Showing posts with label My Notes. Show all posts
Showing posts with label My Notes. Show all posts

Tuesday, September 30, 2014

INFO PENTING :: Orangbiasaji.com kini beralih menjadi Orangbiasaji.net

Info penting buat-kawan-kawan netizen yang mencoba mengakses blog personal ahmad husain / orangbiasaji.com kini telah beralih ke domain yang baru, yaitu orangbiasaji.net [orangbiasaji dotnet].

Cerita peralihan domain ini panjang, kawan!. So, bagi kalian yang kebetulan membutuhkan info di blog personal orangbiasaji. Silahkan ganti domain orangbiasaji.com menjadi orangbiasaji.net [mengganti .com menjadi .net]

Misalnya :
Link URL sebelumnya
http://www.orangbiasaji.com/2014/09/begini-cara-dapat-dollar-dari-hp-android-aplikasi-whaff.html

Silahkan rubah menjadi ::
http://www.orangbiasaji.net/2014/09/begini-cara-dapat-dollar-dari-hp-android-aplikasi-whaff.html

nah, selain itu, buat kawan2 blogger yang sempat memberikan link nalik ke blog saya, tolong diperbaharui. Semoga suatu saat, orangbiasaji bisa kembali menggunakan ekstensi dot com.

Terima kasih luarbiasa :D

Happy blogging and keep posting ....
Orangbiasaji.com kini menjadi orangbiasaji.net

Wednesday, May 2, 2012

Tempat Prostitusi dan Masjid itu Berdekatan; Kamu Kemana?

Refleksi perkuliahan Komunikasi Strategi Dakwah. Tempat Prostitusi dan Masjid Berdekatan

Sore ini, seperti biasa, jadwal perkuliahan Komunikasi Strategi Dakwah bersama pak Jamroji. Saya sebenarnya kurang bersemangat dengan mata kuliah ini, nyatanya di beberapa pertemuan sebelumnya, 30 menit pertama kuhabiskan dengan tidur, melepaskan lelah mengikuti kuliah sejak jam 9.30 hingga 14.30. Untungnya hari ini konsentrasiku pada perkuliahan cukup baik, walaupun sejam sebelum masuk ke dalam ruangan yang sangat tidak inspiratif itu, kantuk telah menderaku. Bukan karenaurusan tempat prostitusi.

Entah apa yang jadi pokok bahasan pada perkuliahan hari ini, saya tidak memperhatikan betul. Hanya gambar-gambar yang tampil di slide yang kuingat hingga kini, ada gambar Sinta dan Jojo, Norman Kamaru (mantan Briptu), Ariel dan Luna Maya dan seorang anggota DPR yang sedang mengintip gadjetnya, semuanya merupakan gambar screenshot dari situs youtube. Sang dosen mungkin ingin meunjukkan betapa media internet merupakan media yang berperan besar dalam mempopularitaskan seseorang.

Dakwah tentu saja perlu popularitas!

Seperti biasa, pada perkuliahan ini, saya asik mendengarkan ocehaan sang dosen, telingaku terjaga untuk mencari kata kunci dari ribuan kata yang digunakan untuk memahamkan ide sang komunikator kepada audiensnya. Tak sengaja, terlintas di benakku sebuah statemen yang menjadi judul catatan ini: Tempat Prostitusi dan Masjid itu Berdekatan.

Anda percaya? terserah! cuma saya merasa bahwa tempat prostitusi dan tempat beribadah itu berdekatan, teman-teman mungkin belum pernah bertemu masjid yang kenyataannya seperti ini, atau tempat/lokasi prostitusi yang bersebelahan dengan masjid. Malah tak ada pagar diantaranya, hanya tembok bangunan itu mungkin atau hanya persepsi kitalah yang memisahkannya, saking dekatnya; menjadikan masjid sebagai tempat prostitusi dan sebaliknya pun bisa. Alamakkkkk

Saya sendiri belum pernah menyaksikan kenyataan yang begitu. Tapi jika kita sedikit saja ingin memikirkan, maka di suatu dunia, kenyataan itu ada. Dunia mana yang saya maksud? tentu saja dunia maya, belantara internet, realitas virtual atau bagaimanalah khalayak menyebut medium ini.

Nah, apa yang mendasari statemen saya ini? walaupun awalnya hanya terlintas begitu saja, namun setelah dihubung-hubungkan dengan beberapa rasionalisasi dengan acuan teori, sepertinya betul juga.

Kondisinya begini, pernahkah teman-teman membuka google tanpa niat atau sengaja mencari suatu kata kunci (keyword) di mesin pencari tersebut? atau jika memanfaatkan google dengan sengaja, apa yang memotifasi? jawabannya tentu saja mencari situs dengan konten yang dibutuhkan. Disini, kita berperan sebagai khalayak, komunikan, konsumen yang memanfaatkan konten-konten yang tersedia di internet untuk kepentingan kita.

Di sisi lain, ada orang atau kelompok yang berperan sebagai komunikator yang fokus pada kegiatan dakwah, internet dimanfaatkan sebagai medium komunikasi, beragam situs siap dikunjungi, konten-konten dakwah pun sangat banyak tentunya. Namun, sebagai komunikan yang ingin kegiatan dakwahnya sukses, cukupkah membuat situs dan mengisinya dengan konten-konten dakwah? mendapatkan peringkat tertinggi di google untuk kata kunci yang diinginkan?. Jawaban saya tidak!!!.

Seorang konsumen yang tidak memiliki motivasi mengunjungi situs berkonten dakwah sangat sulit untuk berkunjung atau tersesat di situs dakwah. Hal ini dipengaruhi oleh kebebasan memilih dan kesadarannya dalam mengkonsumsi media, sebagaimana teori Uses and Gratification yang dipopulerkan oleh Blumler and Katz.

Olehnya itu saya menganggap bahwa tempat prostitusi dan masjid sebenarnya berdekatan (di dunia internet), bahkan saling bersebelahan, yang memisahkan hanyalah motivasi konsumen atau pengguna media saja. Para audiens (konsumen kontent media online) bebas memilih, apakah ia akan mengunjungi tempat prostitusi dengan kata kunci tertentu atau ke masjid.

Sebuah cerita, sebenarnya pengalaman pribadi. Pada suatu kala, seorang meminta kepada saya link download sebuah ebook bertema islami, lalu saya berikan, dia komplain kepada saya. Pasalnya sederhana, situs web dimana ebook tersebut kuhosting menampilkan iklan dengan gambar seorang wanita seksi untuk menarik perhatian pengunjung. Dia berkomentar; kok ebook-nya disimpan di situs yang "begituan". Sempat kujelaskan bahwa gambar yang tampil tersebut adalah iklan yang ditampilkan secara acak, menggunakan sistem generator, namun sayangnya dia tidak mau mengerti. Dikiranya situs tersebut berbau "prostitusi". hohohoho

Pengalaman ini boleh jadi dasar bahwa situs dakwah dan situs beraroma maksiat tanpa kita sadari sebenarnya bersebelahan, kondisi inilah yang kemudian kuistilahkan tempat prostitusi dan masjid. Hanya persoalan popularitas dan kemudahan akses untuk menggapainya saja yang membedakan. Semakin populer dan semakin mudah kata kunci sebuah situs, maka semakin mudah pula seorang netter menemukan situs tersebut, belum lagi  jika kita mengembangkan jaringan, dimana alamat url (link) situs tertentu tersebar, baik melalui iklan maupun metode lainnya.

Sekarang, jika anda berada di persimpangan jalan, sebenarnya cukup lorong kecil, dimana 1 langkah menentukan tujuan anda. Misalnya kiri adalah tempat prostitusi (kemaksiatan) dan kanan adalah dakwah, mana yang anda pilih?. Hal tersebut sama saja ketika situs google telah terbuka di layar personal computer kita, malah ketika koneksi internet tersambung, kita selalu berhadapan dengan persimpangan demi persimpangan, mau kemana anda?.

Saturday, April 21, 2012

Hidup tak Selalu Manis, Daeng Te’ne !!!

Beberapa hari berlalu, kesal di hati masih mekar. Perkiraanku, kekesalannya hanya sehari itu saja, lepas beban dengan banyak berseloroh di berbagai tempat. Saya cukup tenang dan tetap berpembawaan santai menanggapi banyak keluh kekesalannya, toh besok rutinitas akan menghapus hal-hal buruk, pikirku.

Ternyata tidak! Simpatiku dirongrong oleh ocehan-ocehannya yang bagiku terlalu analitis, sehingga banyak aspek yang dihidden untuk mengambil keputusan, semacam menanggalkan objektifitas akibat deru emosi yang merasuk. Mana mungkin ada konspirasi, pikirku setelah menerima SMS dari Dg. Te’ne saat bersiap dengan kenyataan; apakah kami akan melakukan pesta makan-makan besar atau tidak.

Ini hati !!!
Soal konspirasi ini, sebenarnya masuk akal bagiku. Jelas ada kemungkinan hal tersebut terjadi pada sebuah ajang kompetisi, saya lumayan memahami dunia komunitas blogger, sehingga cukup memberi perhatian dengan hal tersebut, tapi apakah bisa seperti itu? Terjebak dengan pertanyaan ini, saya memutuskan untuk tidak memperdulikan persoalan konspirasi ini lagi.

Dg. Te’ne berkelakar melalui blognya (klik: lingua franca), dia menuliskan refleksinya atas kompetisi yang dia anggap menyakitinya hingga berhari-hari, namun karena ada beberapa makhluk yang berulah misterius di dashboard wordpress-nya, dia menghapus catatan tersebut, tepatnya unpublish. Aih, apa yang dia tuliskan perlu dia sampaikan, tidak mempublikasikan melalui blognya, facebook (klik: Lomba Blog) selalu sedia menampung catatan apa saja.

Di Twitter, dia berkicau. Nyaris tak keruan sampai-sampai ku-RT dengan kicauan yang lebih tidak keruan lagi, ekting jahilku mode on.

Aih, hidup tidak selalu manis, Dg. Te’ne! Kau harus betul-betul menyadari ini. Walaupun saya yakin kau mengetahui perihal ini, tapi bagiku; kau belum mengerti betul, bahwa manisnya hidup saat kekecewaan itu menyayat nurani, ketika suatu cita dibentur kendala, atau ketika cinta tak pernah dibauri oleh apa-apa.

Tabe’ Daeng. Saya sepertinya harus jujur disini, biarlah kusakiti hatimu, tanggung menurutku, kau sudah kepalang hancur dengan kenyataan-kenyataan yang kemarin-kemarin itu. Jadi begini; sederhana saja! Tahukah kau bagaimana orang-orang Makassar memberi nama? Jika ajaran Islam, nama adalah doa, orang-orang Makassar tidak sepernuhnya demikian, nama (pakdaengang) adalah wujud halus dari perangai atau tampilan seseorang (walaupun hanya perangai haluslah yang disebutkan), tidak semata sebagai sebuah doa (asal kata pakdaengang adalah pakdoangang yang berarti doa), setidaknya begitulah yang kupahami.

Pikirlah sendiri Daeng, kenapa si dia menamaimu Te’ne! Refleksikan sendiri, toh hidup kau yang punya. Cuma bagiku, sahabatmu ini, kau terlalu baik dalam hidup ini, terlalu “something”, aih entah bagaimana mengatainya, kau tidak bersih murni (ci’nong), kau tidak baik (baji’), tapi kau ada diantaranya.

Sayang, kau sepertinya belum mengerti banyak, bahwa tabiat sangat berwarna. Jika kau mencintai Makassar, jangan sekaligus dengan-orang-orangnya! Ahhh saya macam orang-orang yang sudah beruban saja berkata seperti ini. Tapi di mataku, kau begitu!

Maafkan kata-kataku Daeng, setahuku orang Makassar tidak pernah sibuk mengeluh, kau akan dicela jika tak habis perkara setetes hingga berhari-hari karena sibuk mengeluh. Begitu keluarga kecilku membimbingku, kesahmu tak boleh tumbuh subur dan menjalar hingga ke orang lain, kau perlu setetes keringat untuk membasuh kesal itu, seperti zam-zam.

Kau sudah tau apa yang ingin kusampaikan? Jika belum, ingat saja tempo hari, berbulan-bulan yang lalu saat kuajak kau ke Galesong sekali lagi, datang bukan sebagai pelancong tapi sebagai Dg. Te’ne.

Sungguh, saya ingin kau tahu Makassar tidak dari buku yang menjadi pijakan imajinasimu untuk melontar bayang-bayang setinggi mungkin, sesenang dan semanis mungkin. Saya ingin mengajakmu mengenal makassar dengan seluruh indramu, memahaminya dengan baik, seburuk apapun kenyataannya.

Kau hidup kepalang manis, Daeng. Saya menebaknya dari sosok hingga perangaimu, entah sebenarnya seperti apa. Disamping itu, kau juga penuh dengan misteri, nyaris sama dengan kisah-kisang sang Karaeng yang kita minati bersama.

Kau bukan orang Makassar, Daeng. Sekalipun kau punya Pakdaengang!

Mungkin lebih tepatnya belum, kukatakan belum sebenarnya hanya untuk memperhalus, takut kau akhirnya tumbang, takut jikalau semangatmu sirna, takut jika sinar matamu terhambur dan karam di laut hanya karena mendengar meriam Anak Makassar berdentum.

Maafkan diriku terlampau lancang begini, Daeng. Perlu kau tahu, kekecewaanku terhadapmu tak bisa ditawar saat sms-mu yang pesimis itu kuterima, kemampuan menulismu anjlok? Apa kau tak ingin menulis lagi, Daeng? Kenapa kau biarkan rasa kesal merubuhkan semangat menulis itu?

Mungkin ini yang terakhir, Daeng. Tak apalah kau mengecewakanku, tulisan inilah obatnya, sekaligus wujud dari kekesalanku atas sakit hati yang tidak bisa kau buang itu, coba ikuti saran orang tuaku; Buang jauh-jauh ke lautan, Nak!. Kesal yang dikeluh itu memalukan, Daeng. Mana mungkin kau menghabiskan hidupmu hanya untuk mengeluh, memenuhi hatimu dengan dendam dan menggunakan kepalamu hanya untuk memikirkan hal yang sudah lewat?

Ingat, Daeng! Kau tak butuh bahu seperti yang kau katakan padaku lewat twitter subuh tadi. Kau butuh dirimu sendiri, sayangnya mungkin “dirimu sendiri” itu sedang tersesat di rimba keluh kesah. Kau pasti sudah tahu bagaimana menemukannya jika begitu: Musnahkan keluh kesah!.

Masalah itu terasa berat untuk dilalui karena kita lupa tersenyum!! | Doc cheng prudjung

Saturday, April 14, 2012

Dari Warung Kopi Hingga ke Blog

Warkop dan ide kreatif

Ini bukan ulasan soal warung kopi (warkop) atau soal kopi dan sekitarnya, ini juga bukan soal blog secara teknis. Ini (catatan) soal pelampiasan hasrat yang dulu dimediasi oleh warkop, namun sekarang beralih kepada blog. Warkop memang selalu punya cerita, namun blog adalah tempat bercerita yang baik, sekalipun tak ada yang mengomentari.

Sejak tahun 2007, awal kedatangan saya di Malang, ngopi adalah aktifitas yang berpengaruh bagi perkembangan diriku, utamanya dalam produksi ide dan pengelolaan kamar-kamar pengetahuan dalam otak melalui diskusi santai disana. Walaupun demikian berpengaruh, saya tidak bergantung pada warung kopi semata, disana hanya ada kata-kata yang melayang, menempel di dinding menjadi saksi bisu, atau tandas bersama secangkir kopi.

Kamarku masih menjadi ruang kontemplatif, kurangnya kebutuhan (walaupun keinginan banyak) membuatku hemat dalam membelanjakan uang jajan yang dikirimkan orang tua, ini membuatku punya kesempatan untuk menghamburkan uang jajan di toko-toko buku, jadilah kamarku perpustakaan yang tidak terurus = banyak teman yang mengambil tanpa mengembalikan bukuku dengan mudah.

Dengan buku-buku itu, saya mendandani penampilan dengan beragam wawasan, di warkoplah panggungku. Beragam tema didiskusikan, dari curhat sampai menyusun strategi aksi terjadi disana. Saya sendiri memanfaatkan forum diskusi cair tersebut untuk menyampaikan kembali apa yang kubaca dengan cara dan sudut pandangku sendiri, dengan begitu 'pelajaran'ku dikamar tidak mengendap di kepala dan akhirnya kadaluarsa karena tidak didaur ulang.

Cara seperti itu, membaca dan mendiskusikan, adalah metode yang terbaik bagiku. Metode belajar seperti ini mulai kuamalkan sejak duduk di kelas 1 SMA. Namun saat itu, saya lebih banyak menyampaikan wawasanku dengan metode debat sehingga otakku dilatih untuk berfikir cepat mengelola 'kamar-kamar' informasi di otak untuk melahirkan suatu argumentasi, pledoi atau apologi sekaligus, toh intinya saya harus mempertahankan apa yang kukatakan.

Beranjak menjadi mahasiswa (di Malang), debat mulai saya tinggalkan dengan kesadaran bahwa berdebat itu mengebiri akal sehat dan orisinilitas ilmu pengetahuan. Saya pun rajin berdiskusi, walaupun kala itu, banyak percikan ide yang menarik saat diskusi yang tidak saya tuliskan sehingga diskusi saat itu seperti ungkapan pepatah; "Tong kosong nyaring bunyinya".

Santai, diskusi & berkembang bersama
Bertahun-tahun tradisi diskusi di warung kopi terjaga, mulailah lahir kata-kata seperti; "Di warung kopi itu sepertinya ide kita lebih gampang keluar". Teman-teman yang sumpek dengan suasana kamar berusaha menggali ide di warung kopi, mereka yang merencanakan membincang suatu perkara dalam jumlah peserta yang sedikit memilih warung kopi. Banyak pendapat, suasana santai di warkop mempengaruhi lahirnya inspirasi. Hingga saat ini, saya setuju dengan argumen ini.

Sayang, beberapa tahun belakangan saya mulai membatasi diri dengan warung kopi, alasannya cukup dramatis, di warkop tak ada lagi yang bisa didiskusikan selain mengulangi diskusi dahulu kala. Regenerasi (hadirnya mahasiswa angkatan baru) mempengaruhinya, setelah menjadi kakak untuk mahasiswa tiga angkatan, suasana diskusi mulai menjadi hambar, bahkan nyaris tak 'berbentuk' diskusi, melainkan belajar. Siapa yang tua dan berwawasan diantara kita menjadi pembicara, sisanya akan bertanya.

Saya sering terjebak dalam kondisi tersebut, seakan-akan menjadi tetuah yang nyaris tak terbantahkan. Jebakan ini pelan-pelan merusak diriku karena pelan-pelan merasa benar dan bebas berargumentasi apa saja, atau paling tidak 'mengemas' diriku dengan 'penampilan tahu banyak hal' di hadapan teman-teman yang culun. Memang ada yang seangkatan, bahkan kadang lebih tua dariku, namun akselerasi belajar kami berbeda.

Penceramah, dan tukang doktrin bukanlah tipeku, saya merasa hidup sebagai pembelajar dan teman berbagi. Saya bukan kamus atau buku panduan, namun hanya buku catatan biasa yang memediasi pikiran-pikiran empunya untuk menyampaikan apa yang difikirkannya. Saya tidak mengalamu ekstase saat menyampaikan ide besar, melainkan ketika melihat keberagaman ide yang dilontarkan dengan cerdas dan mengagetkan.

Warkop nyaris bukan tempat bagi orang sepertiku. Bukan karena warkop dan menunya yang tidak memuaskan, melainkan teman semeja yang kadang tak membawa otak dan mulutnya kesana, hanya telinga dan uang.

Selain warkop, forum diskusi juga mulai gersang. Beberapa organisasi dan komunitas yang kuikuti sepertinya sedang tidur dan terjebak dalam dunia mimpi pada tingkat yang sekian, sehingga mereka merasa bahwa kehidupan yang dijalaninya adalah kenyataan yang sesungguhnya. Ataukah organisasi dan komunitas ini masih tetap bahkan lebih aktif melakukan diskusi tanpa menginformasikannya kepadaku? atau malah mereka sudah bosan dengan diskusi dan mengembangkannya pada tataran aksi?

Yang jelas, saya rindu berdiskusi.




Melanjutkan 'itu' di blog
Untung saja saya punya sedikit kemampuan menulis, disamping itu saya tidak terlalu terbelakang dalam hal penggunaan teknologi inormasi seperti komputer ples internet, sehingga kegiatan blogging menjadi alternatif disamping warkop dan fungsinya sebagai medium yang mempertemukan mulut dengan mulut dan telinga dengan telinga.


Pertanyaannya, apakah menulis di blog itu memiliki kesamaan dengan diskusi?. Pikirku; memang tak sama secara teknis tapi hakikatnya sama, walaupun catatan di blog tak dikomentari seorang pun. Bagiku, sudah sejak dulu, menulis adalah obat! dia adalah teman berbincang saat sendiri. Menulis adalah berbicara dengan diri sendiri dan alam bebas, dengan kegiatan itu, saya bebas memandang suatu objek dari berbagai sudut pandang.

Dengan menulis, paling tidak endapan wawasan baru tak tenggelam ditekan waktu. Percik pemikiran selalu saja punya kesempatan untuk dituliskan dan mengaktualisasikan dirinya sebagai buah pikiran yang eksis, apalagi keristalisasi pemahaman melalui menulis dapat ditinjau jika suatu kala ada wawasan baru dari buku (baik yang baru maupun koleksi lama yang dibaca ulang), dari kilas kenyataan yang ditangkap oleh mataku dan terekam di kepala, atau gelembung ide yang biasanya memunculkan dirinya tanpa dipanggil.


Dari Blog hingga Warkop
(Saya bingung menulis bagian ini)

Aktifitas menulis di blog banyak memberikan pengalaman baru, tulisan di blog mengantarku bertemu banyak orang. Warkop kembali berfungsi sebagai fasilitas yang mempertemukan saya dengan teman-teman baru itu. Tak jarang konten blogku menjadi obrolan di warkop sehingga saya punya kesempatan kembali untuk berbagi wawasan dan menikmati keberagaman sudut pandang dalam melihat suatu objek.

Tak sering memang, namun rasanya sudah cukup!

Selain teman diskusi baru, ada juga beberapa teman yang berkomentar; "Ooo, kamu yah Cheng Prudjung". Setelah berkomentar demikian, dia akan melanjutkannya dengan testimoni terhadap catatan-catatan di blog, seperti bertemu fans rasanya *uhuk*.

Hingga sekarang, kerinduan akan forum dan suasana diskusi kulampiaskan dengan menulis di blog. Tulisan yang teman-teman baca ini hadir karena rasa rindu telah mengkristal. Ada banyak hal dariku yang perlu mulut, telinga dan kepala untuk menikmati kembali ekstase keberagaman.

Monday, March 12, 2012

Apa Kabar Galesong ??? Saya Rindu!

Narsis sebelum pulang ke rumah.
Di waktu luang seperti ini, tak banyak objek bisa jadi bahan pikiran. Google nyaris tak bermanfaat saking labilnya nalarku memproduksi kata. Saat membuka google, kadang saya hanya bisa terdiam sambil salah tingkah, si google seperti sesosok primadona desa yang kecantikannya setara dengan bidadari yang dimitoskan sangat menggairahkan. Dengan kepala yang nyaris kosong, saya dan si google hanya bisa saling bertatap pandang.

Kadang terbersit di kepalaku untuk mengetikkan "Galesong" atau kata kunci yang dekat dengan Galesong, namun halaman yang kutemukan hanya itu dan itu saja. Untung saja ada beberapa tulisan menarik yang pantas dibaca berkali-kali di kabargalesong.org, namun kadang tetap saja tidak mampu melunasi kerinduanku pada kampung Galesong.

Saya bukan seorang anak yang lahir di Galesong, melainkan di kota Makassar saat masih bernama Ujung Pandang. Kedua orang tuaku dan orang tua dari orang tua-orangtuanya orang tua, dan seterusnyalah yang berasal dari Galesong. Hanya saja saya dibesarkan disana, pelan-pelan mentalku dibentuk oleh petuah dan realitas yang kusaksikan langsung di Galesong. Kedua nenek-kakekku (dari ayah dan ibu) bisa dibilang berseberangan. Di satu sisi, nenek-kakek dari ibuku adalah manusia dengan karakter yang halus, penuh dengan pesan agama, di pihak lain nenek-kakek dari bapakku adalah pribadi yang keras, ulet dan lebih realistis.

Dari nenek-kakek yang berpribadi halus itu, saya dituntun dengan petuah dan ragam nasehat, pun semua nasehat itu tersaring oleh agama, sehingga akar budaya Makassar yang menetap di Galesong tidak tertancap begitu dalam padaku, apalagi keluarga dari pihak ibuku adalah aktifis Muhammadiyah tulen, kakekku sendiri adalah tokoh Muhammadiyah yang dikenal luas di Galesong. Di pihak lain, nenek-kakekku dari pihak bapak, mereka mengajariku dengan kerja keras tanpa ampun, kakekku memberika instruksi dengan semena-mena tanpa penjelasan, sehingga kadang saya sendiri merasa bodoh dengan diriku yang terus saja diserang dengan cemoohan dan bentakan keras: "Apa gau antu kau!, Haiiiii' battalaki tallasaka punna kamma anne!", jika tidak berkata seperti itu, mungkin seperti ini: "O kadong'e. Limpuruki bukungku ancinikko anjama!, Kuasai karaeng Alla Ta'ala".

Belum lagi jika cemooh dan bentakan itu dilontarkan di ruang terbuka, pekaragan rumah atau di sawah, sehingga bukan hanya telingaku dan telinganya saja yang menerima kata-kata perih ini. Untuk kakek yang mendidikku dengan kerja keras ini, selalu saja kupupukkan dendam dalam hatiku untuknya, walaupun kadang saya rindu dengan sosoknya dan diam-diam menuruni karakternya. Belum pernah kutemukan sosok besar, kasar, keras dan tidak pandang bulu selain dari kakekku ini, warga kampung dimana dia bermukim pun mengakui keuletan dan kemandiriannya dalam bekerja keras.

Di Galesong, saya dididik dengan dua dunia yang saling bertentangan. Diantara saudaraku, baik kandung maupun sanak famili seperti sepupu, hanya saya yang mengalami didikan dua kutub berlawanan ini. Adik-adikku mulai tidak diperdulikan oleh mereka, sehingga adik-adik yang lucu ini lebih bebas memanfaatkan waktu luang untuk bermain, atau malah tidak datang mengunjungi kedua nenek-kakek dari bapak atau ibuku. Perbedaanku dengan adik-adikku yang lain memang kentara, saya bersikap lebih tenang dibandingkan mereka.

***
Walaupun Galesong dikenal sebagai daerah pesisir dengan pelaut handalnya, bahkan disinilah prajurit kerajaan Gowa-Tallo dididik untuk menjadi kesatria. Saya tidak akrab dengan laut, saking tidak akrabnya saya masih belum mahir berenang, bukan karena tidak paham akan teknik mengapung dilaut, tetapi rasa takut yang lebih besar sehingga saat kakiku tidak berpijak pada benda keras saat berada di dalam air, jantungku berdegup kencang. Kemampuanku bersikap tenang setenang-tenangnya, bahkan dalam kondisi emosional yang tinggi pun, tidak bermanfaat saat saya di laut, atau di kolam yang melebihi batas tinggi badanku.

Betapa memalukan diriku mengaku sebagai Putra Galesong dengan ketakutan pada laut yang luar biasa besarnya. Kemampuanku di ladang/sawah juga tidak seberapa, bahkan nyaris tidak mengerti apa-apa tentang sawah dan pengelolaannya, saya memang tidak pernah tinggal di Gelesong untuk satu musim tanam hingga panen, sehingga untuk mengamati proses para petani menggarap sawahnya, tidak bisa kuikuti dengan baik. Hanya saat libur saja, saya punya kesempatan tinggal di Galesong dalam waktu yang lama sehingga saya bisa tahu apa yang harus kulakukan setiap harinya, kecuali ada perintah dari atasan (kakek dari bapak) untuk menyelesaikan "masalah" di sawah karena perhitungan atau insting petaninya yang menyatakan begitu.

Menggulung tali setelah mattoja' (menanam benih kacang hijau)


Galesong; Sawah dan Para Petaninya di Mario.
Semakin beranjak dewasa, semakin saya mencintai sawah dengan segala suasananya, mulai warna sawah dari hitam, warna lumpur, hijau, kuning, hingga hitam lagi. Suasananya di pagi hari dimana embun mulai diuapkan oleh hangat matahari, siang dengan teriknya dan sore dengan adzan ashar hingga langit menjingga yang pelan-pelan menjadi merah yang merona, lalu bergradasi menjadi ungu dan perlahan redup seiring kumandang adzan magrib.

Sore harilah suasana yang paling kusuka, ketika para wanita menggiring sekawanan itik kembali ke kandang, saat anak-anak tertawa riang dengan sepedanya atau sekedar berkaki telanjang dan saling kejar-kejaran, sekawanan ibu-ibu dan remaja yang membaur membincangkan cerita, dan laki-laki dewasa hingga renta yang berjalan meninggalkan sawah sambil memikul cangkul, kesan kelelahan di wajahnya tersebunyi karena topi petaninya (saraung) belum lepas dari kepala. Sebelum betul-betul meninggalkan sawah, mereka akan singgah di selokan yang lumayan besar (agang je'ne) untuk membersikah lumpur di badan, saling sapa meramaikan suasana sore.

Betapa indahnya Galesong. Di bumi, mata disilaukan oleh atraksi warna sawah yang berubah-ubah mengikuti proses pengolahannya (masa bajak sawah, masa penanaman benih, saat padi dewasa, saat padi menguning, musim panen hingga pembakaran jerami). Sementara di lagit, mata dimanjakan oleh gradasi warna ketika udara/oksigen disusupi sinar matahari yang jumawa di sore hari. Walaupun Mario bukan daerah pesisir, saya diam-diam menikmati sunset, nyaris di setiap hari jika saya berada disana, saat sunset itulah galesong begitu seksi.

Dan Apa Kabar Galesong?
Saya rindu pada sawah, rindu pada para petani dan keluarganya, rindu pada pedagang sayur yang penuh kesabaran mempertahannya kesegaran warna hijau pada berlembar-lembar daun sawi, atau menunggu hingga bentuk dan warna ungu pada terong (bo'dong-bo'dong) sempurna. Saya rindu pada penjual tape singkong (Pabalu poteng) yang melintas di depan rumah dengan aroma tape yang khas. Rindu pada permainan kuda-kudaan menggunakan pelepah daun pisang, permainan ini walaupun nampaknya biasa saja, tapi penuh resiko bagiku. Kakekku akan sangat marah jika pohon pisangnya kurusak hanya untuk membuat kuda-kudaan atau mobil-mobilan dari pohon pisang, masih terang kata-katanya; "Anak tena bua-bua'na, sangging ammanrakiaji apa-apa". Betapa kenangan ini begitu sangat manis.

Apa kabar Galesong?
Masihkan ikan torani (juku tuing-tuing) jadi menu andalan keluarga sederhana? masihkan ia menumbuhkan kebahagiaan saat makan bersama keluarga? Tak lepas dari ingatanku bagaimana ikan torani dan musim mangga begitu indah. Ikan torani adalah steak atau dendeng bagi orang Galesong, sementara mangga bagi mereka layaknya apel atau strawberi bagi orang Amerika. Kedua perpaduan ini, bagiku, tak akan digantikan oleh menu apapun, bahkan coto Makassar sekalipun.

Oia, semangka (mandike) masih menjadi pelepas dahaga kan disana? sungguh saya rindu pada buah itu. Saat masih kanak-kanak, buah inilah yang paling bertanggung jawab jika pakaianku kotor, saat memakannya, airnya akan meleleh hingga ke baju, jika tidak meleleh, kami pasti menggunakan baju untuk membersihkan atau mengeringkan mulut yang basah.

Ada lagi, belalang (katimbang). Di musim panen timur, banyak belalang layak konsumsi (berwarna kuning keemasan atau yang berwarna hijau dengan tubuh lebih panjang, entah nama jenisnya apa, orang tuaku cuma mengajari sacar menikmatisa setelah dibakar di tungku, tak pernah dia jelaskan belalang itu bermerek apa) bertebaran di pucuk-pucuk padi yang siap panen. Saat masih kecil aku biasa mengkonsumsinya, saban sore saat waktu bekerja di sawah agak lowong, bapakku pasti punya kesempatan untuk menangkapnya (mungkin bagi dirinya sekalian hiburan untuk mengenang masa kecilnya), jika bukan bapakku, maka pengembala kerbau (pakolaki tedong) kakekku yang membawa ke rumah. Sekarang, serangga ini semakin terasing, saya ragu apakah adik-adikku pernah menikmati kelezatannya atau menikmati aromanya saja jika tidak berani memakannya.

Betapa indahnya hidup sebagai anak petani, dan betapa rindunya diriku pada Galesong. Galesong bagi anak petani yang merantau sepertiku adalah muara semangat, disanalah kulminasi keindahan hidup kupelajari, dari lekuk realitas paling sempit hingga pada acara pertunjukan.

Walaupun budaya Makassar ala galesong tidak ditanamkan padaku, kehidupan nyata ternyata mengajariku pelan-pelang (sori kelebihan huruf G). Masih kuingat pesan bapakku saat saya masih duduk di bangku sekolah dasar, waktu itu saya tergolong anak yang pengecut (dipengaruhi oleh ibu yang pelan-pelan menakutiku dengan mitologi atau khalayan yang rapuh, bodohnya; saya mempercayainya). "Bilangko; anak Galesonga!", kata ayahku suatu kala.

Berpandu pada kata-kata itu, pelan-pelan keberanianku kupupuk, kerendahan diri ibukulah yang membuatku tetap menjaga sikap agar tak terlalu angkuh dan menunjukkan otot saat bergaul, apalagi keluarga dari ibuku cenderung diplomatis, sehingga saya selalu bersikap hidup tanpa musuh.

Galesong adalah simbol pembentukan karakterku, dalam waktu yang singkat, saya dibentuk dalam dua dunia yang saling berlawan sekaligus, untungnya sampai sekarang saya tidak mengalami split personality, kebingungan dengan jati diri dan penentuan sikap.

Oia, hampir terlupakan (sebenarnya banyak sekali kenangan masa kecil yang telah ranum di benakku, tapi yang tak kuungkapkan disini akan kusampaikan pada lain kesempatan). Jumpai', entah disebut apa dalam bahasa indonesia. Jumpai adalah tumbuhan liar yang kerap dijadikan sayur, rasanya pahit namun pahitnya berbeda dengan sayur pare. Tak banyak yang bisa kudeskripsikan tentang sayuran ini, saya tidak mahir. Pokoknya sayuran inilah semangat hidup sederhana keluarga kami, baik dari bapak maupun ibu. Sayuran ini selalu mengingatkanku pada kondisi ekonomi keluarga yang sering jadi keluhan, bukan hanya karena pahitnya sehingga sayuran ini kusimbolkan demikian, tapi karena tempat dia tumbuh, kondisinya dan "status sosialnya"; tumbuh tanpa disengaja dan tak pernah dianggap eksistensinya, hingga untuk membuat sayur ini, nenekku sepertinya tidak pernah meniatkan untuk membuat sayur demikian, jadi asal-asalan saja.

Saya rindu dengan Galesong! Betapapun setan mempengaruhiku bahwa surga lebih indah dibandingkan Galesong.

Notes: Mohon maaf bagi pembaca yang kesulitan dengan kalimat kutipan dalam bahasa Makassar di atas, terjemahannya tidak dilampirkan (atau mungkin belum) untuk mempertahankan cita rasa emosional yang dikandung dalam kalimat kutipan tersebut. Sekali lagi mohon maaf!

Sunday, January 22, 2012

Ternyata HP Android Belum Kubutuhkan !!!

Setelah lebih dari seminggu menggunakan HP Android (Sony Ericson Xperia X10 Mini Pro), dorongan untuk menyerahkannya ke tangan lain timbul. HP Android berhasil menyenangkanku di awal, namun setelah puncak rasa senang karena memiliki HP keren, Android lagiii, kebingunganku mulai datang bak penyakit musiman. Ahhh saya tidak membutuhkan Android.

Oia, kebingunganku ini bukan karena bingung menggunakan HP Android, walaupun awalnya sih bingung juga secara teknis bagaimana menggunakan dan memaksimalkannya. Kebingunganku tidak seperti cerita temanku bahwa temannya yang punya HP Android bingung bagaimana cara memanfaatkan Android untuk urusan komunikasinya, walhasil: HP Android itu tak ada bedanya dengan hape pada umumnya yang digunakan untuk menelfon dan texting (SMS) atau menggunakan opera mini/mobile untuk berselancar di dunia maya, menginstal aplikasi facebook for mobile untuk facebook-an, dan segalanya.

Kebingunganku bukan karena kebingungan dengan sistem kodifikasi program linux, saya rasa saya bisa mempelajarinya, toh ada teman-teman mahasiswa informatika di sekitarku siap membantu. Bukan pula kebingungan aplikasi apa yang menarik diinstal dari jutaan aplikasi yang tersedia di market android (malas shopping).

Kebingunganku ini tentang rasa ingin memiliki dan pemenuhan kebutuhan. Walaupun telah menginstal berbagai macam aplikasi, mulai dari urusan personalisasi tampilan, catatan pribadi, hiburan (utamanya streaming radio internasional), hobi (utamanya aplikasi blogger di Android), dan berbagai aplikasi pendukung lainnya: GPS, Game, Translator, Ebookdroid, dll. Saya kerap merasa bahwa apakah saya membutuhkan aplikasi tersebut ataukah hanya sekedar menikmati saja. Jika pun saya memang membutuhkan dan memanfaatkan aplikasi tersebut, apakah karena sebenarnya saya butuh ataukah karena aplikasi tersebut terlanjur terinstal di HP dan rajin memanfaatkannya???.

Pilihan yang terakhir itulah yang membuatku kebingungan, parahnya ketika mendewakan sebuah aplikasi yang tidak dibutuhkan tapi sebenarnya kerapkali dimanfaatkan. Jika panjang lebar kujelaskan persoalan piliha kedua itu, kemungkinan pembaca akan capek dan kebingungan sendiri, karena disana ada dua sisi yang akan ditelisik dengan dalam untuk dapat menakar kemurnian nilainya. Apakah tanganku yang memegang HP Android ini, ataukah HP Android ini yang sebenarnya memegang tanganku?.

Hmmmm, sepertinya untuk sementara ini saya hanya membutuhkan hape biasa saja, yaaa mungkin spesifikasi utamanya adalah: terintegrasi program JAVA, jaringan 3G, Dual Simcard. Oia jelas hapenya bisa digunakan untuk nelpon dan SMS-an. Hehehehe

#Siap-siap jual hape :D

Tuesday, January 10, 2012

Open Google; Wujud Perkembangan Teknologi Komunikasi

Pagi tadi, sepulang dari kampus, saya bersama beberapa teman menyempatkan diri menikmati secankir kopi susu di warung kopi depan terminal Landungsari. Disana, beberapa teman sudah mendahului, beberapa batang rokok telah habis, secangkir beberapa cangkir kopi susu pun tandas tersisa ampas dan cerita lepas. Salah satu diantaranya adalah Jaka, temanku yang berkuliah di jurusan psikologi UMM.

Setelah tulisanku “Pengen Punya iPad”, kali ini saya ingin kembali menulis tentang iPad. Perbincangan soal iPad di warung kopi (Warkop) tersebut memberikan pandangan baru bagiku, sangat biasa tapi tak disangka. Perkembangan teknologi komunikasi tidak hanya menawarkan benda dan segala manfaatnya, kebiasaan (behavior) baru pun tentu saja ikut secara diam-diam, dan tanpa disadari akan menjadi suatu kultur.

Tentang Perkembangan Teknologi Komunikasi

Perkembangan Teknologi Komunikasi sejatinya bukan hanya perkembangan materi/bendawi, sebagai teknologi komunikasi, dampak dan konsekuensi tentu saja menjadi satu bagian yang tak terpisahkan. Teknologi komunikasi memungkinkan adanya interaksi antar manusia dalam penggunaannya, teknologi komunikasi seperti jembatan yang menghubungkan antara komunikator dan komunikan, merupakan medium dimana ide antara beberapa orang bertemu dan saling dipertukarkan.

So, penggunaan teknologi komunikasi perlu penelaahan yang lebih detail dibandingkan penggunaan teknologi lainnya (yang tidak termasuk teknologi komunikasi). Banyak sudut pandang yang dikandungnya, karena perilaku manusia tidak lagi dipengaruhi oleh manusia, baik individu yang mempengaruhi komunitas maupun sebaliknya, atau terjadi saling mempengaruhi antara individu dan komunitas.

Dalam ranah kajian teknologi komunikasi, teknologi sebagai tools atau indra diluar tubuh manusia memegang peranan penting dalam pola berperilaku, sangat mudah ditemui contohnya. Apa yang akan saya ceritakan ini adalah salah satu dari berbagai contoh konkret lainnya.

Open Google, Cerita Biasa
Sebenarnya, sekarang ini kami sedang disibukkan oleh ujian akhir semester di kampus. Beberapa teman yang menikmati waktu luang di warkop ini baru saja selesai menjalani rutinitas semester itu. Salah satu diantara mahasiswa berkostum putih hitam adalah Jaka, teman yang kemana-mana selalu bersama iPad-nya.
“iPad-mu mana, Jak?”, tanyaku spontan.
“Ada di tas!”.
“Wah, masa waktu ujian aja bawa iPad. Sok skali kamu!”.
“Nggak, siapatau nanti ujiannya open book kan saya bisa manfaatkan iPad”.
“Oooo, asik juga yah, catatan kuliah disimpan di iPad semua”.
“Nggak gitu, Cheng! Pakai iPad kan bisa buka google”.
“Hahahahahaha, iya juga yah…. Malah lebih bagus!”.

Tawaku bukan hanya sekedar lucu, tapi ada kesadaran yang tersampir disana. Open Google!.

Di UMM (Universitas Muhammadiyah Malang), ujian tulis biasanya bersifat close book dan open book, tergantung kebijaksanaan dosen. Mahasiswa tentunya senang dengan ujian tulis yang bersifat open book, beban menjawab soal bisa semakin mudah, walaupun buku hanya menjadi panduang saja.

Bagiku sendiri, open atau close book tidak berarti apa-apa. Ujian yang bersifat open book biasanya jika soal meminta pendapat atau opini mahasiswa tentang suatu kasus, dan untuk hal ini buku catatan kuliah hanya (sekali lagi) menjadi panduan karena disana biasanya tercatat penjelasan teoritis, tidak lebih dari sekadar definisi atau teori sebagai perangkat analisis kasus. Sementara cara belajarku tidak pernah mematok pada teks yang ditampilkan melalui slide yang biasanya disalin ulang oleh mahasiswa. Saya hanya mencatat kata kunci saja dalam setiap perkuliahan.

Kata kunci itu yang nantinya kukembangkan sendiri, salah satu pengembangannya adalah menggunakan google. Dengan mengetik kata kunci dan mengklik tombol search, berbagai penjelasan tentang kata kunci tersebut tentu saja berjuta-juta. Kekuarangan metodeku ini adalah: kadang pemahamanku tentang materi kuliah berbeda dengan yang disampaikan oleh dosen di depan kelas.

Nah, kembali ke persoalan open google. Saya mencoba membayangkan sendiri, bagaimana jadinya jika saya memiliki iPad dan mengandalkan om google di waktu ujian seperti temanku ini, sebenarnya bukan hanya di waktu ujian, di perkuliahan pun tentu saja akan kupergunakan untuk mengembangkan kata kunci materi kuliah secara langsung. Betapa tidak bergunanya pembelajaran di kelas, betapa tidak bergunanya buku catatan, betapa tidak bergunanya slide presentasi, dan betapa tidak bergunanya universitas.

Kesannya sepele mengganti open book dengan open google, apalagi iPad memungkinkan memanfaatkan google di masa ujian yang bersifat open book, iPad tidak ribet dan aksesnya cepat. Sisa kemampuan membaca secara random yang dibutuhkan untuk mencari kalimat yang pas dan siap dipindahkan ke lembar jawaban. Pengawas ujian yang tidak jeli sepertinya tak akan acuh terhadap hal ini.

Ujian semakin enteng bagi temanku, walaupun ujian bersifat close book, tentu iPad masih tetap membantu. Menunggu pengawas datang ke ruangan ujian sambil “berdiskusi” dengan om google adalah kegiatan cerdas untuk menghadapi ujian. Akhirnya, tak perlu takut dengan ujian jika anda memiliki iPad, sisa mengingat materi mata kuliah dan mengakses google, mencari penjelasa-penjelasan tentang kata kunci tersebut sebelum memasuki ruangan ujian. Hitung-hitung untuk pamer gadget juga, hehehehe 

Nyontek ??? Gak jaman lagi gan !!! hahahahaha | Sumber: nanopertapan.blogspot.com

Akan tetapi . . .
Namun, sebagai teknologi komunikasi, apakah demikian cara memperlakukan gadget (perkakas) atau teknologi sehingga maksud berkembangnya teknologi untuk membantu manusia terwujud?. Sisi lainnya, bukankah perilaku mengandalkan teknologi komunikasi untuk berbagai hal yang bisa kita lakukan dengan mudah (tanpa bantuan teknologi), adalah perbuatan membodohi diri kita sendiri? Dalam tradisi akademis, otak kita berpindah secara pelan-pelan dari kepala ke gadget.

Parahnya jika indra kita yang berpindah secara tidak sadar. Sehingga panasnya api dirasakan bukan lagi ketika dia menyentuh tangan, tapi ketika api membakar gadget kita.

Hahahahaha, kehidupan makin lucu saja! Bukankan Malaikat dan Setan harus bersujud kepada manusia? Sementara manusia harus bersujud di hadapan teknologi komunikasi, padahal mereka adalah ciptaan kita. Kalaupun manusia adalah tuhan, pasti kita adalah tuhan yang bodoh!

Friday, December 30, 2011

Pengen Punya iPad !!!

Sejak semalam, saya mulai bercita-cita memiliki iPad, walaupun sebelumnya saya memandang sebelah mata gadget yang ikut mempopulerkan nana Steve Jobs (CEO Aple yang pertama kali memperkenalkan iPad). Sebelumnya, iPad kuanggap teknologi digital baru yang belum diperlukan oleh masyarakat luas, mahasiswa sepertiku belum memenuhi kriteria untuk masuk daftar konsumen iPad.

iPad yang kini hadir dalam dua generasi menggoda minatku, ceritanya kurang lebih seperti ini: Tadi malam saya menemui beberapa teman yang sedang menikmati suasana warung kopi Garasi. Salah seorang teman (Jaka) sedang asik dengan barang baru yang mengaburkan mataku. Karena dia duduk sambil menundukkan kepala, saya ikut menundukkan kepala untuk memeriksa wajahnya, apakah dia benar-benar Jaka?.

Dialah yang pertama memperkenalkan iPad kepadaku, gadget imut yang manis, sangat sensitif dan dalam (entah layarnya memiliki berapa bit warna). Saya mengambil posisi duduk tepat disebelahnya kemudian memaksanya meminjamkan gadget itu. Ratusan pertanyaan terlontar bagaimana menggunakan dan menikmatinya.

Ketika dalam genggamanku, beberapa kali tampilan layar yang landscape berubah menjadi portrait tanpa kusengaja, saya harus memutar-mutar layarnya agar tampilan kembali ke mode landscape seperti yang kuinginkan, walaupun memang ada aplikasi yang harus dijalankan dengan mode portrait. Jaka kebingungan melihat tingkahku memutar-mutar layarnya, hahahahaha.

Kugesekkan jariku dengan lembut di atas permukaan layarnya yang halus, secara otomatis gambar-gambar yang merupakan ikon aplikasi dalam layar tersebut bergerak, berpindah, bertukar tempat dengan ikon aplikasi yang sebenarnya dipanggil oleh gesekan jariku. Saya menikmati gesekan demi gesekan di atas layar kaca yang halus itu, tanganku terasa (nyaris) tidak menyentuh apa-apa, seperti membuat gerakan menggesek sebagai isyarat saja, dan dengan pintar para ikon aplikasi ini bergerak sesuai isyarat jariku.

marilyn monroe and ipad
Marilyn Monroe dan iPad


Lelucon Lima Jari
Teman-teman pasti tidak asing lagi dengan istilah mengetik dengan sepuluh jari. Istilah tersebut kian usang oleh berkembangnya teknologi yang memfasilitasi dunia tulis menulis. Mengetik dengan sepuluh jari menandakan zaman kerja keras, kedua tangan diletakkan di atas keyboard dan siap untuk menekan tuts-tutsnya, sementara pandangan mata terfokus ke layar monitor menyaksikan tuts apa saja yang ditik oleh kesepuluh jari itu.

Gaya mengetik semakin maju, saya sudah merasakannya saat iPad milik Jaka itu berada di tanganku. Saya tertawa kecil sambil menggeleng memuju kecanggihan iPad serta kreatifitas Steve Jobs dalam merancang gadget digital yang sangat manja. Bayangkan saja pemirsa, saat tanga kiri anda memegang gadget ini, sementara lima jari di tangan kanan anda sibuk menari di keyboard screen iPad, dan pandangan anda tak perlu lagi terganggu karena harus bolak balik memandang monitor dan keyboard.

Ahhhhh, sepulang dari Garasi, kuhampiri teman di kontrakan dan mengatakan padanya bahwa saya pengen punya iPad, temanku hanya tertawa. Saat dia sibuk mengetik, merangkai kata untuk update status di facebook, kusindir dia: Aduhhhhh skarang tidak jaman lagi mengetik dengan sepuluh jari dinda. LIMA JARI donggg !!!!.

Kami terbahak-bahak dan pelan-pelan kembali ke dunia nyata!.

Semuanya adalah Sensasi
Semalaman, sentuhan-sentuhanku pada layar iPad tak bisa kulupakan, entah apakah si iPad juga tak bisa melupakan sentuhanku atau sebaliknya. Perasaan senang saat memangku iPad dengan kedua tanganku, membukanya, mengayunkannya, memutar layarnya, menaksir berapa beratnya... ouhhhhhhh sensasi itu indah sekali. Belum lagi ketika kubuka Safari dan mengetikkan alamat blogku disana, aku hampir berjingkrak sambil berteriak karena kegirangan melihat blogku dibuka dan tampil di layar iPad yang memukau. Swinggggg swingggg, #terbanggggggggggggg!

Ouh dunia, ouhhh teknologi, ouhhhh perkakas digital yang kian tahun kian memanjakan perasaan, merangsang titik-titik sensasi dalam diri hingga rasanya ada yang berpendar berpendar seperti permukaan laut yang berlinang cahaya. Sejenak kesadaranku hampir hilang didorong keinginan untuk memiliki iPad, tujuanku hanya satu yakni untuk memaksimalkan kegiatan menulis dan update blog.

Belakangan baru kusadari bahwa ada sekitar 60.000 aplikasi yang available, menunggu para pengguna iPad memaksimalkannya, sementara saya hanya memimpikan iPad untuk kegiatan menulis? Hanya 1 aplikasi yang ingin kupenuhi diantara 60.000 aplikasi digital yang tersedia. Ahhhh saya mulai gila, sensasi sudah mulai menjadi monster berbusana cantik, mirip Camilla belle dalam gaun latin yang indah, atau seperty Mary Elizabeth Winstead dalam busana sporty sambil tersenyum dengan matanya.

Benarkah saya benar-benar menginginkan iPad??? Jawabannya tentu saja YA saya benar-benar menginginkannya, akan tetapi saat pulang dari menyaksikan konser Kirsten Dunts dan bertemu dengan seorang yang misterius, berambut keriting dan berkulit hitam dan penuh senyum keramahan (mungkin dia adalah Morgan Freeman) bertanya kepadaku, “APAKAH KAU BENAR-BENAR MEMBUTUHKANNYA???”, saya terperanjat dan mulai berfikir lebih jernih.

Wednesday, December 28, 2011

Teater dan Politik adalah Seni (?)

Suatu sore, seorang teman tampak sedang bersemangat mendiskusikan teater. Diskusi mereka semakin luas dan akhirnya menyerempet ke dunia politik. Walaupun diskusi itu agak kabur, tapi alur yang dimulai dengan ocehan soal teater hingga politik tentu saja tetap saling berkaitan. Tidak jarang panggung teater menjadi media penyampai keresahan “rakyat” atas suatu realias politik. Teater merupakan dunia dimana kehidupan direfleksikan dan disimulasikan dengan rangkaian simbol dalam menyampaikan “teriakan reflektifnya”.

Bangsa yang demokratis harus punya semangat membangun dunia teater yang merdeka, hidup dan memiliki keterlibatan atau posisi strategis dalam kehidupan kita, salah satunya sebagai media berpolitik. Dapat disaksikan bagaimana jalanan dijadikan panggung dan tembok atau pagar besi (dan pagar betis) menjadi penonton dalam suatu pertunjukan teatrikal oleh para demonstran, aksi teatrikal hingga saat ini masih menjadi strategi yang pas untuk menyuarakan keresahan pemerhati atas kondisi bangsa.

Setidaknya demikian erat jalinan kasih antara dunia teater atau dunia seni (secara umum) dalam realitas politik. Sayangnya, banyak simbol yang tidak berhasil diterjemahkan oleh “target man” dalam teater yang dipertunjukkan, alasannya banyak yang menghakimi bahwa pemerintah buta dan tuli bahkan mati rasa, kecuali pemeran teater adalah rupiah barulah mereka peduli.

Kembali kepada dua teman yang tetap asik berdiskusi sembari diselingi dengan tegukan segelas kopi. Saya tertarik juga dengan diskusi itu ketika salah satunya mengucapkan bahwa politik itu seni. Politik menuntut permainan peran ketika dituntut oleh kondisi tertentu, dunia politik penuh ackting dan kebijaksanaan pribadi. Politik itu seni, katanya sekali lagi, seni pengambilan keputusan strategis untuk menanggapi suatu kondisi tertentu termasuk memainkan opini publik, misalkan dalam satu ronde permainan catur, politik adalah segala usaha mematikan lawan (merebut kekuasaan) sekaligus mempertahankan kekuasaan, setiap keputusan memindahkan bidak adalah proses kesenian.

Perlu diketahui bahwa kedua teman ini adalah penggemar catur, walaupun ada yang masih amatiran. Namun mereka berdua jelas berbeda dalam hal minat, teman yang bernama Sandro (Alexandro) memiliki minat dalam dunia kesenian khususnya teater, sementara Brek (Brekele) memiliki minat dan kecakapan di dunia politik. Saya sendiri, selaku penonton atas pentas teater yang mereka mainkan, hanyalah babu kapitalisme yang sudah puas memperhatikan diskusi mereka berdua sambil menikmati sebatang Sampoerna.

Menanggapi diskusi mereka berdua, teater dan politik merupakan saudara kembar, hanya karakteristik saja yang membedakan, misalnya dalam dunia teater sang artis mendalami peran dan makna yang dimainkannya, agar penonton menemukan makna (semangat) atas refleksi simbolik tersebut.

Sementara politik adalah permainan peran dimana pelakunya mempermainkan peran untuk mempengaruhi bahkan membentuk suatu citra real penontonnya. Kegiatan politik (praktis) merupakan prosesi menghipnosi penonton agar tepuk tangan, senyum, tawa, ya atau tidak dapat diputuskan oleh sang pemeran.

Oia, dalam dunia teater, segala laku aktor adalah usaha menghibur para penonton dengan memaksimalkan kemampuannya merepresentasika ide sutradara menjadi gerak interpretatif. Sementara dalam dunia politik, sang pemeran berusaha dengan sekuat tenaga memainkan segala bentuk citra agar dia dan sang sutradara merasa terhibur dan puas atas respon audiens yang telah dihipnotisnya.

Pikiran di atas membuatku mematung, seorang teman lain menyapa dengan komentar mengapa saya tampak lemas, tidak bersemangat dan seperti kebingungan membayar hutang trilyunan sementara dapur di rumah sendiri tidak pernah berasap.

“Saya bingung!”, Kataku.

“Bingung kenapa?”. Taya teman dengan empati.

“Bayangkan jika politik benar-benar seni, bayangkan jika politik adalah saudara teater! Bukankah selama ini kita hidup dalam dunia yang palsu? Entah sebagai penonton atau pemeran atau bahkan sutradara. Tidak mungkin dunia yang palsu memiliki Negara makmur, damai, dan sentosa. Semua yang palsu adalah rongsokan!”. Kataku dalam hati, temanku ikut bingung memperhatikan kebingunganku.

Tuesday, December 27, 2011

Meninggikan Konsep di atas Ketua Umum; Menuju Munas IKAMI Sulsel

munas ikami sulsel
Musyawarah Nasional (Munas) IKAMI Sulsel semakin dekat di depan mata, forum permusyawaratan yang biasanya bermetamorfosa menjadi forum silaturahmi tahunan antar perantau di berbagai daerah di Indonesia, menuntut perhatian yang besar. Munas adalah kegiatan sacral yang menentukan gerak organisasi selama dua tahun ke depan.

Dalam ajang Munas ini, setiap cabang yang menjadi peserta dan pemilik hak musyawarah tentu akan berhadapan dengan tiga agenda besar, yakni mendengarkan Laporan Pertanggung Jawaban (LPJ) dan meminta klarifikasi atas kinerja Pengurus Besar (PB) IKAMI Sulsel, merancang “perangkat lunak” organisasi seperti AD/ART dan konsep pelaksanaan ata tata kelola organisasi yang mendasar serta rekomendasi, dan tentu saja memilih punggawa yang akan bertanggung jawab atas keputusan-keputusan Munas.

Tentu saja kita mengetahui bahwa ketiganya memiliki peran yang penting dalam menentukan berlangsungnya organisasi professional yang modern. LPJ dibutuhkan guna meminta pertanggung jawaban dari para pengurus atas seluruh gerak-geriknya atas nama IKAMI Sulsel berdasarkan pada keputusan Munas sebelumnya.

Rumusan “Perangkat lunak” organisasi menjadi bagian paling krusial dalam kegiatan permusyawaratan, “Perangkat lunak” inilah yang menuntun para aktivis IKAMI Sulsel dalam menghidupkan organisasi, tanpa rumusan ini, IKAMI Sulsel bak petualang yang menjelajahi rimba tanpa bantuan kompas. Dan agenda terakhir adalah pemilihan Ketua Umum.

Yang terakhir ini sangat sulit dijelaskan, sebenarnya Ketua Umum dalam organisasi modern seperti IKAMI Sulsel hanya bertindak sebagai pengarah, mengakumuliasi segala ide dan kepentingan antar kelompok (cabang misalnya) dan memanfaatkannya utuk keuntungan bersama dan kemajuan organisasi. Persoalan penentuan kebijakan organisasi, Ketua Umum tidak mandiri dan bebas bertindak semena-mena, kebijakan harus berlandaskan pada rumusan konsep pengelolaan organisasi yang telah digodok dan disepakati sebagai bersama. Memang tak salah jika mensejajarkan Ketua Umum dengan pelayan dalam hal kerja pelayanannya.

Namun walaupun begitu, agenda pemilihan Ketua Umum seperti menjadi puncak dari perayaan Munas, kesibukan menghadapi Munas di Cabang jangan sampai adalah kegiatan membaca dan membuat peluang untuk menduduki jabatan tertinggi di PB IKAMI Sulsel. Sementara perumusan konsep gerakan organisasi ditelantarkan, parahnya lagi jika panitia pelaksana juga (larut) lebih memfokuskan agenda pencalonan dan pemilihan Ketua Umum, dibandingkan perumusan “Perangkat lunak” organisasi. IKAMI Sulsel yang kita cintai ini hanya jolloro yang terombang-ambing di tengah samudra. Hanya jolloro (bahkan mungkin lepa-lepa), bukan kapal atau pinisi !!!.

Musyawarah Nasiona IKAMI Sulsel semakin dekat dengan ambang mata. Setiap gerakan mata untuk membaca catatan ini mengantarkan kita semakin dekat ke ajang sakral itu. Mungkin rindu saling bertatap di forum Munas semakin membuncah, atau rasa penasaran sudah kelewat besar untuk mengetahui siapa sosok dibalik eksistensi dan cemerlangnya IKAMI Sulsel di cabang pada suatu daerah tertentu. Namun semoga kita tetap ingat bahwa Munas adalah satu langkah menuju semesta kesuksesan, langkah lainnya adalah kerja keras.

Mari meninggikan konsep di atas Ketua Umum !!!

ikami sulsel adalah rumah

Munas dan Perjamuan Keluarga Besar
Pernahkah terbayang di benak pembaca bahwa IKAMI Sulsel adalah sebuah keluarga? Pernahkah terbersit di hayalan bahwa Munas IKAMI Sulsel, adalah perjamuan keluarga besar yang anggotanya duduk mengelilingi meja bundar dan membicarakan kegiatan liburan di akhir pekan tanpa memusingkan siapa yang harus menjadi sopir?

Dalam kondisi di atas, bukankah pembicaraan soal rencana liburan menjadi topik utama? Misalnya menentukan tujuan kemana kita akan berlibur, bagaimana konsep kegiatan agar liburan jadi menyenangkan, atau tentang apa saja yang perlu disediakan, dll. Sementara soal pemimpin rombongan keluarga atau sopir ditentukan dengan bebas, tanpa banyak embel-embel dan saling berebut, sehingga forum mulai terpecah karena dukungan yang berbeda.

Marilah kita saling menjamu dan menjadi anggota keluarga yang baik dan cerdas, menghindari pertengkaran karena dipecah oleh keberpihakan anggota keluarga terhadap seorang kandidat. Biarkanlah kandidat hidup dalam dunia politiknya sendiri, merayu kita dengan kata-kata manis, sementara cabang-cabang (sebagai anggota keluarga) fokus pada pengembangan konsep organisasi.

Toh, kita semua sudah mulai besar sebagai sebuah keluarga dan semakin matang dalam menentukan pilihan.

Sunday, November 27, 2011

1 Muharram, Tahun Baru yang Sesuatu Banget !!!

Selamat tahun Baru 1 Muharram 1433 H
Selamat tahun Baru 1 Muharram 1433 H
Sebagaimana perkiraanku sebelumnya, tak ada keramaian yang kutemukan di momen tahun baru Islam, 1 Muharram yang menandakan masuknya penanggalan Hijriah dengan tahun yang baru. 1 Muharram dalam Islam sama dengan 1 Januasi dalam penanggalan Masehi. Sama-sama tahun baru. Namun jangan anggap bahwa tahun baru selalu dirayakan meriah, 1 Muharram adalah tahun baru yang menyedihkan, meminjam istilah Syahrini, sesuatu banget, susah sekali dijelaskan. Entah 1 Muharram ini menyedihkan atau tragis atau memang cara melaluinya seperti ini, tak ada ungkapan menarik bagi penulis selain menanggapi 1 Muharram ini sebagai tahun baru yang sesuatu banget.

Silahkan dinalar sendiri, tak pakai nalar pun tak apa, tahun baru 1 Januari sangat meriah, setiap orang sepertinya memiliki rangkaian agenda memasukinya, para alim ulama memasukinya dengan duduk di masjid menyambut tahun baru dah menyampaiakn doa tahun baru, penulis lupa bagaimana bunyi doa tahun baru itu. Para politikus membuat acara refleksi, evaluasi perjalanan bangsa selama setahun, istilah rapor merah pemerintahan yang berlangsung akan jadi marak, di media-media tentunya akan menjadikan evaluasi perjalanan pemerintahan sebagai topik yang menjual.

Anak-anak muda merencanakan menghiasi langit malam dengan kembang api, melukis langit pergantian tahun yang sepertinya sakral. Setelah kembang api, mereka saling bersalaman, mungkin anak muda yang bertahun baru bersama pasangan muda masing-masing akan saling berpelukan sembari mengucapkan selamat tahun baru, semoga tahun ini kita tetap bersama, ahahayyyyy.

Kurang lebih begitulah tahun baru 1 Januari berlangsung tiap tahunnya, dinamis, mekanis dan tidak mencirikan manusia sebagai makhluk yang progresif, berbeda dengan 1 Muharram, semangat menyongsong tahun baru sangat lesu, jelas saja jika penulis bertanya, kok bisa?. Bukankah Indonesia adalah negara penganut agama Islam terbesar di dunia?.

Mari kita bandingkan lagi dengan perayaan tahun baru Cina, angpao menjadi semangat dan setiap orang mulai menuliskan Gongsifacao (entah ejaan yang tepatnya bagaimana). Perayaannya meriah, diramaikan dengan pertunjukan-pertunjukan kesenian ala kebudayaan mereka, Barongsai menjadi ciri yang utama, warna merah sangat mudah didapati dimana-mana, bukan hanya di perempatan jalan pasa waktu tertentu. Pertanyaanya, apakah kaum muslim di Indonesia yang mayoritas ini tidak bersemangat lagi dengan agamanya? lesu dan sesuatu banget.

Penulis sendiri tidak melakukan suatu ritus macam-macam melalui pergantian tahun ini, seorang teman yang tak pernah bertatap muka, mengajak untuk menunaikan ibadah sholat malam 1 suro tepat jam 12 nanti, aku berkata bahwa; tidak mau, shalat 5 waktu saja malas rasanya, apalagi 1 suroan. Teman ini mencoba lagi, katanya bahwa 1 suro dilaksanakan sekali dalam setahun. Aku menanggapinya lesu, kan cuma sunnah!. Kupikir, entah apa yang melandasi sholat 1 suro itu dilaksanakan pada jam 12 malam, pergantian tahun? jika jawabannya begitu, sepertinya penulis dapat sedikit mengelak, bukankah dalam penanggalan Hijriah, tolak ukur pergantian hari adalah waktu Magrib?.

Teman-teman pembaca mungkin kesal, penulis mengkritisi kesenyapan tahun baru Hijriah sementara penulis sendiri tak melakukan apa-apa di momen tahun bari 1 Muharram ini. Jelas begitu bukan?. penulis pun berfikir demikian, namun merayakan tahun baru bukan kegemaranku, semuanya sama saja apalagi momen malam meinggu seperti ini, taka ada yang membedakan, kecuali semangat baru yang harus membara untuk menghadapi hari-hari baru yang tak jelas di hari esok, ketika 1 malam telah terlewati.

Sehari ini hanya kuhabiskan untuk bertemu, sebenarnya memenuhi janjian untuk bertemu seorang kawan untuk membahas ceritera Kerajaan-kerajaan Makassar, belakangan ini tema ini gemar di mulutku, setelah beberapa jam berdiskusi berdua, kami beralih ke toko buku, penulis memang berniat berbelanja buku, karena tertarik dengan buku berjudul "Sejarah Perang Makassar 1699; Prahara benteng Somba Opu" karya S.M Noor, dan sebuah buku lagi yang berjudul "Lumpur" sebuah novel tetralogi yang ditulis oleh seorang teman yang bermukin di Jogja hingga saat ini, namanya Yazid Passandre. Hanya itu, selebihnya adalah duduk di depan laptop dan menikmati belantara dunia maya.

1 Muharram berlalu tanpa keriuhan, semoga alasannya bukan karena ummat Islam tidak perhatian lagi pada identitas agamanya, akan tetapi (kurang lebih) sama denganku, yaitu menganggap bahwa setiap hari adalah sama saja, setiap hari adalah hari besar yang harus dilalui dengan semangat membara, tidak mesti dengan leha-leha menjalani 1 Muharram, asal kita mengerti bahwa tanggal merah di hari sabtu ini karena tahun baru Hijriah, tanggal 1 Muharram. Selamat Tahun Baru !!!

Thursday, November 24, 2011

Harga Beras Makin Mahal, Nasib!!!

Ketika harga beras mahal
Ketika harga beras mahal.
Jika mulut anda terbiasa mengkonsumsi beras seharga Rp 6000 per kilo, maka jelas saja anda akan kaget saat dipaksa merogoh kocek, mengeluarkan Rp 8000 untuk sekilo beras. Apalagi bagi anda yang bertani, beras mungkin bukanlah suatu barang asing, bahkan kehidupan anda di dunia sebagai petani disimbolkan dengan beras. Namun seakrab dan seterbiasa apapun anda dengan beras, mungkin anda wahai para petani akan kebingungan juga dengan harganya, itu jika suatu saat anda dipaksa menjadi konsumen.

Saya adalah anak seorang petani ulet, sawah bapak saya di Kecamatan Galesong boleh dibilang lebih dari cukup untuk kebutuhan sehari-hari keluarga kami, bahkan sang bapak menjual beras secara eceran. Sebagaimana cara hidup para petani, kehidupan fisik kami ditopang oleh sawah di galesong itu. Saya tidak dapat menikmati nasi dari hasil lading sendiri, sejak 2007 saya memulai studi di Malang. Memang setiap kali mudik dan balik ke Malang, saya dapat menikmati beras yang bercampur keringat orang tua dan keringat sendiri.

Ini mungkin jadi suatu cerita unik tersendiri bagiku. Jika teman-teman asal Sulawesi yang datang kembali ke Malang setelah mudik, membawa kue-kue kering atau oleh-oleh khas daerah bahkan khas keluarga mungkin, maka berbeda dengan saya, walaupun ada juga kue kering yang ikut berlayar bersamaku ke pulau jawa, tapi beras adalah oleh-oleh utama yang dengan susah payah harus kuurus sendiri transportasinya, sejak naik kapal dari pelabuhan Soekarno Hatta di Makassar hingga aman dan siap dikonsumsi di Malang.

Jumlah beras yang kubawa setiap kali kembali ke Malang tentu saja beragam, disesuaikan dengan kondisi, pengaruh utamanya adalah kondisi fisik, jika merasa mampu, saya bisa berbekal 50 liter beras ke Malang, namun jika tidak, setengahnya pun jadi. Kondisi lainnya adalah teman, jika ada teman yang seperjalanan denganku hingga ke Malang, saya pastinya membawa lebih banyak, karena mau tidak mau si teman ini pasti membantu, apalagi mereka yang terhitung sebagai juniorku di Malang.

Kebiasaan berbekal beras ini sempat dikomentari oleh teman di Malang, kenapa beras itu tidak dijual saja dan uangnya yang dibawa ke Malang asal lebih mudah?, jawabanku sederhana, menikmati beras hasil jerih payah sendiri di perantauan punya kekuatan sendiri, walaupun ini sugesti, saya tetap mempertahankannya karena rasa di setiap bulir jelas saja berbeda, jika anda yang terbiasa kepanasan di sawah dan penuh kesyukuran menikmati hasil sawah sendiri, rasa di setiap bulir itu bisa anda temukan. Jawaban lainnya tentu saja soal harga, namun yang terakhir ini tidak terlalu berpengaruh, karena selama persediaan beras bekal belum habis, saya tidak pernah pusing memikirkan berapa budget yang habis untuk belanja beras selama sebulan.

Nah, ketika beras bekal habis, saya selalu mengalami shock atau post power syndrome untuk instilah organisasionalnya, saya pasti merasa kaget dengan harga beras yang kutemui di warung saat pertamakali berbelanja setelah persediaan beras habis. Ini bukanlah sebuah masalah, sepertinya begitu, karena mereka yang telah terbiasa dengan lonjakan harga beras yang tak mengenal jadwal, tidak lagi memusingkan lonjakan, alasannya karena sudah terbiasa, tentu saja. Siapa yang mau duduk diam memikirkan, merefleksikan kebiasaan mereka dan mempertanyakan beberapa hal yang setidaknya aneh dalam proses terbiasa itu.

Kebiasaan membuat kita acuh, mangkir dari godaan keindahan saat memperhatikan detail kehidupan, bukan sok pusing atau pelit sehingga detail terkecil pun menjadi masalah, akan tetapi dengan memikirkan kehidupan yang biasa ini, dapat mengajar kita agar lebih empati, lebih berisi, dan lebih kuat. Terlalu idealis memang, namun begitulah seharusnya orang-orang yang hidup dengan keterbatasan ekonomi mencari keindahan hidup, hadir dalam setiap perenungan terhadap fenomena, membangun dialog intrapersonal dan melahirkan sebuah semangat baru, salah satunya tentu saja empati.

Kalau boleh, ingin kuutarakan sebuah fikiran yang terus saja datang setiap kali shock dengan harga beras kualami, ingin kuajak para mentri dan tentu saja presiden untuk jalan-jalan ke pasar sekedar bertanya harga, hidup seminggu bersamaku dengan keterbatasan ekonomi yang tidak terlalu mencekik seperti ini, mungkin mereka akan kewalahan, hidup manja dengan pembantu membuat datang ke pasar untuk bertanya harga apalagi berbelanja menjadikan perasaan hidup susah cepat mejalari mereka. Aku ingin para mentri dan presiden yang manja ini diberikan kesempatan hidup dengan penghasilan Rp 25.000 per hari selama seminggu saja, apakah mereka mampu? Bebannya adalah istri/suami dan 5 anak sajalah.

Atau berikan kepada mereka uang sebesar 3 Juta, untuk hidup selama sebulan dengan beban seperti di atas, bagaimanakah tanggapan mereka?. Bagiku, tak ada tanggapan karena tidak mungkin mereka akan hidup demikian, mereka akan berkelit semampu mereka, dan toh pasti mereka akan lolos tentunya. Tak ada yang mau hidup susah dengan dibatasi oleh ketersediaan uang untuk memenuhi rasa ingin dalam hidup.

Dari beras kok nyambungnya ke soal mentri dan presiden????

Saya punya satu usul, buat siapa saja yang akan jadi presiden, lowongkan seminggu buat para mentri untuk hidup terbatas, jauh dari pembantu dan kartu kredit mereka, ini buat usaha membangun empati dalam diri mereka, kiranya empati terhadap rakyat ekonomi terbatas dapat menjadi spirit atas kerja-kerja mereka.

Pernah di suatu musim panen/petik kajang hijau, di sawah aku hanya berdua dengan ibuku, membungkuk dan dengan tekun memetik kacang yang telah hitam kulitnya. “Yang cocok jadi presiden itu petani male’(panggilan ibu untuk orang Makassar, Ammale’)”. Dia menyetujui, komentarnya agak lucu juga, bagus juga kalau presiden itu petani, nak! Kan bisa kasi makan orang-orang. Aku hanya tersenyum menanggapinya dan membahas soal ini panjang lebar. Sekarang, aku pasti berfikir bahwa petani tak akan mungkin mau jadi presiden, memperhatikan kakekku yang sudah pusing dan lebih sering pitam dibandingkan tersenyum (tertawa juga sering, tapi bukan tawa bahagia) gara-gara memikirkan sawahnya di jaman yang tak tentu musim, mana musim barat (hujan) mana musim timur (kemarau).

Akh sudahlah, kembali ke persoalan harga beras yang tak menggembirakan para pembelinya, inti tulisan ini, kening saya berkerut dan wajah saya memelas mengetahui harga beras yang tak jelas kapan turunnya, atau naik secara beriringan dengan gaji para buruh atau para pegawai, dan tentu saja uang saku mahasiswa rantau. Hahahahahaha.

Sunday, November 20, 2011

Cakrawala IKAMI Sulsel Cabang Malang

 Ikami sulsel cabang Malang
Suasana pertikaian Ikami sulsel cabang Malang | perang buta-buta
Kulihat di mata mereka sikap curiga yang kuat, pandangan berpasang bola mata itu sibuk menelusuri gerak-gerik lawan, satu sama lainnya. Memang ada senyum, ada yang tertawa, tapi itu bukan senyum dan tawa kedamaian, satu kelompok meremehkan kelompok lainnya, saling memperlihatkan taring dan urat leher. Pertengkaran besar sebentar lagi terjadi.

Dua kelompok ini awalnya mudah diidentifikasi, kelompok pertama mengenakan baju putih, dan sisanya berkaos hitam. Keduanya masih menahan langkah untuk saling mendekat hingga sesuatu memaksa mereka untuk berbaur, tentu untuk sementara waktu saja. Ketika aturan demi aturan diterapkan, kedua kelompok makin susah dikenali, siapa yang berpihak siapa. Karena ada beberapa orang yang berkaos hitam bergabung dengan manusia berwajah garang, beberapa diantara mereka berwujud lain, badan menyerupai raksasa, rambut seperti kawat berduri yang dililitkan di kepala, ada juga yang ukuran kepalanya memang besar sehingga mengerikan untuk dipandang.

Di kelompok lainnya, para manusia kerdil dengan ekspresi malu-malu tapi ternyata beringas, juga telah dibauri oleh beberapa orang yang berkaos putih, mereka hanya diam, menaksir seberapa parah perseteruan akan terjadi. Tinggal menunggu waktu.

Untung saja masih ada yang menengahi mereka, namun sebenarnya si penengah ini tidak dihiraukan, mereka tetap menuntut untuk saling berseteru, dari kelompok yang akan siap menyerang dari sebelah selatan mulai berteriak; “Bahasa vulgarmi saja!”. Sementara di sisi lain hanya berjaga-jaga, sisanya sibuk mempersiapkan SENJATA!!!.

“Serbuuuuu !!!!!”.

Seketika, dunia semrawut, mereka yang tak ikut dalam perseteruan hanya berdiri, tersenyum, tertawa bahkan mulai ikut memanasi, memberika saran siapa yang harus dihajar habis-habisan. “Oeee, kafy, kafy!!”. Tak ada kata damai, bahkan kata damai memang hanya sebuah imaji, dia hanya terwujud dalam dunia bayang-bayang, dimana para penghayal dan penulis berkumpul dan memimpikan hidup sentosa bersama-sama.

Itulah IKAMI Sulsel cabang Malang, hancur lebur hari itu. setiap kata-kata yang keluar adalah provokasi, mereka yang masih ragu menyerang, memaksakan keberanian dengan menyeru, “Allahu Akbar!!!”, dan melepaskan lemparan, entah mengenai siapa. Pertikaian semakin kacau, ketika lemparan demi lemparan sudah tak mengenal lagi sopan-santun. Penonton yang nota benenya adalah senior organisasi pun ikut-ikutan kena imbas.

Saat Brek terkena lemparan di kepala, dia lari sekuat tenaga, menyelamatkan sisa kepala yang masih selamat. Senior lainnya ikut terhambur setelah mengerti bahwa ini bukanlah pertarungan antara pengurus dan anggota baru IKAMI Sulsel cabang Malang. Ini adalah pertarungan buta, dimana hukum rimba adalah dasarnya. Saat seorang yang berkaos hitam memasuki kerumunaan di teras gedung penginapan, kedua tangannya yang telah siap melontarkan 2 timba, tiba-tiba menyerang kesamping kiri dan kanannya, entah dia sadar atau tidak, dia menyerang kawan sendiri.

Fatwa, bertindak sebagai jurnalis sebuah stasiun televisi pada perhelatan itu (Irul dan Darno sebagai Fotografer), pun tak dapat terus tersenyum dengan pikiran bahwa dia akan tetap selamat. Handycamnya nyaris rusak, spontan dia menyeru marah, “Oeee, wartawan anne!!”, sambil melontar bahasa kotor yang tak lagi makan perasaan dalam pertikaian itu, karena kata  apapun yang keluar dari mulut, adalah bahasa kotor hari itu. Beberapa saat, massa sedikit melunak, garis batas antara keduanya mulai melebar, hanya satu per satu saja yang berani maju, melempar dan berlari sekencang kambing kembali ke markasnya.

Ternyata ada yang tersandra. Ammang. Tertangkapnya makhluk ini, membuat kekuatan pihak lain semakin berkurang, sementara kelompok massa yang berhasil memenjarakan Ammang di dalam kamar semakin bersemangat, sisa satu monster yang harus ditaklukkan, setelah itu kekuatan lawan mereka akan benar-benar lumpuh. Namun, sebelum selesai berfikir begitu, monster yang dimaksud telah menyerang, membabi-buta dengan beberapa pengawal di belakangnya, pertarungan jarak dekat terjadi, semakin memperparah. Monster berkepala besar mendekap pemimpin kelompok lawannya, spontan pengawalnya menghajar si kafy habis-habisan, tak mampu mengelak, tenaganya tak menggoyahkan pelukan si monster pada tubuhnya, hingga dia menyerukan aba-aba, “Serang adam, serang adam!!!”, barulah segerombolan massa, entah berapa banyak jumlahnya, keluar dari kamar penginapan tempat persembunyian mereka dengan mengejutkan, membabi buta sambil berteriak kesetanan, mereka MENGAMUK!!!. Seorang juru selamat yang berniat mendamaikan, Komeng, juga menjadi korban amukan massa, kemeja hitam yang dikenakannya memperparah keadaan karena dia dianggap peserta dalam pertikaian itu.

Lepas dari pertarungan di depan markas pasukan Kafy, dimana Ammang ditawan. Kafy membangun kembali sisa kekuataannya, para cewek-cewek yang awalnya bersikap manis, kini tampil di barisan kedua, dibelakang jendral perang mereka, gak tau siapa namanya, dan berseru; “Ayo’mi kita serang saja!”. Sementara pertahanan lawan mereka terlihat rapuh, hanya masyarakat sipil yang tampak sedang beristirahat dengan santai diatas bale-bale yang sejuk. Namun, pertarungan tidak sesederhana apa yang dibayangkan, para petarung pihak lawan yang diserbu ternyata bersembunyi dan bersiap menyambut tamu mereka, pertarungan paling kacau terjadi, tak jelas apa maksudnya, tak ada yang bertanya mereka mempertikaikan apa, tak ada yang menggunakan pikiran mereka bahwa ternyata mereka adalah keluarga, hidup dalam satu rumah IKAMI Sulsel yang terletak di Malang.

Tawa sana-sini terdengar, mereka seperti orang gila, tak ada yang menangisi korban, bahkan seorang yang hampir meregang nyawa, Iker, akibat ancaman pendaraahan di kepala dan lumpuh total membayanginya, entah ulah siapa, dia benar-benar tidak menyangka sebuah baskom besar melayang dari belakang dan menciderai kepalanya, dia terkapar beberapa saat, dan yang lain tertawa terbahak sambil menunjuk tubuhnya yang berusaha menyadarkan diri sendiri.

Inilah cakrawala IKAMI Sulsel cabang Malang, hari itu awan-awan pengetahuan yang memperindah langit dalam kepala mereka berubah mendung, mengirim halilintar di tengah siang yang terik tanpa awan. Tak ada yang menatap langit, menikmati cakrawala siang karya maha pencipta. Mereka sibut (eh salah, sibuk) dengan langit kepala masing-masing, segala pengetahuan, kebudayaan, dan akal pikiran seperti lari mendengar sangkakala “Serbu!!!!!!” yang tadinya memulai pertikaian.

Itulah cakrawala IKAMI Sulsel cabang Malang, dimana pertarungan adalah candaan, korban adalah bahan tawa, dan ejek-mengejek adalah pekerjaan utama. Di rumah IKAMI Sulsel, jika ada yang pernah bertamu, tak pernah menemui kejadian baru seperti ini. Hari ini, cakrawala itu betul-betul tampak telanjang, menunjunkkan bagaimana IKAMI Sulsel cabang Malang yang sesungguhnya, sebenar-benarnya sungguh, dalam kepastikan kata-kata yang kutuliskan dengan kepala yang sehat, dengan penuh kesadaran, bahwa IKAMI Sulsel ini adalah kumpulan para monster yang menjadikan pertikaian sebagai pengerat persahabatan, sehingga cakrawala yang gelap di tanah perantauan, tidak menyurutkan semangat untuk meniti tangga prestasi sebagai tiket pesawat pulang kampung.

Inilah kami wahai Indonesia !!!

Dokumentasi pertikaian..

Serangan besar-besaran:



Awal mula saling menyerang, ketua Ikami sulsel paling garang di serangan awal.


Serangan balasan:
Lasandro tampak melempar dengan penuh emosi.


Ammang yang GARANG, menyerang tanpa pandang bulu.




Adu fisik:
Adamry dan Kafy diserang oleh kawan dan lawan.

Komeng pun jadi korban, < kayak main kereta api, tapi lagi hujan >


Wajah para jendral perang:
Taslim Rahman dan Adamry Muis mewakili kubu masing-masing

Akmaluddin alias Ammang, sangar seperti RAMANG !!!

Asdar Auriga Cs, sang Jendral perang murah senyum, gilamamokah???


___________________________________________________________
Note;
Jangan lupa LIKE dulu tulisan ini setelah dibaca, menyarankan tulisan ini ke yang lain, tekan tombol SARANKAN di bawah ini.
Sebelum meninggalkan blog ku, klik dong iklan yang di atasnya judul itu loh ... 1 mo saja ... #asekkkkk
Dalam pertikaian ini, Mas Darno mengalami kerugian yang cukup serius, kamera poket yang digunakan untuk memotret dan nantinya akan dipublikasikan di media cetaknya (demi sesuap nasi) rusak parah, hingga beberapa jam setelah kejadian, kamera poket pinjaman tersebut belum juga dapat digunakan selain untuk mengganjal pintu kontrakan. Mari berdoa semoga kameranya kembali normal. Amin!
 

Alternative Road Copyright © 2012 -- Template was edited by Cheng Prudjung -- Powered by Blogger