Saturday, March 17, 2012

Orang Mandar di Bali; Bukti Perantau Ulung Sulawesi

Bersama pak Ali, warga kampung Mandar
Mandar adalah salah satu suku (sulawesi barat) yang identik dengan laut, walaupun suku lainnya di Sulsel (dan Sulbar) juga identik dengan laut dan segala aktifitas disana, suku atau orang-orang Mandarlah yang sebenarnya dikenal sebagai orang laut.

Sebagai orang laut, mandar memiliki alat transportasi khas, yakni Sandeq: jenis perahu layar bercadik yang telah lama digunakan melaut oleh nelayan Mandar. Bentuknya yang pipih, dengan lebar berkisar 1,5 - 2 meter dan panjang 6 - 9 meter menjadikan lebih lincah dan lebih cepat dibandingkan dengan perahu layar lainnya. Salah satu keunggulan Sandeq (sekaligus bukti kepiawaian orang Mandar dalam mempertaruhkan hidup di laut) yakni dia bisa berlayar melawan arah angin, yaitu dengan teknik berlayar zigzag (dalam bahasa Mandar disebut sebagai "Makkarakkayi").

Identitas suku Mandar sebagai orang laut tidak hanya ditunjukkan oleh transportasi khasnya saja, akan tetapi dengan kebiasaannya berlayar ke tempat jauh dan merantau. Jangan kaget jika banyak kampung Mandar tersebar di Nusantara. Salah satu kampung Mandar yang bisa anda dapati dengan mudah, mengingat banyak orang Indonesia bercita-cita mengunjungi Bali, jika kawan-kawan mengunjungi pulau Dewata.

Terletak sejauh 20km dari pelabuhan Gilimanuk ke arah timur, kampung Mandar atau dusun Mandarsari sangat mudah dijumpai. Masyarakat di Desa Sumberkima, Kecamatan Gerokgak, Buleleng, Bali, sudah akrab dengan kampung ini, keberadaan orang-orang Mandar di kecamatan Gerokgak secara umum, menambah khasanah multikulturalisme yang terbingkai dengan erat dan damai disana.

Sketsa perahu Sandeq | sumber : kedaiseniuwake.blogspot.com
Sebenarnya, masyarakat Gerokgak, khususnya desa Sumberkima dan desa Pejarakan tidak asing lagi dengan orang-orang yang berasal dari pulau Sulawesi yang secara geografis tepat berada di sebelah utara dari kecamatan tersebut. Ada banyak orang Bugis, Makassar, apalagi Mandar, yang mencari nakah di pulau ini, walaupun saya tidak mendapatkan kisaran angka (kecuali di kampung Mandar yang saat ini mencapai 300 lebih Kepala Keluarga), namun beberapa hal membuat saya yakin keakraban orang-orang Gerokgak dengan para pendatang dari Sulawesi.

Sebagai perantau (bukan asal perantau), orang-orang Mandar yang hidup dengan tetap mempertahankan rumpunnya mungkin adalah salah satu ciri budaya merantaunya. Selain di Sumberkima, ada lagi beberapa kampung mandar yang tersebar di luar daerah mandar itu sendiri, di Sulawesi Barat. Selain hidup dalam satu rumpun, mereka juga tetap mempertahankan budaya seperti bahasa. Pak Ali, salah satu warga kampung Mandar yang saya temui mengaku bahwa bahasa Mandar masih digunakan secara turun temurun di dusun tersebut, bahkan dia sendiri yang lahir dan besar di Bali, masih tetap bisa berbahasa Mandar.

Selain bahasa, jenis perahu (baik jolloro dan perahu penangkap ikan) tetap mempertahankan cirinya, yakni ramping dan seimbang (perahu Sulawesi dikenal sebagai alat transportasi laut yang lincah dan cepat). Bukan hanya itu, budaya fisik yang masih bertahan adalah rumah panggung (kayu) yang hingga kini masih berdiri dan menunjukkan identitas budayanya, walaupun beberapa keluarga tidak lagi menggunakan rumah panggung karena ketersediaan kayu yang tidak lagi memenuhi kebutuhan.

Salah satu ancaman perantau adalah putusnya hubungan atau sislsilah keluarga antara keluarga di tanah rantau dengan keluarga di kampung asal. Warga kampung Mandar di Sumberkima, Bali ini menyimpan Lontara yang menunjukkan silsilah mereka. Seperti halnya pak Ali yang mengakui bahwa telah tiga generasi keluarganya di Mandarsari tidak pernah pulang ke Sulbar, sehingga dengan berpandu pada Lontara keluarganya, dia datang ke Sulbar untuk mencari dan bersilaturahmi kembali dengan keluarganya disana.
Rumah Panggung dengan atap genteng | Hingga saat ini rumah adat masih bisa dijumpai di dusun Mandarsari, Sumberkima, Buleleng, Bali. Rumah panggung dan bahasa Mandar terus mengukuhkan eksistensi rumpun mandar di Bali.

Rumah Panggung dengan latar belakang pohon kelapa
Secara umum, warga dusun Mandarsari menggantungkan hidupnya dari hasil laut, walaupun anda juga yang memanfaatkan lahan untuk meraup rejeki dari buah kelapa. Di laut, orang Mandar dan warga desa Sumberkima dan Pejarakan utamanya bekerja sebagai nelayan ikan hias. Setiap pagi mereka akan bertemu dengan laut, mengadu nasib dengan menyelami laut berkedalaman 6-10 meter. Nelayan ikan hias dibedakan dalam tiga kategori, yaitu nelayan/penyelam pinggiran, nelayan/penyelam tengah (kedalaman di atas 10 meter, teknik penyelaman biasanya menggunakan kompresor), dan nelayan sebrang yakni para nelayang yang mendatangi suatu daerah diluar wilayah bali untuk melakukan penyelaman dan menangkap ikan hias.


Mandar, oh Mandar
Pelan-pelan, Mandar menjadi begitu asing di kepalaku, bias sesosok pemuda (mungkin Muhammad Ridwan Alimuddin) semakin terang datang dengan "Orang Mandar Orang Laut". Setelah Sumberkima, saya ingin ke Pulau Masalembo, menikmati suasana kampung Mandar disana. Semoga!

3 komentar:

Anonymous said...

trimakasih buat infonya ...:)
jadi smakin bangga jadi orang mandar...hhe


fikar

Adi Lengget said...

Bangga sebagai keturunan orang mandar,saya lahir di dusun rajatama kecamatan seririt yg tk jauh dari desa sumberkima,tolong dong agan mohon infonya tentang masyarakat mandar dan bugis yg tinggal di sangsit,karena ayah sya besar dan lahir dsna sya ktrunan org mandar dri ayah sya,mhon infonya agan thanks

Hardi Yuda said...

Saya salah satu orang mandar yang berada di kampung mandar Desa sumber kima kec.gerokgak kab.buleleng Bali utara

Post a Comment

Jangan lupa meninggalkan komentar ya.... (Tolong jgn berkomentar sebagai Anonymous)

 

Alternative Road Copyright © 2012 -- Template was edited by Cheng Prudjung -- Powered by Blogger