Tuesday, November 1, 2011

Maceku, Bukanji Mace Nomor 1 di Dunia

Mace dan Pace bersama anak bungsu dan cucu pertamanya.
Rahmatiah Daeng Bau, Panggil saja Dembau.

Berhasil melahirkan 6 orang anak, saya adalah perwujudan dari pengalaman pertamanya melahirkan, menantang nyawa demi menggapai suatu titel suci, MACE (ibu, mama).

Dia sendiri, adalah anak ke dua, dari tujuh bersaudara. Diantara saudaranya yang lain, dialah yang paling banyak bicara, tak ada sifat pemimpin melekat pada dirinya, namun kehadirannya di tengah saudaranya yang lain, menjadi benang merah yang menghubungkan komunikasi antar saudara, sebut saja dia diplomatis.

Karena diplomatis, dia terbiasa membongkar tata bahasa pesan yang sebenarnya, dia kerap “berbohong” untuk menjaga sesuatu yang "hidup" tetap berjalan biasa. Aku tahu ini, karena dia selalu berbohong untukku, mungkin juga untuk adik-adikku. Dia pembohong? tidak kawan, dia hanya mereduksi logika dalam pesan, bukan muatan pesannya. Saya harus membela dia untuk terhindar dari kategori ini. hehehehehe

Entah apa yang dipikirkannya tentang mendidik anak, dulu aku pikir bahwa orang tua ini membesarkan anaknya sebagai suatu kewajiban orang tua terhadap anaknya, atau sebagai standar moral seorang orang tua dalam kehidupan penuh nilai. Namun, dalam usaha membesarkan anaknya, ia melewati pikiranku itu.

Hal paling luar biasa yang dia lakukan untuk anak-anaknya adalah, menulis diari. Menulis diari?, sementara dia adalah seorang ibu rumah tangga yang kolot, sama sekali tidak pernah mengikuti perkembangan zaman, saking kolotnya, dia masih berpesan kepadaku "Kalau ada orang tidak kamu kenal, memberikan sesuatu, jangan diambil, jangan sampai itu racun atau narkoba". Apa yang membuatnya berpesan seperti itu?, tidak hanya atas dasar kasih sayang, tapi karena pengaruh berita kriminal yang ditontonnya melalui televisi. Pesan ini disampaikannya saat aku menyelesaikan tahun terakhirku di SMA.

Dia tak pernah ke pasar (sebenarnya pernah, tapi jika ke pasar hanya tiga kali dalam setahun, maka halal hukumnya dikatakan tidak pernah). Dia tak pernah mengunjungi Mall, dia tak pernah mengunjungi Pantai Losari, setelah aku lulus SD. Kecuali sekedar lewat, itupun jika memang harus lewat disana.

Suatu saat ketika dia minta diantarkan ke minimarket, aku memboncengnya dengan motor ayahku. Di perjalanan, dia seringkali menarik kaki bajuku di belakang, sambil berkata "Pelan-pelan saja", padahal kecepatan laju motor saat itu sangat standar, kebetulan saja angin bertiup lebih kencang. Kolot bukan?

Tapi aku tak pernah habis pikir dia menulis diari, apalagi tentang anak-anaknya, dia menuliskan semua kisah anak-anaknya sejak kecil sampai paling update. Tulisan paling banyak dan detail tentu tentang diriku, anak terakhir yang paling kasihan karena cerita tentang dia tidak dalam, hanya menegaskan bahwa pada tanggal sekian, anak bungsu yang rewel itu sedang apa dan sedang apa. Macea terlalu sibuk untuk menuliskan detail kisah hidup si anak bungsu.

Dia menyediakan 1 buku untuk satu anak, dulu saat anaknya masih berjumlah 3 orang, dia menuliskan kisah kami dalam satu buku, namun tentu saja buku itu tidak cukup untuk menuliskan cerita anak-anaknya yang kesekian, sehingga dia memisahkannya. Cerita-cerita yang dulu dituliskan dalam satu buku, disalin ulang.

"Ini ceritamu, kamu baca dulu biar kamu ingat bagaimana lucunya kamu waktu kecil (anggaplah dia berkata seperti ini)". Dia menyerahkan buku itu padaku suatu waktu. Namun tidak kubaca, aku tidak siap berlinang air mata saat itu. Bukan karena kisahnya, atau kata-kata yang dia gunakan, tapi karena apa yang dia lakukan. Siapa yang tidak merasa dihormati dalam hidup ini saat kisah hidupnya diabadikan oleh seseorang? aku seperti akan hidup seribu tahun, bahkan hingga kiamat, hingga diari itu musnah ditelan ketidak pastian semesta.

Pernah suatu hari, aku pulang ke rumah membawa kamera poket. Kutawarkan kepada macea untuk difoto. Macea bergegas mencuci muka, merias diri dan mengenakan pakaian bagus. Dia siap untuk diabadikan dalam sebuat foto. Sementara itu, anak-anaknya menyindirnya. "Kasantaimaki male! (santai saja mama)". Ibuku berusaha menahan malu menunjukkan sifat narsisa, tapi mau tidak mau, dia adalah wanita. Butuh foto!

Coba tebak bagaimana dia berpose di depan lensa kamera? tentu saja dia berdiri tegap dan tersenyum santai. Berdiri tegak seperti sedang mengikuti upacara bendera. Berdiri tegak sambil berujar dalam hati "Difotoka ces".

Itulah macea. Dia bukan nomor satu di dunia, dalam urusan masak-memasak, dia sering dilerai oleh bapak karena makanannya kurang klop di lidah, aku juga pernah merasakan itu, tapi kuanggap kesalahan tekhnis biasa. Namun, bagi bapak, tidak, Macea memang tidak terlalu menguiasai masakannya. Entah lidah bapak yang aneh atau tenggorokannya sedang dikerumuni kuman yang membuat masakan macea terasa kurang mantab.

Aku sebenarnya kasihan pada macea, suatu waktu saat ajal Ramadhan telah dekat, tahun itu, dia mengeluh ke bapak, "Saya kodong, kenapa tidak dibelikan baju? (kok saya tidak dibelikan baju?)". Bapakku cuma terdiam, seperti biasa, dia diam, Anak-anaknya yang lain membela, "Iye tawwa, pak. Bellikan tongi itu baju mama, supaya bisa tongi bergaya (bener tuh, pak. beliin dong baju buat mama, biar dia bisa bergaya)". Namun mendengar anaknya membela seperti itu, macea sudah puas, dia sudah bersenang hati karena anak-anaknya memperhatikan dia. "Nda usahmi, yang penting anak-anakku ini semua adami bajuna (tak usah kalau begitu, yang penting anak-anak sudah punya baju baru)". Itulah kata pamungkasnya, yang penting anak-anaknya senang.

Pernah kubelikan dia roti bakar, (dia belum pernah menikmati roti bakar) aku mengajaknya menikmati roti bakar bersama, dia bergegas membuatkanku susu hangat. Dia duduk di sampingku, bertanya tentang roti bakar, mencicipinya sepotong sambil mengelus pundak dan rambutku, memastikan apakah aku masih hidup atau tidak. Habis sepotong roti bakar di mulutnya, dia meninggalkanku sambil berkata "Simpankan sai itu kuemu untuk adekmu". Pintanya. Ahhh, mataku berlinang saat itu, aku sudah sengaja pulang malam dengan membawa roti bakar untuk makan bersamanya saat adik-adikku tertidur, agar tidak mengurangi porsi yang seharusnya dinikmati ibuku sepuas nafsunya.

Dia terlalu kasihan sebagai seorang ibu. Seluruh hidupnya diberikan kepada anak-anaknya, sehingga dia lupa dirinya sendiri. Bahkan lupa dia hidup di zaman yang mana, ketika dia melihat anaknya tampil kasak-kusuk mengikuti tren, dia akan murung, menuntut kepada anaknya, bahwa dia tidak pernah mengajarkan mereka untuk berpenampilan seperti itu. Aku santai saja menanggapi hal ini, ketika rambutku yang panjang harus dipotong dengan gaya anak SMP, aku ikhlaskan selama dia senang, dan tentu aku tidak senang, karena aku akan terlihat aneh di mata teman-teman sepergaulanku.

***

Macea bukan ibu nomor satu di dunia, karena dia tidak pernah tahu bagaimana menjadi ibu yang baik. Dia tidak pernah membaca majalah, memperhatikan tips dan trik mendidik anak. Dia membesarkan anak-anaknya dengan pandua naluri keibuan yang tertanam pada dirinya. Semoga macea panjang umur, agar dia bisa menyaksikan langsung akibat dari apa yang telah diperbuat pada anak-anaknya. Semoga dia panjang umur, agar anak-anaknya bisa mengenal seorang mace dalam umur senja, agak anak-anaknya bisa mengerti, bahwa kebijaksanaan hidup tidak didapatkan pada zaman terbaru, melainkan pada zaman lampau, dimana manusia bekerja keras membangun kehidupannya, bagaimana seorang mace membentuk generasi-generasi penantang zaman.

14 komentar:

Anonymous said...

Haha. Jdikan buku cocok kyakx. Ullah

Yusuf Fikri said...

beh aslinya mi, Jadi se ingat Macea Cha'. Hhehee. sesama dari Makassar, thanks nah.

daengoprek said...

terharu aku bacanya, mace telah banyak berkorban demi anak2nya, inilah ibu pertiwi sesungguhnya, Kasih ibu sepanjang masa hanya memberi tak harap kembali balasannya, Mace adalah wanita mulia yang telah Tuhan titipkan di bumi ini. Salam untuk Mace, aku juga pernah menulis lagu tentang Mace, ini dia linknya...

http://www.youtube.com/watch?v=yAYXCd6ImEo

Cheng Prudjung said...

@all :: Hidup macea, long life !!!

profile said...

mantab Cheng, human interestnya

Anonymous said...

tHaru banget..*nangis*

Cheng Prudjung said...

@profile :: tengkyu kak mul ...

@Anonymous :: Hidup macea !!! tengkyu juga komen ny :D

uniq.miminkipli said...

mangakua...
tapi sediki' sangkamai cari tayya belaa... ni polong tongi Uu' ka... (mink... kapan nu potong rambutmu na'....na kana macea *na sms laloi spijia suru potong rambuka belaa...ecece)
hiup macea... walau maceku Tunanetra smenjak kacea masih dlm rahim...

bibi said...

...mom is my everything...
cara penulis memaparkan pengorbanan dan cinta seorang ibu berasa banget...
:D

Kid said...

Empat kalimat terkahirmu sangat kuat m'berikan seribu alasan untuk mencintai Ibu dan semua perempuan yang nantinya akan menyandang status itu Boz..
Mannttaabbbb...

Blog 'Super Rahasia'..... said...

bagus juga critanya...

share said...

SHARE JUGA , http://www.facebook.com/note.php?note_id=469151685425

Cheng Prudjung said...

@uniq ::: cerita ttg rambut itu yg seru ces ...

@bibi ::: Hidup para ibu :D

@kid :: kita semua butuh itu, agar kita punya referensi untuk menjadi tua teman ...

@blog super rahasia & @share :: tengkyu komennya .....

v3 said...

huahhhh....terharu :'(

Post a Comment

Jangan lupa meninggalkan komentar ya.... (Tolong jgn berkomentar sebagai Anonymous)

 

Alternative Road Copyright © 2012 -- Template was edited by Cheng Prudjung -- Powered by Blogger