Sunday, January 8, 2012

Coto Makassar itu Menunggumu Datang Kanda

Pagi itu, suasana sangat damai. Ketika lamat-lamat adzan subuh diusir mentari, segala aktifitas segera dimulai. Saya dibangunkan oleh aroma abon sapi yang diolah (produksi) di depan Asrama Bawakaraeng, Jl. Lesti 58, Surabaya, tempatku menghabiskan Jum’at malam.

Ruang tengah asrama segera dipersiapkan untuk kegiatan pelantikan Pengurus IKAMI Sulsel Cabang Surabaya 7 Januari 2012. Kegiatan bersih-bersih sungguh damai hingga detik-detik pelaksanaan kegiatan semakin dekat.

Ketika sang Ketua Umum IKAMI Sulsel Cabang Surabaya (Masih status ketua umum terpilih karena belum dilantik) tiba di tempat, kabar buruk memecah kedamaian pagi yang langka di kota besar seperti Surabaya. Pengurus Besar (PB) IKAMI Sulsel yang dikabarkan akan hadir melantik generasi muda pelanjut cita IKAMI Sulsel di Surabaya, mengalami peristiwa buruk. sebagaimana rencana, dia seharusnya berangkat dari Jakarta jam 7 pagi dengan pesawat terbang menuju Surabaya. Sayangnya dia ketinggalan pesawat dan akhirnya mencari jadwal penerbangan di siang hari.

Teman-teman calon pengurus cabang IKAMI Sulsel Surabaya tampak begitu segar hari itu (salahnya saya tidak membawa kamera), di wajah mereka belum ada dosa, bersih tanpa prasangka buruk. Sayang sekali, ketika kabar buruk ini mereka ketahui, kekecewaan mulai menjalari rona segar mereka. Untung saja, pelantikan tidak batal dilaksanakan hari itu, karena delegasi dari PB IKAMI Sulsel menyatakan akan berangkat dengan penerbangan di siang hari.

Tidak semua untung dapat dipercayai. Siangnya, ketika acara silaturahmi antara IKAMI Sulsel Cabang Surabaya (Cabang Malang juga hadir) dengan KKSS Surabaya telah usai, masalah baru muncul, malah tepat setelah semangkuk coto Makassar telah dinikmati. Kakanda utusan PB ini tidak bisa hadir di Surabaya, ikut menghangatkan suasana dengan kemeriahan pelantikan dan bincang silaturahim diantara irisan dadu hati sapi. Alasannya tidak ada penerbangan yang bisa membawanya ke Surabaya siang itu.

Alternatifnya, Surat Keputusan (SK) akan discan dan dikirimkan via BB (Blackberry), namun hingga sore hari scan SK yang dijanjikan belum juga tiba. Parahnya, SMS dan telefon yang ditujukan kepadanya tidak mendapatkan respon. Teman-teman seperantauan di Asrama Bawakaraeng mulai kebingungan dan mulai mencemoh pelan-pelan.

Oia, seharusnya kusebutkan nama, karena tanpa menyebut nama sepertinya rasa hormat kita terhadap kakanda ini begitu kurang. Namanya Sofyan, hanya itu yang kuketahui walaupun sempat bertatap muka ketika dia bersilaturahmi ke Malang, sisanya silahkan cari informasinya di google.

Wajah di balik nama:
Kanda Sofyan, Kabid Kewirausahaan PB IKAMI Sulsel | Sumber Foto: Facebook


= Malam Sebelum Pelantikan =

“Besok makan coto!”, Kata Sidik, ketua umum IKAMI Sulsel Cabang Surabaya.

Kami yang mendengarnya sumringah, makan coto bukan hal biasa di tanah rantau tentunya, apalagi coto hadir di dalam suasana acara pelantikan. Teman-teman IKAMI Sulsel Cab. Surabaya jelas sekali mempersiapkan acara ini dengan matang. Keesokannya ketika wajah segar mereka kuperhatikan, ada kesan bahagia akan dilantik di rona wajah mereka.


= Waktunya Coto Makassar =

Namun sayang (lebih dari seribu sayang) hidangan coto Makassar yang diniatkan akan dinikmati setelah mereka dilantik hanya harapan hampa belaka. Bagi saya, seorang penikmat sensasi, coto ini adalah bentuk kesyukuran mereka, bukan hanya sekedar hidangan untuk menghormati tamu, tapi apa yang bisa disyukuri jika tak ada yang dilantik hari itu?.

Apakah keterlambatan pesawat yang disyukuri? apakah sms dan telfon yang tak berbalas yang harus disyukuri? dan apakah imaji kekecewaan yang patut disyukuri? Jawabannya ada di tangan kanda Sofyan, sepertinya begitu, karena lama kuperhatikan teman-teman di Asrama Bawakaraeng, tak ada lagi yang mau membahasnya. Coto berlalu di lidah, tenggelam ke dalam tenggorokan dan menjadi onggokan cacing di perut lalu menjadi tai yang entah dibuang kemana.

Sedih rasanya kawan. Lebih sedih dibandingkau kau mengajak temanmu datang ke warung coto di jalan Gagak Makassar, lalu memesan dua mangkuk coto, setelah makan, kalian ternyata tak punya uang sehingga harus menjadi tukang cuci Selama seharian disana. Lebih sedih, jauhhhhhhh lebih sedih.

Semangkuk coto itu seharusnya tidak hanya diisi oleh potongan beberapa bagian tubuh sapi, kuah dengan rempah-rempah, kecap, garam, jeruk nipis, sambal, dan daun bawang. dalam semangkuk coto itu seharusnya ada kebahagiaan, kesyukuran atas keberhasilah IKAMI Sulsel cabang Surabaya membangun regenerasinya, dan tentu saja memori suara kanda Sofyan ketika menyebut nama tobarani-tobarani Surabaya ini satu per satu dan melantiknya.

Sumber: Facebook
Bagi kanda Sofyan, jika saya boleh bertanya, apakah kakanda hafal dengan semboyang manusia Sulawesi: "Punna alla'bammi sombalaka...., kualleangi tallanganatoalia...???? " Mengertikah maknanya duhai kakandaku yang menawan? Jika hatimu telah meniatkan, dan kakimu telah melangkah, Surabaya harus kau injak sebelum kembali ke atas kasurmu. Jika tidak, anak-anak muda Surabaya ini pantas menginjak-injak niatmu untuk berkunjung dan melantik pengurus IKAMI Sulsel Cabang Surabaya.

Mohon maaf kanda jika terlalu lancang. Di Makassar, seorang Raja atau Pemimpin yang salah memang harus diluruskan oleh rakyatnya. Seharusnya kusampaikan kemarahan ini dalam bait kecapi seperti dahulu itu, tetapi saya seorang hanya rakyatmu yang punya kata tanpa kecapi.

Sudahkah kemarahan ini menusuk jiwamu kanda? jika belum, datanglah ke Surabaya! Carilah mangkuk coto kotor yang masih tersisa dan cucilah. Semoga keikhlasanmu itu mengobati kekecewaan teman-teman disana. Memang bukan saya yang mengalami, tapi sekali lagi: sebagai pencinta sensasi, saya sedih menikmati semangkuk coto. Bahkan saat meninggalkan Surabaya untuk kembali ke Malang, Kata “Selamat atas pelantikannya, pak ketum!!!” pun tak lunas, dalam hati: biar kuscan saja kata itu lalu kukirimkan melalui BB atau lewat jasa Pos.

“Coto itu belum keluar dari perutku, kanda!!!”. Dalam hatiku!

"Reso temmangingi namalomo naletei pammase dewata"
Kerja keras dengan penuh keikhlasan dan tak lupa berdoa agar tujuan kita dapat tercapai.

7 komentar:

Puang Array said...

Aih....Untungnya tidak naikji tekanan darah habis makan coto. Hmpir saja orang surabaya yang beli tiket ke Jakarta.

Cheng Prudjung said...

@puang Array ::: hahahahhahahaha..... Sudami beli tiket Sby-jkt, sayang ketinggalan pesawat juga :p

Bartez said...

kelihatannya, raut wajah yg kelihatannya baik itu ternyata oh ternyata...

siddiqbasid said...

wah..... saya tersentuh dengan tulisannya bung :D

Jasman Al Madhani said...

Cukuplah kejadian ini menjadi pelajaran tuk kita smua...!!

Ismail Idris said...

wah-wah,, itu pale' orangnya, katanya si mau dikirim lewat pos SK-nya.. semoga tidak ketinggalanji uang untuk beli perangko-nya..:D

BecceCenning said...

hmmm....terharu :'( sabar yah teman2 IKAMI SBY, Tuhan mgkn mempertemukan dgn org yg salah dulu lalu kemudian Dia akan mengirimkan org yg tepat... so, di MUNAS Jogja nanti jgn salah pilih ya... :D

Post a Comment

Jangan lupa meninggalkan komentar ya.... (Tolong jgn berkomentar sebagai Anonymous)

 

Alternative Road Copyright © 2012 -- Template was edited by Cheng Prudjung -- Powered by Blogger