minggu ini?, dia menjawab ada 500an orang. Kutanyakan lagi apakah ada turis yang datang?, “Iya, kemarin ada beberapa”, Jawabnya sambil tersenyum.

Sang pemandu ini menceritakan bahwa ia telah beberapa kali memandu reporter televisi nasional yang datang meliput pulau sempu, ia sendiri menyatakan bahwa pulau sempu ini bukan kawasan wisata, namun karena banyaknya pengunjung yang menulis tentang pulau Sempu di internet, sehingga pulau ini dikenal banyak orang. Saya sependapat dengan sang pemandu ini, Pulau Sempu tak pernah dipromosikan oleh pihak pengelola apalagi dikembangkan dengan memperbaikin jalur treking dan fasilitas MCK di beberapa lokasi penting (alasannya tentu karena kawasan konservasi), hanya saja informasi tentangnya bertebaran di internet, baik berupa catatan perjalanan pada website atau blog pribadi maupun mempublokasikan foto/video melalui media (online) sosial sehingga banyak orang yang terdorong membuktikan keindahannya.

Wiken di Pulau Sempu:

Karang di Pantai Segara Anakan - Pulau Sempu

Pemandangan Pantai Segara Anakan

Tebing yang membatasi pantai dengan samudra di Pulau Sempu


Kawasan Konservasi:


Wisata Sulsel dari Mulut ke Mulut

Beda pulau Sempu, beda pula pulau-pulau indah di Sulsel. Kita perlu menuntut, kenapa kawasan  wisata di Sulsel kurang dikenal?, kondisi ini perlu disadari bahwa pariwisata Sulsel masih menjadi hal asing bagi wisatawan domestik, apalagi dibandingkan dengan pulau Sempu yang bukan kawasan wisata.

Sumber gambar: wordofmouth.co.uk
Bagi saya, promosi menggunakan berbagai media memang sangat perlu, apalagi media berskala nasional, namun strategi promosi word of mouth adalah jalan yang baik dalam menginformasikan potensi wisata Makassar dan Sulsel secara umum. Bentuk promosi Word of Mouth (WoM) dapat berupa pembicaraan secara langsung (diretcly communication) maupun melalui media komunikasi yang merepresentasikan pribadi atau diri seseorang, seperti website, blog hingga media (online)sosial.

Seperti pulau Sempu, pariwisata Sulsel perlu dukungan catatan perjalanan dan publikasi foto atau video melalui media sosial yang dilakukan oleh wisatawan itu sendiri. Soal kekuatan pesannya, tentu saja kuat karena catatan perjalanan atau publikasi foto/video merupakan refleksi atas sajian pariwisata yang mereka nikmati.

Maksimalisasi strategi promosi WoM tentu saja tidak mudah karena promotor pariwisata adalah pengunjung/wisatawan itu sendiri, maka perlu dibangun suatu konsep dan sistem yang realistis dalam usaha ini. Misalnya mengembangkan sarana dan prasarana kawasan wisata, mulai dari tersedianya akses informasi dan kemudahan transportasi menuju lokasi wisata, pengemasan kawasan wisata yang menyenangkan dan tentunya memiliki karakteristik sendiri, hingga kesiapan masyarakat sekitar dalam menerima tamu dan menjaga lingkungan.

Setelah itu, kunjungan wisata perlu dipancing dengan menyebarkan paket promo wisata secara nasional dengan memberikan kesempatan bagi beberapa orang dari berbagai kota/daerah untuk mengunjungi kawasan wisata di Sulsel dengan biaya yang lebih murah (apalagi gratis). Jepang pernah mengamalkan strategi seperti ini karena kunjungan wisatanya menurun hingga 50% pasca Tsunami, Badan Pariwisata Jepang menyediakan 10.000 tiket pesawat gratis bagi orang asing yang mau datang mengunjungi negeri indah tersebut (Baca: Berlibur ke Jepang, yuk!).
Sumber gambar: coreography.com

Sekarang, apalagi yang perlu ditunggu, biarkan pariwisata Sulsel menegaskan keberadaannya, mencetak kesan yang indah dan BERTERIAK melalui mulut para penggila wisata. 


Produksi Simbol dan Mengabadikan Kesan

Bagian ini sebagai suplemen saja, Pemirsa! Walaupun muatannya sangat penting dalam mempromosikan pariwisata Sulsel.

Sebenarnya kita menyadari, bahwa perjalan wisata tanpa buah tangan tentu saja tidak lengkap. Namun bagi saya, dalam konteks pariwisata Sulsel, buah tangan dianggap hal sepele padahal dia mengandung pesan komunikasi tersendiri bagi wisatawan.

Souvenir Kupu-kupu khas Bantimurung
Bayangkan saja, jika di sudut ruang tamu dipajang miniatur rumah tongkonan  yang dibeli saat berkunjung ke Tana Toraja, atau miniatur perahu Phinisi yang dibeli sebagai kenang-kenangan saat berplesir ke Tanjung Bira di Bulukumba. Tamu melihat dan tertarik dengan ciri khasnya mungkin bertanya tentang muasal dari bende tersebut, maka berceritalah tuan rumah perihal bagaimana dia menikmati akhir pekan atau menghabiskan liburan di Tana Toraja atai Tanjung Bira. Disinilah buah tangan berungsi sebagai kenangan, sebuah simbolisasi dari pengalaman dan rangkuman kesan yang dialaminya saat menikmati suguhan khas lokasi wisata tertentu.

Sayangnya, industri keratif dan kerajinan di Sulsel belum dimaksimalkan. Olehnya itu perlu pengembangan sumber daya manusia pada sektor produuksi kerajinan, mulai dari pernak-pernik, souvenir, miniatur hingga kerajinan tekstil seperti kain sutera. Efeknya bisa diperhatikan, Tana Toraja banyak dikenal karena produksi souvenir dengan moti khas serta miniatur rumah tongkonan, Sengkang-Wajo dikenal dengan industri sarung suteranya, dan Bantimurung, Maros dengan souvenir kupu-kupu dalam rupa-rupa kemasan. Sayangnya beberapa daerah lain dengan potensi pariwisata yang berkelas belum menunjukkan karakteristik budayanya melalui suatu simbol, kecuali foto pengunjung di lokasi wisata tersebut.

Jogja akan selalu dikenang melalui kaos Dagadu, Pekalongan dengan batiknya  yang dingin, daerah Puncak di Bogor dengan Kerajinan Bunga dari kayu, Malang dengan boneka Singa, bali dengan brand Jogger Jelek. Lalu kampung kita punya apa? huruf G?.

Suplemen:
Sekadar intermezo ala kadarnya.

Saturday, March 17, 2012

Orang Mandar di Bali; Bukti Perantau Ulung Sulawesi

Bersama pak Ali, warga kampung Mandar
Mandar adalah salah satu suku (sulawesi barat) yang identik dengan laut, walaupun suku lainnya di Sulsel (dan Sulbar) juga identik dengan laut dan segala aktifitas disana, suku atau orang-orang Mandarlah yang sebenarnya dikenal sebagai orang laut.

Sebagai orang laut, mandar memiliki alat transportasi khas, yakni Sandeq: jenis perahu layar bercadik yang telah lama digunakan melaut oleh nelayan Mandar. Bentuknya yang pipih, dengan lebar berkisar 1,5 - 2 meter dan panjang 6 - 9 meter menjadikan lebih lincah dan lebih cepat dibandingkan dengan perahu layar lainnya. Salah satu keunggulan Sandeq (sekaligus bukti kepiawaian orang Mandar dalam mempertaruhkan hidup di laut) yakni dia bisa berlayar melawan arah angin, yaitu dengan teknik berlayar zigzag (dalam bahasa Mandar disebut sebagai "Makkarakkayi").

Identitas suku Mandar sebagai orang laut tidak hanya ditunjukkan oleh transportasi khasnya saja, akan tetapi dengan kebiasaannya berlayar ke tempat jauh dan merantau. Jangan kaget jika banyak kampung Mandar tersebar di Nusantara. Salah satu kampung Mandar yang bisa anda dapati dengan mudah, mengingat banyak orang Indonesia bercita-cita mengunjungi Bali, jika kawan-kawan mengunjungi pulau Dewata.

Terletak sejauh 20km dari pelabuhan Gilimanuk ke arah timur, kampung Mandar atau dusun Mandarsari sangat mudah dijumpai. Masyarakat di Desa Sumberkima, Kecamatan Gerokgak, Buleleng, Bali, sudah akrab dengan kampung ini, keberadaan orang-orang Mandar di kecamatan Gerokgak secara umum, menambah khasanah multikulturalisme yang terbingkai dengan erat dan damai disana.

Sketsa perahu Sandeq | sumber : kedaiseniuwake.blogspot.com
Sebenarnya, masyarakat Gerokgak, khususnya desa Sumberkima dan desa Pejarakan tidak asing lagi dengan orang-orang yang berasal dari pulau Sulawesi yang secara geografis tepat berada di sebelah utara dari kecamatan tersebut. Ada banyak orang Bugis, Makassar, apalagi Mandar, yang mencari nakah di pulau ini, walaupun saya tidak mendapatkan kisaran angka (kecuali di kampung Mandar yang saat ini mencapai 300 lebih Kepala Keluarga), namun beberapa hal membuat saya yakin keakraban orang-orang Gerokgak dengan para pendatang dari Sulawesi.

Sebagai perantau (bukan asal perantau), orang-orang Mandar yang hidup dengan tetap mempertahankan rumpunnya mungkin adalah salah satu ciri budaya merantaunya. Selain di Sumberkima, ada lagi beberapa kampung mandar yang tersebar di luar daerah mandar itu sendiri, di Sulawesi Barat. Selain hidup dalam satu rumpun, mereka juga tetap mempertahankan budaya seperti bahasa. Pak Ali, salah satu warga kampung Mandar yang saya temui mengaku bahwa bahasa Mandar masih digunakan secara turun temurun di dusun tersebut, bahkan dia sendiri yang lahir dan besar di Bali, masih tetap bisa berbahasa Mandar.

Selain bahasa, jenis perahu (baik jolloro dan perahu penangkap ikan) tetap mempertahankan cirinya, yakni ramping dan seimbang (perahu Sulawesi dikenal sebagai alat transportasi laut yang lincah dan cepat). Bukan hanya itu, budaya fisik yang masih bertahan adalah rumah panggung (kayu) yang hingga kini masih berdiri dan menunjukkan identitas budayanya, walaupun beberapa keluarga tidak lagi menggunakan rumah panggung karena ketersediaan kayu yang tidak lagi memenuhi kebutuhan.

Salah satu ancaman perantau adalah putusnya hubungan atau sislsilah keluarga antara keluarga di tanah rantau dengan keluarga di kampung asal. Warga kampung Mandar di Sumberkima, Bali ini menyimpan Lontara yang menunjukkan silsilah mereka. Seperti halnya pak Ali yang mengakui bahwa telah tiga generasi keluarganya di Mandarsari tidak pernah pulang ke Sulbar, sehingga dengan berpandu pada Lontara keluarganya, dia datang ke Sulbar untuk mencari dan bersilaturahmi kembali dengan keluarganya disana.
Rumah Panggung dengan atap genteng | Hingga saat ini rumah adat masih bisa dijumpai di dusun Mandarsari, Sumberkima, Buleleng, Bali. Rumah panggung dan bahasa Mandar terus mengukuhkan eksistensi rumpun mandar di Bali.

Rumah Panggung dengan latar belakang pohon kelapa
Secara umum, warga dusun Mandarsari menggantungkan hidupnya dari hasil laut, walaupun anda juga yang memanfaatkan lahan untuk meraup rejeki dari buah kelapa. Di laut, orang Mandar dan warga desa Sumberkima dan Pejarakan utamanya bekerja sebagai nelayan ikan hias. Setiap pagi mereka akan bertemu dengan laut, mengadu nasib dengan menyelami laut berkedalaman 6-10 meter. Nelayan ikan hias dibedakan dalam tiga kategori, yaitu nelayan/penyelam pinggiran, nelayan/penyelam tengah (kedalaman di atas 10 meter, teknik penyelaman biasanya menggunakan kompresor), dan nelayan sebrang yakni para nelayang yang mendatangi suatu daerah diluar wilayah bali untuk melakukan penyelaman dan menangkap ikan hias.


Mandar, oh Mandar
Pelan-pelan, Mandar menjadi begitu asing di kepalaku, bias sesosok pemuda (mungkin Muhammad Ridwan Alimuddin) semakin terang datang dengan "Orang Mandar Orang Laut". Setelah Sumberkima, saya ingin ke Pulau Masalembo, menikmati suasana kampung Mandar disana. Semoga!

Monday, March 12, 2012

Bawalah KTP saat ke Bali atau Rasakan Sendiri Akibatnya!

Sebelum saya punya KTP baru, saya akan berpikir panjang untuk datang lagi ke Bali. Ini bukan trauma, hanya saja perjalanan yang kurencanakan akan berjalan baik akhirnya terganggu dengan urusan KTP (Kartu Tanda Penduduk). Untuk masuk ke Bali, anda perlu memiliki dan membawa KTP, jika tidak, mungkin kita akan punya pengalaman yang sama, berurusan dengan penjaga di pos pemeriksaan KTP di Pelabuhan Gilimanuk atau diselamatkan oleh Tukang Ojek.

Sejak 2009 sebenarnya namaku sudah tidak terdaftar lagi pada KK (kartu keluarga) keluarga di Makassar, pasalnya pada sensus penduduk sebelum Pemilu 2009, saya tidak didaftarkan masuk sebagai anggota keluarga, alasan orang tuaku mungkin karena saya sedang merantau ke Malang jadi seharusnya tak usah "dihitung". Akibatnya, status kependudukan saya mulai tidak jelas saat itu, tidak terdata pada instansi catatan sipil manapun, baik di Makassar maupun di Malang.

Di tahun 2010 baru kusadi kondisi itu saat ingin memperpanjang masa aktif KTP, data saya tidak bisa diakses karena tidak terdaftar, masalah ini kemudian diselesaikan dengan meminta form pembuatan KTP (dimulai lagi seperti proses pembuatan KTP pertama kali), namun sebelum sampai pada proses pendaftaran atau pembuatan data kependudukan di kantor kecamatan, kusarankan pada orang tuaku untuk mengambilkan surat pindah saja, waktu itu kupikir bahwa membuat KTP dengan status kependudukan atau warga Malang lebih mudah, sehingga kebutuhan-kebutuhan yang kuinginkan di malang dapat dengan mudah kupenuhi, misalnya menjadi anggota di perpustakaan kota, dll.

Terbitlah surat pindah tersebut, celakanya mud saya mengurus pembuatan KK dan KTP hilang, akibatnya tentu saja status kependudukan saya semakin tidak jelas. Untung saja saya masih punya SIM (Surat Izin Mengemudi), sehingga jika dimintai tanda pengenal/identitas, SIM itulah yang kusodorkan. Kebiasaan memanfaatkan SIM sebagai pengganti KTP juga membuatku makin acuh pada KTP dan tidak lagi menganggap persyaratan menunjukkan kartu identitas sebagai masalah.

Di Bali, KTP adalah KTP, entah bagaimana aturan tertulis yang sebenarnya. Walaupun anda punya SIM yang masih aktif, ataupun surat jalan, atau KTP tetapi sudah tidak aktif, anda akan tetap kesulitan menginjakkan kaki di Bali, kecuali pelabuhan Gilimanuk. Hal ini kuketahui saat seorang tukang ojek naik ke bus yang kutumpangi dan mengumumkan agar penumpang yang tidak membawa KTP (aktif) agar turun demi keamanan, dia mengancam jika tidak maka akan mendapatkan masalah; salah satunya diprintahkan untuk kembali alias tidak boleh melangkahkan kaki lebih jauh dari pelabuhan Gilimanuk.

Pos Pemeriksaan KTP di Pelabuhan Gilimanuk | Sumber foto: beritabali.com
Sang tukang ojek memperjelas informasinya bahwa: KTP tidak aktif, surat jalan dan SIM tidak dipakai. Mendengar itu, saya mulai tegang, namun kuanggap bercanda hingga kukonirmasi kepada teman dudukku selama perjalanan, katanya SIM tidak bisa digunakan. Astaga, saya makin tegang tapi berusaha tetap tenang karena menganggap ini hanya sejenis sambutan Bali terhadapku.

Saat bersiap untuk turun dari bus, seorang penumpang berusaha membisikiku agar member tukang ojek uang sebesar 15 ribu saja. Saya mengangguk sambil turun dari bus, sesekali menyesali ketidak akuratan informasi yang kurangkum sejak masih di Malang soal KTP.

Sebelum berangkat ke Bali, beberapa beberapa asal Bali yang kuliah di Universitas Muhammadiyah Malang, kutanyai apakah saya bisa datang ke Bali tanpa KTP tapi dengan SIM? Mereka semua menyatakan bisa, walaupun diantaranya mengaku tidak tahu dan meneruskan dengan saran dicoba saja. Informasi ini memang sempat membuatku was-was, toh saya sudah membiasakan diri untuk melengkapi dan memastikan informasi-informasi yang kubutuhkan dalam perjalanan, baik tariff transportasi, lokasi tempat-tempat penting, suasana, dll.

Akhirnya, saya mengikuti tukang ojek keluar dari kapal feri yang baru saja sandar di pelabuhan Gilimanuk, sekitar pukul 01.30 WITA. Saat sampai di sepeda motornya, saya langsung bertanya padanya berapa harga yang harus saya bayar. Aksi tawar menawarpun berlangsung. Kejadiannya cukup lama, kakiku sendiri sampai pegal-pegal berdiri mempertahankan tawaran harga yang kuinginkan. Saya harus membayar lebih mahal dari yang kukira, walaupun sebenarnya jasa ojek sama sekali tidak kubutuhkan, hanya saja dengan menggunakan ojek itu, saya bisa melewati pos penjagaan setelah si tukang ojek bersalaman dengan seorang penjaga di pos pemeriksaan.

Sebagaimana pengalaman mengunjungi banyak tempat di Indonesia (umumnya Jawa), saya menggunakan kemampuan menawar tukang ojek, referensi harga yang dibisikkan penumpang bus tadi membuatku bertahan keras di harga itu. Parahnya, tukang ojek ini berjibaku mempertahankan penawarannya. Ketika kucoba melawan lebih keras dengan mendebati tawaran harganya, dia hanya membela diri dengan ancaman konyol: sebelum saya (tiba di Gilimanuk) ada lima orang yang dipulangkan atau dikembalikan karena tidak membawa KTP.

Kulawan lagi dia, aku meludah saat dia mengancamku dan menunjukkan sikap tidak respek atas ancamannya. Kukatakan padanya untuk tidak usah mengancam dengan cerita konyol seperti itu. Proses tawar-menawar harga berlangsung makin sengit, saya sendiri tidak lagi punya bahan apa-apa untuk tetap saling berdebat. Kuperhatikan dua orang politi berjaga di sebuah pos (entah temapt itu sebenarnya apa), ada dorongan untuk melobi langsung kepada petugas pemeriksa KTP yang berjada pada sisi lain dari tempatku berdiri, sayangnya saya tidak punya modal informasi.

Usaha tawar-menawar mentok, kuhubungi temanku untuk menyelesaikan urusan yang kualami, setelah beberapa kali kubiarkan dia saling tawar menawar harga, akhirnya saya bisa lolos memasuki Bali, plus sampai di tujuan dengan jasa ojek dari tukang ojek yang tadi. Kejadian saling-tawar menawar di pelabuhan Gilimanuk membuatku tidak semangat mengajak sang tukang ojek ngobrol lepas. Pelabuhan Gilimanuk kutinggalkan pukul 03.00 WITA lewat beberapa menit.

Di satu waktu, pengalaman ini kutertawakan. Samapai sekarang saya masih belum tahu seperti apa aturan ini sebenarnya, apakah memang kartu pengenal lainnya tidak bisa digunakan untuk mengganti KTP, lalu bagaimana proses sebenarnya yang dilakukan oleh pendatang atau pengunjung yang tidak membawa KTP?.

Ahhh, Betapa KTP sangat penting untuk orang-orang yang hilir mudik (datang) ke pelabuhan Gilimanuk, entah bagaiaman di bandara Ngurah Rai, Bali. Bagi anda yang kebelet mengunjungi Bali sementara tidak memiliki KTP atau KTP anda sudah tidak aktif lagi, bersiaplah berhadapan dengan tukang ojek, jika tidak sebaiknya anda beranikan diri melobi langsung kepada petugas pemeriksaan. Dari beberapa cerita yang kubaca dari forum Kaskus, banyak yang datang ke Bali dalam kondisi bermasalah (Tidak bawa KTP, KTP sudah tidak aktif atau mati, dll). Solusinya, mereka tetap menemui petugas jaga dan menjalani proses, sayang saya kurang mengerti proses formalnya bagaimana karena beberapa cerita berbeda, ada yang KTP lamanya dibolongin, ada yang menendatangani surat pernyataan, ada juga yang harus membayar baru bisa lolos. Lain kali, saat ke Bali, saya akan coba langsung bertemu dengan petugas pemeriksaannya saja, skalian wawancara dadakan.

Oh iya, ada juga Kaskuser yang menceritakan pengalamannya menyaksikan seorang ibu-ibu ditahan di pos pemeriksaan, nih saya kutip langsung saja:
Originally Posted by djoibunedindan View Post
Sharing aja yah Gan, kebetulan pas tgl 26 kmaren ane k Bali via bis, jdi semua penumpang suruh turun dari bis buat cek KTP gtu, nah ada kejadian yg agan maksud juga, ada ibu2 (ibu apa nenek ya,umurny d atas 50th) KTPny uda kadaluarsa, eh dia ditahan d pelabuhan g boleh lanjutin perjalanan, padahal ni ibu2(nenek juga) baru nempuh perjalanan dari palembang, baru d ijinin masuk k Bali klo ada sodaranya yg berKTP bali datang jemput, kasian ane Gan, dasar si bis g mau rugi ywd maen tggl aja, si ibu serombongan gtu, yg ane heran temen2 serombonganny g ada yg mau nemenin d pelabuhan, ga tau deh tuh nasib si ibu, smpe skrg ane masih kepikiran gan.
Pengalaman ini, menambah lagi koleksi cerita perjalananku mengunjungi banyak tempat, sungguh Indonesia ini luas dan kaya akan karakter manusia, walaupun semangatnya satu; masalah bisa diselesaikan dengan lobi (bahasa kerennya = diplomasi) dan “jabak tangan”.

Friday, March 9, 2012

Obrolan Lepas bersama Nelayan Ikan Hias Bali

Penulis di lokasi pengepulan ikan hias.
Siang itu, cuaca panas seperti biasanya, siang juga pelan-pelan berlalu seperti biasa, suasana desa yang tenang, angin sepoi dan beberapa masyarakat desa Pejarakan, Kecamatan Gerokgak, Kabupaten Buleleng, Bali tampak sibuk dengan urusan masing-masing. Beberapa diantaranya tersenyum padaku sambil menyapa; "Kepanasan, yaa?".

Sekitar jam 2 siang, beberapa orang mulai berdatangan, mereka (seperti) kompak bergantian datang ke tempat ini, kebetulan siang itu saya duduk di bale bambu disamping tempat pengepulan ikan hias yang dikumpulkan langsung dari para penyelam (nelayan ikan hias). Saat seorang nelayan ikan hias selesai mengepulkan sendiri ikan hias tangkapannya, pihak pengepul akan memeriksa; menuliskan nama atau jenis ikan dan jumlahnya lalu akhirnya dihargai sesuai dengan harga kesepakatan, atau harga umum yang berlaku di pasaran. Setelah seorang pergi, datanglah nelayan ikan hias lainnya menyetorkan hasil tangkapan mereka pagi tadi, setidaknya begitu yang kusaksikan, hari itu tak ada dua atau lebih penyelam ikan hias yang berpapasan disini, bertemu dan saling berbagi keluh dan tawa.

Beberapa nelayan ikan hias di desa ini (nelayan atau penyelam di Desa Pejarakan merupakan salah satu penyumbang Ikan Hias yang populer di Bali )sempat beristirahat, duduk dengan santai sambil bersandar di tiang atap bale-bale. Saya ikut beberapa pembicaraan dengan mereka, baik tentang pekerjaan mereka, tentang ikan hias, tentang pengalaman-pengalaman masa muda, tentang kampung mereka dan tentang Indonesia. Berpotong-potong senyum diumbar, tawa terdengar begitu saja saat memikirkan kembali nasib, mengingat kembali pengalaman, menaksir masa depan desa dan laut mereka, apalagi ketika mulai membicarakan Indonesia, nada tawa dan kesan senyum mulai berubah; mentertawai negeri.

Pengepul memeriksa jenis ikan yang baru saja dikumpulkan oleh nelayan ikan hias.

Beberapa nelayan telah datang dan menyetorkan ikan hias tangkapannya siang itu. Ketika matahari mulai beranjak makin ke ufuk barat, seorang anak mudah berjalan dengan santai sambil melempar senyum lebar padaku, Ahmad Rusli (28), penyelam/nelayan ikan hias yang hari-harinya menebar jaring diantara karang, mengusir dan memaksa ikan hias berbagai jenis yang bersembunyi untuk keluar dan terperangkap di jaringnya.

Pemuda berkulit coklat dengan kesan sederhana ini adalah warga dusun Banyuwedang, Pejarakan, Bali. Desa ini bersebelahan (berada di sebelah barat) dengan desa Pejarakan. Siang itu, setelah menyerahkan ikan hias hasil tangkapannya kepada pengepul, dia menyempatkan diri untuk menghabiskan waktu sejenak. Sebenarnya tidak sejenak, karena saat kuajak ngobrol (sebenarnya wawancara) kami keasyikan dengan peran kami, Rusli sebagai narasumber yang banyak menceritakan pengalaman dan pendapatnya, saya sendiri sebagai pendengar kemudia yang lainnya penonton yang memperhatikan saja obrolan-obrolan kami dengan ikut berkomentar sekali-kali.

Umumnya para nelayan ikan hias di desa pejarakan, Bali, tidak memiliki aktifitas penting lagi setelah ikan hias tangkapannya diserahkan ke pengepul. Hal inilah yang memudahkan Rusli bisa duduk dan ngobrol berlama-lama bersama saya. Selain Rusli, ada nelayan ikan hias lain yang mengaku bahwa setelah datang dari menyelam dan menyerahkan ikan hias hasil tangkapannya ke pengepul, dia hanya pulang ke rumah dan menghabiskan waktu dengan keluarga, kecuali saat ada kegiatan masyarakat.

Darinya, banyak informasi kudapatkan, tidak sekadar tentang cerita-cerita penyelaman laut, nama-nama jenis ikan dan harganya, pengalaman melaut di daerah lain, biasanya disebut dengan penyelam sebrang (nyembrang). Oia, para penyelam ini dibagi ke dalam 3 kategori yakni penyelam pinggiran yaitu nelayan yang melakukan penyelaman di daerah pinggiran saja, kedalaman laut hingga 10 meter, sementara itu ada juga penyelam tengah laut yang lekaukan penyelaman hingga kedalaman 60 meter. Nah, ada juga penyelam sebrang, mereka ini adalah para nelayan yang melaut hingga ke daerah lain untuk menangkap ikan hias, Rusli sendiri pernah mengunjungi Selat Makassar, sesuai dengan tuturannya, dia pernah melaut hingga ke Papua.

Penulis foto bersama Rusli (Ali Cruz) dan ikan hias tangkapannya.
Sambil menggerakkan tangan dan melempar pandangan kosong ke kanan sesekali, Rusli juga menceritakan tentang perjalanan hidupnya. Ia lahir dari keluarga sederhana, ayahnya juga adalah seorang penyelam/nelayan ikan hias, dari ayahnyalah kemampuan menyelam dan (teknik) menangkap ikan hias mulai dia pelajari. Saat itu, dia duduk di kelas 5 SD, Ayahnya mengejaknya menyelam, kian hari kemampuannya jelas makin terasah, apalagi mereka adalahan keluarga pesisir yang hari-harinya dihabiskan bersama laut.

Setelah mulai mahir, pelan-pelan Rusli mulai mencoba menangkap ikan hias dan mencoba menjualnya kepada pengepul, betapa bahagianya Rusli remaja saat mulai bisa menikmati uang dari hasil jerih payahnya sendiri, sayangnya kebahagiaan itu membutakan matanya; jalur pendidikannya macet saat duduk di kelas 1 tingkat SMA. “Saya sampai semester dua, kelas satu SMA”, ungkap Rusli sambil tersenyum.

Soal pendidikan, Ali Cruz, sapaan akrabnya, mengakui ingin sekali kembali belajar, sambil tersenyum dan menundukkan kepala dia menyatakan penyesalannya tidak menyelesaikan sekolah karena dibuai pikiran “Ahhh, ngapain sekolah kan saya sudah bisa pegang uang sendiri”. Dari nada bicaranya, kesan keinginan besar untuk belajar itu tercitra, tangannya bergerak seperti ingin menggenggam atau menepis sesuatu saat mengatakannya, walaupun pada akhir katanya soal pendidikan dia kembali pesimis dan merasa tua atau terlambat. Mungkin belum disadarinya bahwa ilmu pengetahuan tidak memandang umur dan kehidupan manusia, siapa yang mencarinya toh akan mendapatkannya, tentu dengan jalan dan perjuangan yang berbeda.

Salah satu jenis ikan hias (lupa namanya), jenis ini dihargai Rp 500/ekor
Pemuda dengan tubuh langsing ini menjalani hidupnya sehari-hari bersama seorang istri bernama Nur Hikmah (28), keluarga lain dan teman-teman sekampung, dengan penghasilan antara Rp 25.000 – Rp 50.000 sehari dari hasil penangkapan ikan hias, dia hidup dengan murah senyum. Pendapatan hariannya ditentukan oleh jenis ikan yang ditangkapnya, semakin sulit suatu jenis ikan hias ditemukan dan ditangkap maka makin mahal juga harganya. Sementara itu, jenis ikan hias yang bisa ditemukan saat menyelam tentu saja beragam, “Sesuai dengan keberuntungan, kalau beruntung dapat ikan bagus, kalau tidak ya bisa tidak sama sekali”, tutur Rusli sambil menikmati sebatang rokok.

Selain menjadi nelayan ikan hias, Rusli bekerja sebagai tourist guide sekaligus trainer untuk wisata snorkeling di pulau Menjangan, salah satu primadona wisata Bali yang dikenal dengan keindahan taman bawah lautnya. Di musim tertentu, saat tamu asing banyak berkunjung ke Bali, dia memanfaatkan kepiawaian atau keakrabannya dengan dunia di dalam air kepada para wisatawan. Pekerjaan hariannya sebagai nelayan ikan hias memudahkan usahanya menyenangkan para tamu, dia telah akrab dengan banyak jenis ikan dan terumbu karang, sehingga dia punya banyak nama dan pertunjukan.

Di kesempatan lain, saat Rusli menunjukkan dokumentasi berupa foto-foto saat memandu wisatawan asing, kutemukan sebuah wajah yang taka sing bagiku; Richard Gere. Darikulah dia menyadari telah memandu seorang actor dunia yang membintangi film-film terkenal, salah satunya Hachiko.

Tak ada yang menyangka dia dikenal sebagai pemain sepak bola yang handal, saat menyinggung tentang sepak bola, seorang penonton ikut berkomentar dan menyatakan bahwa Rusli masuk Timnas. Seorang lainnya tertawa kecil lalu melanjutkan, Timnas Desa Pejarakan.

Saat kutanyai tentang harapannya pada kehidupan masa depan, wajahnya lirih sambil mengakui bahwa dia tak punya harapan lagi, dia tinggal menjalani hidup saja. “Mau punya harapan apa, saya cuma bisa menyelam”. Pikiran inilah muara kesederhanaan hidupnya, harapannya yang kosong memaksanya memenjara rasa ingin dalam jeruji keterbatasan kemampuannya, sehingga dia cukup bekerja untuk menikmati hidup tanpa ada banyak tekanan diri akibat dorongan rasa ingin yang kadang juga memaksa; saya harus bekerja keras dan sukses, bisa beli rumah, punya mobil mewah, wisata ke luar negeri, dll.

Namun untuk Bali, khususnya bagi para nelayan ikan hias di Bali, dia memiliki harapan besar agar alam tetap lestari, “Saya harap tidak ada yang merusak terumbu karang, biar laut dan isinya sehat”. Tentu saja menjaga lingkungan tetap sehat dan indah adalah tugas semua orang, dan kepentingan semua orang, bahkan generasi akan datang yang sama sekali belum teramalkan untuk hadir sebagai manusia.

Foto bersama di balai bambu

Rusli yang siang itu mengenakan kaos berwarna hijau muda banyak menginspirasi. Perjalananku ke Bali, tepatnya di Pejarakan terasa kurang saat mengenal sosok muda ini, keinginan untuk tinggal dalam waktu lama untuk ikut menikmati kegiatan penyelaman, mengagumi keindahan bawah laut Bali, berkenalan dengan berbagai jenis ikan dan mengumpulkan jutaan inspirasi, semakin besar, saya mulai kena serangan sindrom kangen Bali, bukan karena dunia pariwisatanya, tapi karena orang-orang dan alamnya.

Sore datang perlahan, kecerahan matahari mulai redup seketika ia disembunyikan bukit di barat, dan kami tidak harus menghabiskan sore dengan ngobrol.

Wednesday, February 29, 2012

Bali dan Jutaan Lapis Ketenangan

Ketenangan | Ilustrasi
Tidak banyak memang aktifitas yang kulakukan ketika berkunjung ke Bali, tepatnya di desa Pejarakan, Kecamatan Gerokgak, Kabupaten Buleleng, Bali. Saya hanya memperhatikan gerak-gerik orang-orang secara diam-diam sambil menikmati suasana lingkungan dimana saya bermukim untuk sementara di Desa Pejarakan.

Kebetulan saja saya diundang untuk menjadi fasilitator pelatihan pembuatan blog bagi para guru, walaupun kenyataannya bukan hanya sekedar (profesi) guru yang ikut menjadi peserta, ada beragam profesi seperti Tourist Guide, Karyawan di sebuah hotel, karyawan restoran, Diver, bahkan Kepala Dusun pun ikut serta. Sehingga interaksi sosialku terfokuskan kepada mereka. Berbeda saat memfasilitasi sebuah kegiatan/pelatihan sebelumnya, saya pasti punya kesempatan untuk bergaul dengan masyarakat, menggali informasi dan menikmati kekerabatannya.

Dalam posisi atau kondisi demikian, saya banyak belajar dari suasana di desa Pejarakan, desa yang secara geografis bertemu dengan laut di sebelah utara dan pegunungan di sebelah selatan. Secara umum, masyarakat disini banyak menggantungkan hidupnya pada laut, baik itu bertambak garam, menjadi nelayan ikan hias, hingga pemandu wisata laut (snorkeling dan diving), selain menggantungkan hidupnya kepada tuhan tentunya.

Secara pribadi, saya cukup heran. Masyarakan Pejarakan adalah orang-orang yang tidak lagi asing dengan laut, akan tetapi kenapa mereka tidak “ribut", tidak seperti sebuah hukum bahwa suara atau nada bicara orang-orang yang hidup di daerah laut itu besar atau keras. Disini, hukum tersebut tidak berlaku, jika anda punya kesempatan untuk berkunjung ke daerah ini, silahhkan dievaluasi penilaian saya, bahwa di Pejarakan: ada jutaan lapis ketenangan. Tak ada ingar-bingar kecuali jalan raya yang melintas dari barat ke timur.

Senyum dan keramah tamahannya sangat khas, saya suka dengan ciri khas tersebut, saat berkeliling kusempatkan memperhatikan symbol-simbol budayanya, yang paling menarik adalah gaya model ramput gadis-gadis bali yang menarik, rambut yang lurus dan panjang itu seperti dibagi menjadi tiga bagian; di bagian belakang rambut diikat biasa. Lalu di bagian depan dibuat kesamping, sementara disisi kanan dan kiri, di bagian depan telinga dibiarkan terurai ke bawah. Aduh saya kesulitan menggambarkannya, kosakata saya masih kurang. Hahahaha

Pejarakan seakan menghipnotisku, saya begitu bebas dan terhibur dengan suasananya, ketenangannya membuatku berfikir bahwa masalah utama hidup di dunia adalah ingar-bingar. Belum lagi ketika berkenalaan dengan orang-orang yang hidup begitu sederhana, memiliki keinginan besar lalu berusaha dengan keras tanpa memperdulikan penilaian citra. Saya ingin berlama-lama disini, mencari rahasia ketentraman hidup seperti apa yang kurasakan, hidup berdampingan dengan orang-orang yang berbeda agama.

Ketenangan itu tidak hanya bentukan alam: lautnya yang tenang, angin sepoi, panas yang tidak menyengat, minimnya suara bising yang menggemuruh, hingga hijaunya kebun dan hutan. Ketenangan itu datang dari manusia-manusianya, sederhana, ramah, toleran dan tidak saling membebani. Entah pada kenyataannya bagaimana, toh saya hanyalah tamu yang membuat penilaian setelah berada di Pejarakan selama beberapa hari saja.

Saat datang ke tempat ini, saran saya. Tak usah punya keinginan besar untuk menikmati keindahan bawah laut yang menjadi primadona pariwisata desa Pejarakan, umumnya di kecamatan Gerokgak. Nikmatilah ketenangannya, masyarakatnya, alamnya dan hal-hal diluar batas kata-kata untuk menyampaikan perasaan, mungkin anda akan sepakat bahwa di dunia masih ada tempat dimana ketenangan itu bisa kita nikmati, bahkan ribuan lapis hingga kita tidak tahu ketenangan yang dirasakan adalah lapisan yang mana.

Monday, February 13, 2012

Catatan Hujan untuk Kesekian Kalinya


Lumpur akibat luapan air sungai
Tuhan dengan hujannya adalah bukti kasih sayang, dia menyiram bumi yang dahaga dengan kesegaran air laut yang disuling melalui langit. Namun, kasih sayang itu berbeda tipis dengan kemurkaan, kasih sayang tuhan hanyalah kemurkaan yang tertunda. Hari itu, entah hujan yang membasahi bumi ditujukan untuk membuktikan kasih sayang atau murka, yang jelas manusia-manusia yang sering melupakan tuhan bergembira ria.

Al-kautsar 58 adalah surga (Rumahku surgaku), baik bagi mahasiswa asal Sulsel maupun para maling yang selalu berhasil meraup keuntungan di rumah ini. Hari itu tak ada yang menyangka hujan lebat berbuah petaka bagi 4 kamar yang ditinggal penghuni aslinya, plus 1 ruang keluarga yang terlah banyak berjasa mengikat persaudaraan para perantau asal Sulsel di Malang.

Dengan deras, luapan air dari sungai yang melintasi Jl. Tlogo Al-Kautsar mengamuk, menyerang masuk ke dalam rumah tanpa ketuk pintu. Dalam hitungan detik, lantai berubin putih tergenang oleh air berwarna coklat yang kotor, tak sedikit kerugian yang disebabkannya: kasur, pakaian yang terserak di lantai, kardus dan isinya, dokumen organisasi, PC dan printer, bahkan Laptop menjadi korbannya.

Lorong Parmindo seketika menjadi sungai, air tidak mengalir seperti wanita bernama ayu yang jalan dengan lenggang dan tingkah yang kemayu, tanpa tawaran damai dia menjadi murid sungai Brantas yang membelah Kampus UMM. Beberapa orang keluar dari rumah, menghibahkan tubuhnya diguyur hujan yang tak bermata, mereka mencari selamat dengan menghalau air berwarna coklat masuk ke dalam rumah.

Kondisi rumah Al-Kautsar 58 begitu mengenaskan. Jika dia adalah manusia, pastilah matanya memerah karena marah. Berbeda dengan penghuninya, walaupun awalnya kebingungan dan sempat kesal, senyum sumringah akhirnya tersungging. Tanpa pikir panjang, hujan hari itu menjadi hiburan, mengubah mahasiswa perantau yang telah berumur lapuk menjadi kana-kanak yang tak kenal sakit akibat air hujan.

Lorong Parmindo yang menjadi sungai dadakan tidak lagi mengesalkan, namun menyenangkan. Sungai yang melintas sepanjang Jl. Tlogo Al-Kautsar tidak lagi menjadi cemoohan, beberapa mahasiswa terjun ke dalamnya dan menikmati luapannya. Ahhh, mirip dengan makna jalannya: Al-Kautsar, sungai itu seperti sungai di surga, dan airnya yang berwarna coklat bak susu yang mengalir disurga, mirip sekali dengan penggambaran surga di kitab suci sebagian besar mahasiswa yang ngekos di Al-Kautsar.

Sebut saja Fahri (bukan artisnya Ayat-ayat Cinta), Rikar, Taslim dan Riga, mereka adalah penghuni (surga) Al-Kautsar yang tak melewatkan momen yang menyenangkan ini, hujan bagi mereka adalah berkah, bukti bahwa kasih sayang tuhan datang kepada mereka siang itu.

Kamarnyaa fahri setelah evakuasi kasur dkk
"Biarmi kamarku korban, yang penting kita senang-senang dulu, selesaipi hujan baru dibersihkan rumah", ungkap Fahri setelah hujan deras berganti gerimis yang baik hati sementara keganasan luapan air mulai mengiba.

Tak banyak yang bisa menikmati hujan seperti anak-anak ini, batang pohon pisang yang beberapa waktu lalu ditebang pemiliknya digotong dan dijadikan mainan, sayang sekali hanya sebatang saja, andaikata ada beberapa, bermain sampan pasti menjadi permainan menarik bagi mereka dan tontonan yang memnggelikan bagi kami yang memilih menikmati hujan dengan cara lain, masing-masing.

Kasih sayang dan kemurkaan sang pencipta berbeda tipis, seharusnya hujan yang mengakibatkan meluapnya air sungai membuat mereka berkeluh hati dan berkesah semangat karena rumah menjadi kotor, sementara itu banyak barang yang nyaris jadi korban, belum lagi Arif yang beberapa menit sebelum hujan deras turun menyapu dan mengepel lantai hingga kinclong, kualitasnya dalam membersihkan lantai seperti pembantu kelas profesional yang tak diragukan lagi geriknya.

Dan itulah hujan, seperti air yang tumpah dari langit, dari telaga Al-Kautsar di surga pada tingkat tertentu. Dia menjadi sumber kebahagiaan bagi orang-orang dengan hati yang tenang, tidak memperdulikan kesulitan kondisi dan larut di dalamnya, toh dalam kekesalan, dalam kesulitan menjalani hidup, kita perlu perasaan senang dan bahagian, seperti hujan yang datang menyapa bumi dengan ikhlasnya.

Ini dia dokumentasinya :p:
Kondisi Rumah al-Kautsar yang digenangi luapan air sungai akibat hujan deras
Ucheng da Rikar berusaha menghalau air agar tidak masuk ke rumah.
Vina (Maya) Memanfaatkan momen dengan berpose.
Rikar dan Ucheng bekerjasama membuat jebakan, sapatau ada ikan didapat.
Fahri pura-pura kedinginan.
Rikar sang penakluk hujan. Persiapan audisi untuk bintang iklan Mijon.
Taslim menikmati hujan


Video: Melawan Arus:
Nantikan update videonya !!!

Sunday, January 22, 2012

Asbak Pecah; Berhenti Merokok!!!

Saya baru saja menyiapkan kata-kata untuk menulis tentang HP Android milikku sejak seminggu lalu, tiba-tiba terdengar suara yang tak asing, sebuah benda berbahan kaca jatuh dan pecah di atas permukaan ubin. Suara benda yang pecah dan tetap utuh jelas saja berbeda, benda ini pecah!!!

Satu-satunya asbak di rumah akhirnya pecah berserakan, asbak bulat dengan bahan dasar kaca tanpa rias pewarna yang mendokumentasika banyak cerita takkan bisa digunakan lagi. Pusing juga melihat kepingan asbak berserakan di laintai, ada tiga kepingan besar yang berpose tak teratur di atas lantai, kemudian kepingan sisanya buyar, menyebar kesana-kemari pasrah oleh energi benturan antar dua benda yang memecahkan dirinya.

Pikiran yang sedang menyiapkan kalimat pembuka untuk catatan tentang HP Android milikku, buyar!!! berganti dengan suatu pikiran tentang asbak yang jatuh dan pecah. Semoga dengan musnahnya asbak satu-satunya ini, aku bisa berhenti merokok. Hahahahaha.

Oia, kebetulan nuansa imlek, tahun baru china, sedang ramai. Kesehatan mulai menjadi prioritasku, beberapa liputan tentang kebudayaan China yang terpampang di koran Kompas hari ini mengajarkanku bahwa kesehatan adalah salah satu penopang hidup bahagia. Dengan tubuh yang sehat, seseorang dapat bekerja keras, makin giat dan lebih produktif, dengan kerja keras itu nasib seseorang menjadi baik, pendapatan meningkat dan kehidupan sejahtera.

Nah, semoga pecahnya asbak satu-satunya di rumah, semakin menguatkanku untuk berhenti merokok, dan semoga kesehatanku terus membaik. Sukses untuk kita semua, tetap jaga kesehatan dan ayo bekerja keras!!!

Berhenti Merokok !!!

Sunday, January 8, 2012

Coto Makassar itu Menunggumu Datang Kanda

Pagi itu, suasana sangat damai. Ketika lamat-lamat adzan subuh diusir mentari, segala aktifitas segera dimulai. Saya dibangunkan oleh aroma abon sapi yang diolah (produksi) di depan Asrama Bawakaraeng, Jl. Lesti 58, Surabaya, tempatku menghabiskan Jum’at malam.

Ruang tengah asrama segera dipersiapkan untuk kegiatan pelantikan Pengurus IKAMI Sulsel Cabang Surabaya 7 Januari 2012. Kegiatan bersih-bersih sungguh damai hingga detik-detik pelaksanaan kegiatan semakin dekat.

Ketika sang Ketua Umum IKAMI Sulsel Cabang Surabaya (Masih status ketua umum terpilih karena belum dilantik) tiba di tempat, kabar buruk memecah kedamaian pagi yang langka di kota besar seperti Surabaya. Pengurus Besar (PB) IKAMI Sulsel yang dikabarkan akan hadir melantik generasi muda pelanjut cita IKAMI Sulsel di Surabaya, mengalami peristiwa buruk. sebagaimana rencana, dia seharusnya berangkat dari Jakarta jam 7 pagi dengan pesawat terbang menuju Surabaya. Sayangnya dia ketinggalan pesawat dan akhirnya mencari jadwal penerbangan di siang hari.

Teman-teman calon pengurus cabang IKAMI Sulsel Surabaya tampak begitu segar hari itu (salahnya saya tidak membawa kamera), di wajah mereka belum ada dosa, bersih tanpa prasangka buruk. Sayang sekali, ketika kabar buruk ini mereka ketahui, kekecewaan mulai menjalari rona segar mereka. Untung saja, pelantikan tidak batal dilaksanakan hari itu, karena delegasi dari PB IKAMI Sulsel menyatakan akan berangkat dengan penerbangan di siang hari.

Tidak semua untung dapat dipercayai. Siangnya, ketika acara silaturahmi antara IKAMI Sulsel Cabang Surabaya (Cabang Malang juga hadir) dengan KKSS Surabaya telah usai, masalah baru muncul, malah tepat setelah semangkuk coto Makassar telah dinikmati. Kakanda utusan PB ini tidak bisa hadir di Surabaya, ikut menghangatkan suasana dengan kemeriahan pelantikan dan bincang silaturahim diantara irisan dadu hati sapi. Alasannya tidak ada penerbangan yang bisa membawanya ke Surabaya siang itu.

Alternatifnya, Surat Keputusan (SK) akan discan dan dikirimkan via BB (Blackberry), namun hingga sore hari scan SK yang dijanjikan belum juga tiba. Parahnya, SMS dan telefon yang ditujukan kepadanya tidak mendapatkan respon. Teman-teman seperantauan di Asrama Bawakaraeng mulai kebingungan dan mulai mencemoh pelan-pelan.

Oia, seharusnya kusebutkan nama, karena tanpa menyebut nama sepertinya rasa hormat kita terhadap kakanda ini begitu kurang. Namanya Sofyan, hanya itu yang kuketahui walaupun sempat bertatap muka ketika dia bersilaturahmi ke Malang, sisanya silahkan cari informasinya di google.

Wajah di balik nama:
Kanda Sofyan, Kabid Kewirausahaan PB IKAMI Sulsel | Sumber Foto: Facebook


= Malam Sebelum Pelantikan =

“Besok makan coto!”, Kata Sidik, ketua umum IKAMI Sulsel Cabang Surabaya.

Kami yang mendengarnya sumringah, makan coto bukan hal biasa di tanah rantau tentunya, apalagi coto hadir di dalam suasana acara pelantikan. Teman-teman IKAMI Sulsel Cab. Surabaya jelas sekali mempersiapkan acara ini dengan matang. Keesokannya ketika wajah segar mereka kuperhatikan, ada kesan bahagia akan dilantik di rona wajah mereka.


= Waktunya Coto Makassar =

Namun sayang (lebih dari seribu sayang) hidangan coto Makassar yang diniatkan akan dinikmati setelah mereka dilantik hanya harapan hampa belaka. Bagi saya, seorang penikmat sensasi, coto ini adalah bentuk kesyukuran mereka, bukan hanya sekedar hidangan untuk menghormati tamu, tapi apa yang bisa disyukuri jika tak ada yang dilantik hari itu?.

Apakah keterlambatan pesawat yang disyukuri? apakah sms dan telfon yang tak berbalas yang harus disyukuri? dan apakah imaji kekecewaan yang patut disyukuri? Jawabannya ada di tangan kanda Sofyan, sepertinya begitu, karena lama kuperhatikan teman-teman di Asrama Bawakaraeng, tak ada lagi yang mau membahasnya. Coto berlalu di lidah, tenggelam ke dalam tenggorokan dan menjadi onggokan cacing di perut lalu menjadi tai yang entah dibuang kemana.

Sedih rasanya kawan. Lebih sedih dibandingkau kau mengajak temanmu datang ke warung coto di jalan Gagak Makassar, lalu memesan dua mangkuk coto, setelah makan, kalian ternyata tak punya uang sehingga harus menjadi tukang cuci Selama seharian disana. Lebih sedih, jauhhhhhhh lebih sedih.

Semangkuk coto itu seharusnya tidak hanya diisi oleh potongan beberapa bagian tubuh sapi, kuah dengan rempah-rempah, kecap, garam, jeruk nipis, sambal, dan daun bawang. dalam semangkuk coto itu seharusnya ada kebahagiaan, kesyukuran atas keberhasilah IKAMI Sulsel cabang Surabaya membangun regenerasinya, dan tentu saja memori suara kanda Sofyan ketika menyebut nama tobarani-tobarani Surabaya ini satu per satu dan melantiknya.

Sumber: Facebook
Bagi kanda Sofyan, jika saya boleh bertanya, apakah kakanda hafal dengan semboyang manusia Sulawesi: "Punna alla'bammi sombalaka...., kualleangi tallanganatoalia...???? " Mengertikah maknanya duhai kakandaku yang menawan? Jika hatimu telah meniatkan, dan kakimu telah melangkah, Surabaya harus kau injak sebelum kembali ke atas kasurmu. Jika tidak, anak-anak muda Surabaya ini pantas menginjak-injak niatmu untuk berkunjung dan melantik pengurus IKAMI Sulsel Cabang Surabaya.

Mohon maaf kanda jika terlalu lancang. Di Makassar, seorang Raja atau Pemimpin yang salah memang harus diluruskan oleh rakyatnya. Seharusnya kusampaikan kemarahan ini dalam bait kecapi seperti dahulu itu, tetapi saya seorang hanya rakyatmu yang punya kata tanpa kecapi.

Sudahkah kemarahan ini menusuk jiwamu kanda? jika belum, datanglah ke Surabaya! Carilah mangkuk coto kotor yang masih tersisa dan cucilah. Semoga keikhlasanmu itu mengobati kekecewaan teman-teman disana. Memang bukan saya yang mengalami, tapi sekali lagi: sebagai pencinta sensasi, saya sedih menikmati semangkuk coto. Bahkan saat meninggalkan Surabaya untuk kembali ke Malang, Kata “Selamat atas pelantikannya, pak ketum!!!” pun tak lunas, dalam hati: biar kuscan saja kata itu lalu kukirimkan melalui BB atau lewat jasa Pos.

“Coto itu belum keluar dari perutku, kanda!!!”. Dalam hatiku!

"Reso temmangingi namalomo naletei pammase dewata"
Kerja keras dengan penuh keikhlasan dan tak lupa berdoa agar tujuan kita dapat tercapai.

Sunday, January 1, 2012

Harga Ikan Gurami

Pernah gak kamu ke pasar dan membeli ikan?, saya pernah! Ke pasar dan membeli ikan bukan hal asing bagiku, keluargaku adalah pedagang pasar tradisional di Galesong (Kabupaten Takalar), dan Galesong merupakan salah satu Bandar ikan terbesar di Sulawesi. So, pasar dan ikan bukan hal asing buatku.

Bau amis, lagak dan penampilan penjual ikan yang khas tidak pernah menggangguku, malah saya senang melihat para pedagang ikan di pasar, gayanya tidak beda dengan pedagang ikan di (pasar) kampung halaman, hanya berbeda suara dan semangat tawar menawar saja.

Hari kemarin, hal baru kutemukan di pasar saat mendampingi teman membeli ikan di pasar. Sore itu, beberapa penjual ikan berjejer di depan pasar Blimbing, di pinggir jalan raya. Beberapa diantara ikan yang tersedia di sana adalah bandeng, patin, gurami, kakap, hiu, lumba-lumba dan paus. Diantara ikan-ikan itu, saya tertarik dan senang rasanya menyaksikan ikan gurami yang masih hidup berenang sesukan hati di dalam box ikan.

Iwak urip, iwak urip!!! (Ikan hidup)”, teriak penjual ikan yang berbadan kekar dengan beberapa tato di kedua lengannya kepada jalanan.

Beberapa pengguna jalan singgah, mereka yang naik motor melintah pelan dan singgah sebentar menyaksikan ikan gurami hidup tanpa trun dari motor. Seseorang datang, perawakannya biasa saja, jelas ekali kalau dia penganut ekonomi lemah yang pada pemilu kemarin memilih SBY. Spontan sambil tersenyum bahagia, dia berkata: Senneng aku ndeluk iwak urip !!! (Aku senang melihat ikan yang masih hidup).

Saya tersenyum kepadanya, menyaksikan senyumnya sangat menyenangkan. Pria tua dengan kaos oblong hijau tua dan celana levis urakan, mungkin di saku belakannya tersampir dompet yang isinya kurang dari lima puluh ribu, atau kurang dari dua puluh ribu malah, berdiri lama di samping box ikan tanpa bertanya berapa harga ikannya.

Senang rasanya. Senang melihat pria tua miskin ini tersenyum bahagia hanya karena menyaksikan ikan hidup. Saya membayangkan andai saja dia diundang berkunjung ke istana dan bertemu langsung dengan SBY, dia pasti lebih memilih melihat ke arah ikan yang berenang di dalam akuarium istana dibandingkan memperhatikan wajah SBY yang banyak bicara. Tapi itni kalau istana Negara punya akuarium di ruang penerimaan tamu miskin seperti pak tua ini.

“Syukurlah kalau mereka masih punya kebahagiaan, walaupun sumbernya dari beberapa ekor ikan yang berenang di dalam box itu, bukan dari pemimpin yang telah menjanjikan kebahagiaan kepada mereka sejak 2004 lalu”, kataku dalam hati.

“Harganya berapa, pak?”. Tanya temanku kepada penjual ikan.

“Yang mati: 30.000. Yang hidup: 32.000”, kata penjual ikan sambil menunjuk ke tumpukan ikan gurami yang telah mati dan ke ikan gurami yang masih hidup di dalam box.

Lucu rasanya mendengar harga tersebut, nyawa itu harganya cuma 2000 saja. Ouh, begitukah???

Terlintas bayang-bayang kelam kehidupan, perdagangan manusia, peperangan, hingga kejahatan hak asasi manusia. Jangan-jangan kita sudah tidak lagi menganggap bahwa nyawa itu adalah perangkat paling berharga dalam kehidupan selain kehormatan.

Cuma ikan memang, tapi harga ikan itu menjadi cermin bagiku, cermin melihat perilaku manusia sepertiku yang lebih memperhatikan tampang, penampilan seseorang atau hal-hal materialistis lainnya tanpa menengok esensi eksistensinya.


Berapa harga nyawaku sendiri? Hahahaha

Dunia ini bukan pasar, dimana kepentingan atau kebutuhan dipertukarkan, kemampuan atau kecakapan diperjual belikan sehingga citra hidup manusia yang awalnya sangat social bergeser menjadi sangat ekonomis. Kau akan dianggap hidup dan bernyawa jika memiliki tenaga, kecakapan, dan jaringan. Tanpa itu semua, kau adalah mayat hidup yang dipermainkan tuhan, diciptakan dan ditinggalkan begitu saja menjadi bahan ejekan manusia yang berharga mahal.

Berapa harga nyawaku??? Hahahahaha

Tergantung bagaimana sang bos mengupahi, tergantung berapa isi amplop yang diterima saat pemilu. Dan tergantung berapa banyak duit yang ada di dalam dompetku. Itulah harga kita, harga manusia. Aihhh, pedih rasanya memikirkan ini terlalu lama, menulis pun menjadi tidak konsen lagi memikirkan beta lalimnya manusia di hadaan harga, betapa rendah dan datarnya kehidupan dengan tuhan uang.

Berapa harga nyawaku????

Tergantung seberapa kuat tubuhku mengolah sawah dan menjual hasilnya, tergantung seberapa cerdik para politisi mempermainkan opini dan meramu wacana. Harga hidup yang dahulu kala tak pernah disentuh harga, kini mulai dihargai dan harga itu adalah sudut pandang paling utama dalam memandang manusia lainnya yang mempengaruhi kita dalam memberikan atau merespon orang lain dalam kehidupan sosial.

Memang cuman ikan kawan, tapi ikan gurami dan pedagangnya itu menjadi cermin bagiku membangun refleksi di akhir tahun, sungguh materialism telah menguasai kehidupan kita, sehingga cinta tidak lagi disimbolkan dengan bunga mawar, tetapi pertamina (bensin): motor dan mobil, parahnya lagi jika disimbolkan oleh kondom: Ahhhhh betapa harga anak-anak di generasi mendatang lebih murah dari kondom di pasar, karena mereka lahir dari kondom produk gagal.

Berapa harga nyawaku? Silahkan menawar kawan !!!
 

Alternative Road Copyright © 2012 -- Template was edited by Cheng Prudjung -- Powered by Blogger