Wednesday, May 2, 2012

Tempat Prostitusi dan Masjid itu Berdekatan; Kamu Kemana?

Refleksi perkuliahan Komunikasi Strategi Dakwah. Tempat Prostitusi dan Masjid Berdekatan

Sore ini, seperti biasa, jadwal perkuliahan Komunikasi Strategi Dakwah bersama pak Jamroji. Saya sebenarnya kurang bersemangat dengan mata kuliah ini, nyatanya di beberapa pertemuan sebelumnya, 30 menit pertama kuhabiskan dengan tidur, melepaskan lelah mengikuti kuliah sejak jam 9.30 hingga 14.30. Untungnya hari ini konsentrasiku pada perkuliahan cukup baik, walaupun sejam sebelum masuk ke dalam ruangan yang sangat tidak inspiratif itu, kantuk telah menderaku. Bukan karenaurusan tempat prostitusi.

Entah apa yang jadi pokok bahasan pada perkuliahan hari ini, saya tidak memperhatikan betul. Hanya gambar-gambar yang tampil di slide yang kuingat hingga kini, ada gambar Sinta dan Jojo, Norman Kamaru (mantan Briptu), Ariel dan Luna Maya dan seorang anggota DPR yang sedang mengintip gadjetnya, semuanya merupakan gambar screenshot dari situs youtube. Sang dosen mungkin ingin meunjukkan betapa media internet merupakan media yang berperan besar dalam mempopularitaskan seseorang.

Dakwah tentu saja perlu popularitas!

Seperti biasa, pada perkuliahan ini, saya asik mendengarkan ocehaan sang dosen, telingaku terjaga untuk mencari kata kunci dari ribuan kata yang digunakan untuk memahamkan ide sang komunikator kepada audiensnya. Tak sengaja, terlintas di benakku sebuah statemen yang menjadi judul catatan ini: Tempat Prostitusi dan Masjid itu Berdekatan.

Anda percaya? terserah! cuma saya merasa bahwa tempat prostitusi dan tempat beribadah itu berdekatan, teman-teman mungkin belum pernah bertemu masjid yang kenyataannya seperti ini, atau tempat/lokasi prostitusi yang bersebelahan dengan masjid. Malah tak ada pagar diantaranya, hanya tembok bangunan itu mungkin atau hanya persepsi kitalah yang memisahkannya, saking dekatnya; menjadikan masjid sebagai tempat prostitusi dan sebaliknya pun bisa. Alamakkkkk

Saya sendiri belum pernah menyaksikan kenyataan yang begitu. Tapi jika kita sedikit saja ingin memikirkan, maka di suatu dunia, kenyataan itu ada. Dunia mana yang saya maksud? tentu saja dunia maya, belantara internet, realitas virtual atau bagaimanalah khalayak menyebut medium ini.

Nah, apa yang mendasari statemen saya ini? walaupun awalnya hanya terlintas begitu saja, namun setelah dihubung-hubungkan dengan beberapa rasionalisasi dengan acuan teori, sepertinya betul juga.

Kondisinya begini, pernahkah teman-teman membuka google tanpa niat atau sengaja mencari suatu kata kunci (keyword) di mesin pencari tersebut? atau jika memanfaatkan google dengan sengaja, apa yang memotifasi? jawabannya tentu saja mencari situs dengan konten yang dibutuhkan. Disini, kita berperan sebagai khalayak, komunikan, konsumen yang memanfaatkan konten-konten yang tersedia di internet untuk kepentingan kita.

Di sisi lain, ada orang atau kelompok yang berperan sebagai komunikator yang fokus pada kegiatan dakwah, internet dimanfaatkan sebagai medium komunikasi, beragam situs siap dikunjungi, konten-konten dakwah pun sangat banyak tentunya. Namun, sebagai komunikan yang ingin kegiatan dakwahnya sukses, cukupkah membuat situs dan mengisinya dengan konten-konten dakwah? mendapatkan peringkat tertinggi di google untuk kata kunci yang diinginkan?. Jawaban saya tidak!!!.

Seorang konsumen yang tidak memiliki motivasi mengunjungi situs berkonten dakwah sangat sulit untuk berkunjung atau tersesat di situs dakwah. Hal ini dipengaruhi oleh kebebasan memilih dan kesadarannya dalam mengkonsumsi media, sebagaimana teori Uses and Gratification yang dipopulerkan oleh Blumler and Katz.

Olehnya itu saya menganggap bahwa tempat prostitusi dan masjid sebenarnya berdekatan (di dunia internet), bahkan saling bersebelahan, yang memisahkan hanyalah motivasi konsumen atau pengguna media saja. Para audiens (konsumen kontent media online) bebas memilih, apakah ia akan mengunjungi tempat prostitusi dengan kata kunci tertentu atau ke masjid.

Sebuah cerita, sebenarnya pengalaman pribadi. Pada suatu kala, seorang meminta kepada saya link download sebuah ebook bertema islami, lalu saya berikan, dia komplain kepada saya. Pasalnya sederhana, situs web dimana ebook tersebut kuhosting menampilkan iklan dengan gambar seorang wanita seksi untuk menarik perhatian pengunjung. Dia berkomentar; kok ebook-nya disimpan di situs yang "begituan". Sempat kujelaskan bahwa gambar yang tampil tersebut adalah iklan yang ditampilkan secara acak, menggunakan sistem generator, namun sayangnya dia tidak mau mengerti. Dikiranya situs tersebut berbau "prostitusi". hohohoho

Pengalaman ini boleh jadi dasar bahwa situs dakwah dan situs beraroma maksiat tanpa kita sadari sebenarnya bersebelahan, kondisi inilah yang kemudian kuistilahkan tempat prostitusi dan masjid. Hanya persoalan popularitas dan kemudahan akses untuk menggapainya saja yang membedakan. Semakin populer dan semakin mudah kata kunci sebuah situs, maka semakin mudah pula seorang netter menemukan situs tersebut, belum lagi  jika kita mengembangkan jaringan, dimana alamat url (link) situs tertentu tersebar, baik melalui iklan maupun metode lainnya.

Sekarang, jika anda berada di persimpangan jalan, sebenarnya cukup lorong kecil, dimana 1 langkah menentukan tujuan anda. Misalnya kiri adalah tempat prostitusi (kemaksiatan) dan kanan adalah dakwah, mana yang anda pilih?. Hal tersebut sama saja ketika situs google telah terbuka di layar personal computer kita, malah ketika koneksi internet tersambung, kita selalu berhadapan dengan persimpangan demi persimpangan, mau kemana anda?.

2 komentar:

Daeng Te'ne said...

Sesuai dengan kata nurani saja..

adi gunadi said...

Saya tidak setuju dengan perumpamaan ini. Saya lebih menyukai perumpamaan bahwa kemaksiatan adalah jurang neraka sedangkan kebaikan adalah taman surga sedangkan dunia ibarat jembatan diatas jurang neraka menuju ke taman surga tugas kita adalah memperkuat jembatan itu dan berjalan di atasnya, teman anda hanya mengingatkan bahwa ada lubang di bawah jembatan yang harus segera ditutup mungkin orang yang imanya sudah kuat mampu melewatinya tapi apakah kita semua sudah kuat imannya alangkah naifnya jika merasa semua orang yang berada di jembatan sudah kuat imannya. Alangkah piciknya pikiran anda dengan membiarkan orang lain yang lemah imannya terjatuh kedalam lubang kemanakah rasa kasih sayang anda terhadap mereka!

Post a Comment

Jangan lupa meninggalkan komentar ya.... (Tolong jgn berkomentar sebagai Anonymous)

 

Alternative Road Copyright © 2012 -- Template was edited by Cheng Prudjung -- Powered by Blogger