Showing posts with label Karaeng Galesong. Show all posts
Showing posts with label Karaeng Galesong. Show all posts

Tuesday, November 15, 2011

Karaeng Galesong Kehujanan di Ngantang; Koleksi Foto

Dokumentasi foto makam Karaeng Galesong di Kecamatan Ngantang, kabupaten Malang. Hari itu (15 November 2011) kebetulan ada keperluan akademik di Ngantang, tepatnya di desa Waturejo yang jaraknya tidak jauh dari Makam. Akhirnya saya memastikan niat untuk singgah.

Suasana sore itu, mungkin sekitar jam 4, sangat romantis. Hujan yang deras baru saja berlalu, hanya tanah dan rumput basah yang disisakannya, suasana seperti ini membuat perasaan lebih tenang dan damai, suara bising dari kendaraan yang biasanya lalu-lalang di jalan sebelah (sekitar 50 meter) atau jalur Malang-Kediri, nyaris tak terdengar, hanya rintik air yang jatuh dari rimbunan daun yang memayungi makam.

Setelah beberapa saat mengambil gambar, hujan kembali menyerbu, tapi tidar deras. Hujan tersebut nyaris seperti gerimis (hanya lebih 2 kali lipat saja). Aih, suasananya makin damai.

Berikut koleksi foto yang saya dapatkan di makam.

Makam Karaeng Galesong :
Makam Karaeng Galesong di Ngantang. Baca catatan perjalananku saat pertama kali mengunjungi makam ini. Karaeng Galesong Mungkin Kesepian

Nama di prasasti :
Nama Karaeng Galesong tertulis dengan warna emas di prasasti. tertulis disana : KARAENG GALESONG TUMENANGA RI TAPPA'NA yang berarti Karaeng galesong yang gugur dalam mempertahankan keyakinannya/pendiriannya.

Kutipan Al-Qur'an :
Kutipan Al-Qur'an Surah Al-Baqarah Ayat 154 di prasasti. Arti ayat ini adalah : Dan janganlah kamu mengatakan orang-orang yang terbunuh di jalan Allah (mereka) telah mati. Sebenarnya (mereka) hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya.
Kata hidup pada terjemahan ayat di atas menurut para mufassirin adalah hidup dalam alam lain yang bukan alam kita ini. Dimana mereka mendapatkan kenikmatan-kenikmatan di sisi Allah, dan hanya Allah sajalah yang mengetahui bagaimana keadaan kehidupan di alam itu.

Lumut di batu :
Musim basah membuat lumut hidup gembira, tampak lumut menghijau di batu yang tersusun menandai makam Karaeng Galesong

Bentuk makam :
Makam Karaeng Galesong dengan bentuk persegi empat (sama sisi), berbeda dengan makam lainnya di dalam kompleks yang berbentuk persegi panjang sebagaimana biasanya. dari bentuk makam ini, banyak orang memahami bahwa makam sang Raja menunjukkan bahwa dia dikubur hidup-hidup, yang lainnya menilai bahwa bentuk persegi empat tersebut menunjukkan filosofi hidup orang Makassar yakni Sulapa Appa

Suasana Makam :
Suasana kompleks makam, tanah dan rumput terlihat basah setelah diguyur hujan, pemandangan tampak segar. Kompleks makam dibatasi oleh batu bata yang disusun serta pagar besi di bagian terluarnya. Ukuran batu bata yang digunakan sebagai pagar pembatas berbentuk persegi empat dan lebih besar dari ukuran bata biasanya

Hindari Kemusyrikan :
Sebuah vehicle yang terdapat di dalam kompleks makam bertuliskan:
"INGAT" INI TEMPAT YG SUCI, Hindari kemusyrikan.

Menatap prasasti 1 :
Seeokor katak dengan posisi seperti menatap prasasti makam.

Menatap Prasasti 2 :
Si katak tetap tenang dalam posisinya.

Sunday, November 13, 2011

Dari Putra Galesong untuk Sang Raja

Bajiki anne abbannang kebo’ karaeng
Naki bulomo sibatang
Cera’ sitongka-tongka
Nanipajappa nikanayya kuntu tojeng
Assolorong bokoi erona Balandayya
Amminasa dudu tonga karaeng
Ampennepokangi pasorang matannga parang
Ampanummbangangi balembeng ma’bangkeng romang
Punna nia buranne karaeng rewangang nainakke
Se’re lipa kuruai kusionjo tompo bangkeng
Kusikeke kamma lame kukamma mamo kicini karaeng
Tedong alagayya harang sialle ganayya
Nampa kicinika.
(Bait-bait ARU, sumpah prajurit Makassar (Gowa-Tallo), dikutip dari blog Amir Al-Maruzy)

Mungkin di sumur itu, suaramu menggelegar.
Dimana rasa takutku tersembunyi?
Kala aru kau tegaskan untuk sang raja, untuk negri bagi para raja.

Wahai sang raja, andai saja aku dapat melihatmu kala itu.
Aku ingin mencari rasa takutmu.
Supaya aku mengerti bagaimana keberanian mekar dalam jiwamu.

Sumpahmu itu, Wahai sang raja.
Mengabadikan keberanianmu.
Melukis sosokmu dengan bayang-bayang.
Mengamuklah, kami tidak akan duduk diam menonton amukanmu.
Tak usah kau ijinkan, kami tetap berkeras hati ada di sampingmu.

Aku ingin melihatmu meninggalkan sumur itu. Bungung Barania.
Menuju kapalmu diiringi arumu, memberkati setiap keputusan menelanjangi badik.

Kutulis sebuah memo wahai sang raja.
Entah di masa depan yang bagaimana,
Kami bisa menemukan seorang sosok pemimpin.
Meninggalkan tanah yang terjajah.
Menuju dunia dimana darahmu tumpah.
Disanakah?
Kau bersemayam dengan abadi, mempertahankan keyakinanmu?
Mengorbankan jasadmu untuk aru yang dahulu itu kau terikkan?

Memo itu wahai sang raja.
Bukan undangan bersua.
Namun, ungkapan terimah kasih karna kau telah menghargai kehidupan yang diberikan Allah untukmu.
Dari putra-putra Galesong yang bertarung mencari jati diri.

Malang, November 2011.

Wednesday, October 19, 2011

Laskar Makassar di Tanah Jawa

Pendahuluan

Makassar dalam Kuasa Kompeni


Pada hari jum’at, 18 November 1667, tercapailah suatu perjanjian perdamaian antara pihak Belanda dan pihak Kerajaan Gowa-Tallo di suatu tempat dekat Barombong yang dinamakan Bungaya. Perjanjian yang disepakati dinamakan Cappaya ri Bongaya, orang-orang Belanda menamakannya Het Bongaisch Verdrag.

Perjanjian Bongaya menjadi akhir dari peperangan besar antara Kerajan Gowa-Tallo dan Belanda, namun setelah penandatanganan perjanjian itu, banyak diantara tokoh kerajaan Gowa-Tallo yang menolak untuk tunduk, salah satu diantaranya adalah mangkubumi kerajaan Gowa-Tallo sendiri, Karaeng Karunrung. Barulah pada tanggal 27 Juni 1669, setelah ditandatangani perjanjian baru, perlawanan-perlawanan terhadap Belanda mulai hilang, dalam perjanjian tersebut karaeng Karunrung juga ikut serta membubuhi tanda tangannya.

Hilangnya perlawanan terhadap Belanda di Makassar tidak berarti bahwa pejuang Makassar tidak bersemangat lagi melakukan perlawanan. Ratusan armada berangkat dari Galesong menuju Jawa untuk meneruskan perlawanan terhadap Belanda. Salah satu armada besar yang bertolak ke Banten adalah Laskar Makassar yang dipimpin oleh Karaeng Bonto Marannu, iapernah berkuasa di Buton, walaupun akhirnya tidak berhasil mempertahankan daerah ini.


Para Perantau

Keberangkatan Karaeng Bonto Marannu dengan tujuan Banten adalah usaha untuk melanjutkan perlawanan terhadap Belanda yang dinilai serakah. Saat itu Banten merupakan sasaran kedua Belanda setelah menguasai Makassar. Banten yang bertetangga dengan Batavia, pusat pemerintahan Kompeni di Nusantara, dianggap sebagai tetangga yang mengancam keamanan dan harus ditaklukkan.

Selain itu, Hubungan antara kerajaan Gowa-Tallo dan kesultanan Banten telah terjalin, riwayat mengisahkan bahwa Syekh Yusuf pernah tinggal di Banten untuk beberapa lama dan menjalankan dakwah Islam sebelum ke Mekkah untuk melaksanakan haji dan memperdalam ilmu agama. Adanya hubungan inilah yang memudahkan orang-orang Makassar datang kesana.

Laskar lain yang bertolak ke Jawa adalah armada yang dipimpin oleh Karaeng Galesong, nama aslinya I Manindori Kare Tojeng, putra Sultan Hasanuddin dari istri keempatnya, ia lahir pada tanggal 29 Maret 1655. Sebelum hadir di Jawa (timur), Karaeng Galesong sebelumnya berada di Bima, sesuai dengan catatan Belanda, Dia melakukan berbagai penjarahan disana. Tokoh yang satu ini memegang peranan penting dalam perjuangan orang Makassar bertahan hidup dan melawan Belanda di Jawa.

Kepergian Karaeng Galesong dari Makassar karena adanya silang pendapat antara pihak kerajaan Gowa-Tallo yang dipimpin oleh ayahnya Sendiri dan Speelman dari Pihak Belanda. I Manindori Kare Tojeng yang awalnya diangkat sebagai Raja di Galesong tidak diakui oleh Belanda, dan setelah perjanjian Bongaya, Speelman menunjuk Daeng Malewa sebagai pemimpin disana, yang mendasari pengangkatan Daeng Malewa sebagai pemimpin di daerah itu karena ayah, kakek dan moyangnya telah berkuasa disana sebelum Raja Gowa. Kondisi politik seperti ini dianggap sebagai pendorong kepergian Karaeng Galesong meninggalkan daerahnya.

Karaeng Galesong membawa ratusan armada (kapal), ikut dalam rombongnya, Karaeng Tallo yang meninggal di Bima pada 16 Juni 1673. Dalam hal jumlah armada atau pasukan, terjadi banyak perbedaan, De Graff tidak menyebutkan Jumlah pasukan perang yang bertolak dari Galesong ke Bima.

Keberadaan dan pemberontakan yang dilakukan oleh Karaeng galesong di Bima, membuat Kompeni yang berkedudukan di Batavia mengalihkan perhatiannya kesini. Sehingga Banten yang terancam akan diserang oleh Belanda dapat bernafas. Di Banten sendiri, aktifitas pasukan Makassar mulai memberatkan Sultan, hingga akhirnya mereka digunakan sebagai pekerja untuk membuat parit pertahanan. Namun lama kelamaan, Banten yang belum juga mendapatkan serangan dari Belanda, kebingungan sendiri bagaimana mengurusi tamu-tamu mereka. Hingga banyaknya pertikaian yang terjadi antara orang Makassar dan Sultan, Laskar Makassar yang dipimpin Karaeng Bonto Marannu meninggalkan daerah ini bertolak ke Timur.

Pada bulan September 1674, Karaeng Bonto Marannu tiba di Jepara dan berniat untuk memohon izin untuk mendapatkan tempat tinggal dan hidup dengan aman kepada Sunan (Susuhunan Amangkurat I), namun saat bertemu dengan Sri Baginda, permohonan tersebut di tolak mentah-mentah.

Respon penolakan dari Amangkutat I ini berbeda dengan Putra Mahkotanya, Adipati Anom. Putra mahkota yang sebelumnya telah berkomplot dengan Trunajaya untuk menjatuhkan Ayahnya dari puncak kekuasaanya, malah memberikan tempat bagi Kareng Bonto Marannu dan 6000 pasukannya di daerah timur Jawa. Akhirnya, Karaeng Bonto Marannu menetap di Demung (sekarang Besuki).


Laskar Makassar di Demung.

Dari Jepara, Kompeni mendapatkan informasi pada tangga 15 September 1674, bahwa Karaeng Galesong merencanakan serangan kedua untuk Bima. Kompeni yang telah memfokuskan perhatiannya pada gerak-gerik pasukan Makassar di Bima, dari berbagai informasi yang mereka dapat, Orang-orang Makassar berencana merebut Bima, Karaeng Galesong akan menjadi Raja di Bima, sementara menantunya (?) akan menjadi Raja di Dompu, adapun Karaeng Bonto Marannu akan menjadi kepala pemerintahan dari dua kerajaan itu.

Namun ketakutan Kompeni ini tidak terbukti, pada bulan April 1674, Karaeng Galesong telah berada di Jawa Timur. Pihak kompeni baru mengetahui hal ini di akhir tahun 1675. De Graff dalam bukunya seperti kebingungan dengan penulisan tanggal sehingga ada peristiwa yang sulit untuk dirunutkan. Misalnya soal kedatangan Karaeng Galesong ke Jawa Timur dan pengiriman satuan oleh kompeni ke Bima untuk menghukum orang-orang Makassar disana.

Atau data kedatangan karaeng Galesong ke Jawa Timur yang menyebutkan akhir tahun 1675, padahal karaeng Galesong telah berperang menaklukkan Gersik di tahun 1675. Pada tanggal 30 April 1675, sepucuk surat dari Jepara menyebutkan peperangan Karaeng Galesong untuk merebut Gersik dan Surabaya.


Karaeng Galesong dan Trunajaya.


Pertemuan pertama antara Karaeng Galesong dan Trunajaya terjadi dalam tahun 1675. Saat itu Trunajaya mendatangi Karaeng Galesong untuk membantunya meruntuhkan kekuasaan Mataram. Untuk menjalin hubungan yang lebih erat, Trunajaya memberikan kemanakannya untuk menjadi istri Karaeng Galesong dengan syarat agar ia merebut Surabaya dan Gersik. Pernikahan ini diperkirakan terjadi tahun 1675 atau 1676, anak pertama karaeng Galesong yang lahir di bulan Januari 1677 memungkinkan pernikahan mereka terjadi pada akhir tahun 1675.

Dengan semakin kuatnya pangkalan di Demung dan adanya bantuan dari Madura, pangkalan-pangkalan penting di Jawa Timur berhasil direbut: Pasuruan, Pajarakan, Gombong, dan Gerongan. Peperangan merebut keempat pelabuhan tersebut berlangsung sengit, Karaeng Mamar (Mamut?) tewas dibunuh oleh putra kiyai Darmayuda saat berusaha mempertahankan Pasuruan.

Setelah berhasil merebut keempat pelabuhan ini, pasukan Makassar merencanakan menyerang daerah Utara dan Barat Surabaya. Daerah yang diserang pertama kali adalah Gersik, berbeda dengan hasil peperangan pertama merebut daerah ini, laskar Makassar berhasil merebut dan membakarnya, disebutkan para panglima perang yang turut serta menghantam Gersik: Karaeng Galesong, Karaeng Bonto Marannu, Karaeng Panarangan, Daeng Mammangung, Daeng Manggappa, Daeng Lomo Tibon.

Setelah Gersik, Surabaya juga berhasil mereka bakar. Peperangan merebut Surabaya lebih mudah dikarenakan banyaknya orang yang sudah melarikan diri setelah mendengar kabar bahwa gersik telah jatuh ke tangan orang-orang Makassar. Akibat yang timbul dari kemenangan-kemenangan pasukan Makassar ini terasa hingga ke Jepara, orang-orang kebingungan dan banyak orang yang mulai mengemas harta benda mereka.


Jawa dan Belanda Melawan Pasukan Makassar.

Informasi bahwa armada Belanda yang hendak membasmi kekuatan Makassar mulanya terdengar menggembirakan bagi masyarakat Jawa. Namun banyak juga yang meragukan dan curiga atas hal ini. Mereka berfikir bahwa bantuan dari kompeni jelas mengharapkan kompensasi. Namun, bantuan tersebut adalah permintaan Sunan sediri melalui Wiraatmaka, kepala daerah Jepara yang akhirnya digantikan oleh Ngabei Wangsadipa.

Di bulan April 1676, armada belanda diiringi oleh pasukan Mataram berangkat menghadapi Pasukan Makassar, namun tak banyak hasil yang diraihnya. Pasukan Makassar malah berhasil merebut Tuban dan Sidayu. Hal ini membuat Sunan marah dan menyuruh semua orang Belanda pergi dan membawa barangnya.

Kecurigaan terhadap bantuan Belanda untuk Jawa semakin memanas, mereka menganggap bahwa jatuhnya Tuban dan Sidayu akibat adanya persekongkolan antara Belanda dan Makassar. Di pertengahan bulan April, para perwakilan Jawa datang dan meminta agar Loji Belanda dihancurkan, mereka takut jangan sampai Belanda balik melukai mereka. Namun setelah berbagai perundingan, Couper yang mewakili pemerintah kompeni menegaskan bahwa iktikad mereka baik.

Panji Karsula
Sebanyak 1000 orang Numbakanyar dan beberapa prajurit Panumping ikut serta pada ekspedisi Panji Karsula untuk memberantas pemberontakan orang-orang Makassar. Armada Mataram ini dikawal oleh 3 panglima perang yang handal, Anggajaya memimpin sayap kiri, Darmayuda sayap kana, dan Panji Karsula sendiri memimpin di tengah (jumlah pasukan 1000 orang menurut serat khanda).

Melalui Japan (Mojokerto), mereka Tiba di Demung, disini 2000 orang Makassar berada di dalam benteng. Saat pasukan Mataram sudah mulai dekat, Karaeng Galesong membakar semangat pasukannya. Prajurit Makassar yang pantang menyerah, melawan dengan gigih, mempertahankan benteng mereka dengan komando Karaeng Galesong. Setelah pertarungan hebat terjadi, Karaeng Galesong menarik mundur pasukannya, masuk ke dalam hutan. Sementara orang-orang mataram, tanpa mengindahkan peringatan Panji Karsula, menjarah benteng habis-habisan dan beristirahat seenaknya saja tanpa memperhatikan pertahanan.

Malam hari, Karaeng Galesong kembali membakar semangat tempur pasukannya, mereka menyerang prajurit Mataram yang berkema di area terbuka. Mereka mengamuk berteriak sambil menebas batang tubuh orang mataram yang sedang lengah. Para pasukan mataram kaget dan kocar-kacir, perkemahan mereka terbakar. Panji Karsula berhasil lolos dan kembali ke Japan, disana ia menderita sakit yang parah kemudian meninggal. Darmayuda menyerah bersama banyak bupati di daerah timur.

Ada beberapa perang lain terjadi setelah tewasnya Panji Karsula. Dikisahkan bahwa, armada Belanda melakukan penyerangan ke Panarukan. Pasukan mataram dalam penyerangan itu dipimpin oleh Raden Prawirataruna, mereka turun ke darat dan disambut dengan ganas oleh pasukan Makasaar yang telah berjaga-jaga, pertarungan sengit terjadi, keluarga Raden Prawirataruna meninggal sementara dirinya terluka parah. Dari laut, orang-orang Belanda, Ambon, dan Ternate menghujani pasukan Makassar dengan tembakan, banyak yang tewas, sisanya mundur ke titik pertahanan mereka.

Pertempuran Laut
Pertempulan selanjutnya terjadi di Paiton. Atas saran bupati Suramenggala, pasukan mataram mendarat di Paiton, mereka meninggalkan kapal di pantai. Mendengar keberadaan pasukan mataram disini, prajurit Makassar segera berdatangan dengan perahu jukung kecil, dan tanpa berlagak mencurigakan, membakar kapal-kapal mereka yang sandar, sementara air laut sedang surut.

Pertarungan fisik terjadi di darat. Orang-orang Jawa mempertahankan nyawa mereka dengan senjata seadanya, diantara mereka banyak yang melarikan diri. Sementara itu pemimpin pasukan, Suramenggala dan Surawangsa tetap memberikan perlawanan yang gigih.

Kapal-kapal mancanegari segera mendatangi perahu yang terbakar dan berusaha memadamkan api, mereka menampung pasukan yang mulai tersedak oleh orang Makassar. Diatas kapal, diadakan musyawarah kecil dan diputuskan untuk kembali ke Jepara melalui Surabaya, mereka tidak berani untuk kembali ke Mataram dengan kekalahan yang mereka alami.


Karaeng Galesong ke Madura
Begitulah peperangan demi peperangan terjadi hingga Agustus 1676. Di bulan ini, Karaeng Galesong bertolak ke Madura dari Panarukan, walaupun dicegat oleh blokade Belanda de depan Panarukan, dia berhasil lolos bersama 80 kapal lainnya.

Di Madura pada bulan Agustus 1676, Trunojoyo mengumumkan bahwa namanya adalah raja atau Panembahan Maduretna. Hampir bersamaan dengan itu, Karaeng Galesong menggunakan gelar Adipati Anom. Kedua kekuatan ini semakin besar, mereka mulai membangun rencana untuk menghantam Mataram.



Catatan Penulis:
Tulisan ini untuk membantu mengetahui kisah Karaeng Galesong yang Mempertaruhkan kehidupan di Tanah Jawa, ada beberapa referensi yang dapat dijadikan rujukan, namun untuk sementara ini buku Runtuhnya Istana Mataram karangan H.J De Graf, yang menceritakan kisah Karaeng Galesong lebih rinci dibandingkan beberapa referensi lain yang penulis temukan.

Catatan yang anda baca ini disusun dengan mentah-mentah tanpa mengikut sertakan beberapa analisis penulis persoalan kisah-kisah yang diceritakan buku tersebut. Mungkin pada kesempatan lain, penulis akan memuat beberapa analisispersoalan peenulisan kisah Karaeng Galesong.

Tentu kami berharap masukan dari teman-teman lain untuk menyempurnakan pengetahua kita tentang sosok dan perjuangan Tokoh yang satu ini. Saat ini kami ucapkan terima kasih atas perhatiannya.

Tuesday, September 27, 2011

Karaeng Galesong Mungkin Kesepian

Aku bingung menuliskan kegelisahanku ini, syndrome yang menyerang penulis pemula menyerangku. Namun aku menerima itu, toh dalam menulis soal karaeng Galesong Tumenangan ri Tappa’na aku masih dalam tahap memulai, walaupun banyak “chemistry” kutemukan sejak aku sadari bahwa aku tergerak untuk menggali kisah tentang Raja yang satu ini, seorang Raja yang mungkin merasa kesepian disana.

Hampir 5 tahun aku menetap di Malang dalam urusan studi mengejar status sarjana, namun baru sekali aku mengunjungi makam Karaeng Galesong di Ngantang, itupun baru-baru ini bersma seorang teman yang sama sekali tidak tahu kalau ada jendral perang yang gagah perkasa melawan penjajahan Belanda, mengabadi disana. Hari itu, Sabtu tanggal 24 September 2011, aku mengunjungi makam sang karaeng yang masih menjadi tanda tanya di benakku.

Aku kesulitan menuliskan apalagi mengurutkan informasi-informasi yang menyentak kepalaku soal jejak kehidupan sang karaeng. Tak banyak yang tahu, olehnya itulah dia kalah popular dengan kawan seperjuangannya meruntuhkan kerajaan Mataram, Pangeran Trunojoyo. Aku pernah berfikir, andai saja karaeng Galesong tidak berkawan dengan Trunojoyo, namanya tak akan termaktub dalam kitab manapun. Bagaimana tidak, kesan yang selalu kurasakan saat membaca literatur yang menyebutkan Karaeng Galesong selalu termarginalkan dalam wacana, dia menjadi pembantu Trunojoyo dalam mengalahkan Mataram. Bukan hanya itu, aku kadang dibuat sinis tanpa sadar ketika Karaeng Galesong dianggap sebagai pemberontak ketika ia datang ke pulau Jawa.

Sebelum melanjutkan tulisan ini, kuharap ada seseorang yang melontarkan pertanyaan; Apa yang mendorongku menuliskan karaeng Galesong?. Jawabanku; aku belum berhasil merangkum jawaban untuk pertanyaan ini, bahkan aku sendiri pun merasa bingung apa yang menyebabkanku terobsesi pada petualangan mengejar kisah ini. Kadang, ketika fikiranku merasa lelah dengan kata Galesong, aku selalu menghalaunya dengan dalil-dalil subjektif, bahwa aku adalah anak muda yang ditarik oleh kekuatan sejarah untuk mengejar serpihan sejarah seorang raja yang “dijahati para penulis” (jika ada penulis yang pernah menulis tentang karaeng Galesong dan merasa tersinggung dengan istilahku ini, tolong beranikan diri anda untuk meluruskan kekeliruanku).

Aku selalu berfikir, kenapa orang Makassar yang memperkenalkan dirinya sebagai kaum pemberani, malah tidak berani mengungkapkan sejarahnya, atau bahkan tidak berani mempelajari sejarahnya di tengah wacana sejarah yang didominasi oleh kaum tertentu yang memang cerdas memperkenalkan sejarah mereka. Tolong jangan anggap ini sinisme yang chauvinis, saya tidak bertujuan menyerang suatu kaum, yang saya sesalkan hanyalah hilangnya kisah-kisah kepahlawanan oleh kuatnya arus wacana sejarah yang didominasi oleh hikayat/sejarah tertentu. Tidak cukupkah kerajaan yang dihikayatkan besar ini menguasai nusantara dengan dominasi kekuatan lewat jalan peperangan? sehingga mereka pun tetap berusaha menguasai wacana, agar kami, orang yang tak termasuk dalam 'fans' sejarah yang besar itu dipaksa untuk menghafalnya.

Tolong jangan terlalu perfeksionis membaca catatan ini, aku baru memulainya, aku hanya kesulitan membangun alur saat ini, sehingga aku tak mengerti apakah tulisan yang anda baca ini adalah catatan yang pantas dibaca atau tidak, mohon tetaplah membacanya.

Saat mengunjungi makam karaeng Galesong, perasaanku biasa saja. Hingga kuceritakan kepada temanku tentang apa yang terjadi padanya, sepengetahuanku saja, setahuku. Jika ada informasi salah yang kusampaikan padanya, itu bukan karena mauku, namun karena orang-orang yang memberikan informasi tentang sosok raja ini. Saat bercerita pada temanku itulah perasaanku tertekan, terasa betul perubahan emosional ini, aku mulai terharu namun kusembunyikan dari perhatian teman yang baik ini, aku hanya memunguti daun kuning yang berjatuhan di sekitar makam yang berbentuk persegi di permukaan. Hanya itu bakti yang bisa kulakukan dalam kunjunganku itu, memunguti dedaunan kuning yang jatuh sambil berusaha menguasai perasaanku, toh ketika melakukan ziarah kubur, kita harus terus menjaga emosi, jangan sampai larut.

Hatiku terdorong membacakan Al-fatihah untuk beliau, namun aku urungkan, rasanya aku belum suci untuk itu. Dalam kompleks pemakaman itu (makam karaeng Galesong dan beberapa makam lainnya dipagari dengan batu bata besar yang disusun, bagian terluarnya adalah pagar besi --entah apakah itu benar-benar besi atau tembaga-- itulah yang kusebut kompleks pemakaman, walaupun diluar pagar itu ada banyak makam), ada sebuah ‘vehicle’ mirip rumah merpati bercat hijau, tertulis disana “Ini adalah tempat yang Suci, Hindarilah kemusyrikan”.

Temanku, melontarkan beberapa pertanyaan, salah satu pertanyaan yang kujawab seadanya adalah makna dari tulisan arab yang termaktub di prasasti tersebut, sebuah ayat yang dikutip dari surah Al-Baqarah ayat 154. Kukatakan: janganlah kau anggap bahwa orang yang berjuang di jalan Allah betul-betul mati, sesungguhnya mereka hidup, namun kau tak menyaksikannya/menyadarinya. Itulah jawabanku saat itu, kaata terakhir aku tak begitu mengerti, apakah benar artinya ‘namun kau tak menyaksikannya/menyadarinya’ atau apalah.

Saat menerjemahkan ayat itu, aku hampir meneteskan air mata, ada yang ‘menggedor’ diriku dari dalam. Entah apa yang mendorong para Jama'ah Anshorullah memilih ayat tersebut untuk dituliskan pada prasasti sang raja ini.

Pertanyaan selanjutnya yang kujawab adalah, arti julukan “Tumenanga ri Tappa’na”. Sekali lagi, aku menjawab sekenanya, kukatakan pada temanku bahwa artinya adalah; Orang yang mati dalam mempertahankan keyakinannya (tolong luruskan jika keliru).

Aku terbawa perasaan.


Beberapa lama kemudian, datang dua orang peziarah ke makam karaeng, mereka mengucapkan salam pada kami dan kami jawab. Kubiarkan mereka bertanya duluan kepadaku karena mereka lebih tua dari kami berdua.

Mereka berdua adalah penduduk asli Malang, dari mereka kuketahui bahwa mereka bukanlah keturunan Makassar. Pengakuannya ini yang menarik perhatianku sehingga kutanyakan pada mereka; kok tahu karaeng Galesong?.

Mereka mengetahuinya dari teman, dan mereka kagum terhadap sosok Karaeng ini. Tentu saja kutelusuri lebih jauh perihal informasi yang mereka miliki tentang karaeng Galesong.

Mereka berkata bahwa sedikit sekali orang yang mengenal Karaeng ini, bahkan mereka juga bingung mengapa ada anak muda yang tahu soal karaeng Galesong. Dari mereka kuketahui bahwa sang raja memiliki suatu ajaran, bahkan ketika mereka mengetahui aku berasal dari Galesong, mereka menanyaiku apakah aku mengerti soal ajarannya?, dalam benakku; ajaran apa pula ini.

Ternyata mereka berdua adalah “petualang” (mereka menyebut diri mereka begitu; “yaaa, karena bertualang seperti ini akhirnya kami tau beliau”), mereka berusaha menggapai maqam sufi. Saat kami duduk dan berbincang, aku tahu bahwa mereka memang sedang dalam “perjalanan rohani”, perbincangan kami memang perbincangan rohani, sufistik. Entah mengapa terarah kesana, padalah aku hanya bertanya apa ajaran karaeng galesong yang mereka ketahui, mereka hanya menjawab bahwa ajaran beliau itu sudah termasuk dalam apa yang mereka sampaikan kepada kami. Saat kupaksa mereka untuk menjelaskannya semakin jauh, aku hanya dituntun untuk membaca kisah-kisah Syekh Siti Jenar.

Karaeng Galesong …. ? pertanyaanku tertahan. Aku tak tahu kalau sang raja dekat dengan ajaran tasawuf. Aku semakin ditarik memasuki petualangan yang kian gelap.

Setelah adzan Ahsar berkumandang aku bergegas mengakhiri perbincangan, suasana sepi dan tenang harus terbongkar olehku, sebenarnya materi perbincangan kami yang mulai tak menyentuh tanah sehinggah aku merasa capek sendiri mengolahnya. Aku mencatat beberapa poin dari hasil percakapan kami, namun untuk menuliskan ulang, aku rasa terlalu sulit, catatanku itu terlalu sufistik untuk anak muda dengan semangat yang menggelora sepertiku. Wallahu a'lam bissawab
 

Alternative Road Copyright © 2012 -- Template was edited by Cheng Prudjung -- Powered by Blogger