Showing posts with label Reflection. Show all posts
Showing posts with label Reflection. Show all posts

Saturday, April 21, 2012

Hidup tak Selalu Manis, Daeng Te’ne !!!

Beberapa hari berlalu, kesal di hati masih mekar. Perkiraanku, kekesalannya hanya sehari itu saja, lepas beban dengan banyak berseloroh di berbagai tempat. Saya cukup tenang dan tetap berpembawaan santai menanggapi banyak keluh kekesalannya, toh besok rutinitas akan menghapus hal-hal buruk, pikirku.

Ternyata tidak! Simpatiku dirongrong oleh ocehan-ocehannya yang bagiku terlalu analitis, sehingga banyak aspek yang dihidden untuk mengambil keputusan, semacam menanggalkan objektifitas akibat deru emosi yang merasuk. Mana mungkin ada konspirasi, pikirku setelah menerima SMS dari Dg. Te’ne saat bersiap dengan kenyataan; apakah kami akan melakukan pesta makan-makan besar atau tidak.

Ini hati !!!
Soal konspirasi ini, sebenarnya masuk akal bagiku. Jelas ada kemungkinan hal tersebut terjadi pada sebuah ajang kompetisi, saya lumayan memahami dunia komunitas blogger, sehingga cukup memberi perhatian dengan hal tersebut, tapi apakah bisa seperti itu? Terjebak dengan pertanyaan ini, saya memutuskan untuk tidak memperdulikan persoalan konspirasi ini lagi.

Dg. Te’ne berkelakar melalui blognya (klik: lingua franca), dia menuliskan refleksinya atas kompetisi yang dia anggap menyakitinya hingga berhari-hari, namun karena ada beberapa makhluk yang berulah misterius di dashboard wordpress-nya, dia menghapus catatan tersebut, tepatnya unpublish. Aih, apa yang dia tuliskan perlu dia sampaikan, tidak mempublikasikan melalui blognya, facebook (klik: Lomba Blog) selalu sedia menampung catatan apa saja.

Di Twitter, dia berkicau. Nyaris tak keruan sampai-sampai ku-RT dengan kicauan yang lebih tidak keruan lagi, ekting jahilku mode on.

Aih, hidup tidak selalu manis, Dg. Te’ne! Kau harus betul-betul menyadari ini. Walaupun saya yakin kau mengetahui perihal ini, tapi bagiku; kau belum mengerti betul, bahwa manisnya hidup saat kekecewaan itu menyayat nurani, ketika suatu cita dibentur kendala, atau ketika cinta tak pernah dibauri oleh apa-apa.

Tabe’ Daeng. Saya sepertinya harus jujur disini, biarlah kusakiti hatimu, tanggung menurutku, kau sudah kepalang hancur dengan kenyataan-kenyataan yang kemarin-kemarin itu. Jadi begini; sederhana saja! Tahukah kau bagaimana orang-orang Makassar memberi nama? Jika ajaran Islam, nama adalah doa, orang-orang Makassar tidak sepernuhnya demikian, nama (pakdaengang) adalah wujud halus dari perangai atau tampilan seseorang (walaupun hanya perangai haluslah yang disebutkan), tidak semata sebagai sebuah doa (asal kata pakdaengang adalah pakdoangang yang berarti doa), setidaknya begitulah yang kupahami.

Pikirlah sendiri Daeng, kenapa si dia menamaimu Te’ne! Refleksikan sendiri, toh hidup kau yang punya. Cuma bagiku, sahabatmu ini, kau terlalu baik dalam hidup ini, terlalu “something”, aih entah bagaimana mengatainya, kau tidak bersih murni (ci’nong), kau tidak baik (baji’), tapi kau ada diantaranya.

Sayang, kau sepertinya belum mengerti banyak, bahwa tabiat sangat berwarna. Jika kau mencintai Makassar, jangan sekaligus dengan-orang-orangnya! Ahhh saya macam orang-orang yang sudah beruban saja berkata seperti ini. Tapi di mataku, kau begitu!

Maafkan kata-kataku Daeng, setahuku orang Makassar tidak pernah sibuk mengeluh, kau akan dicela jika tak habis perkara setetes hingga berhari-hari karena sibuk mengeluh. Begitu keluarga kecilku membimbingku, kesahmu tak boleh tumbuh subur dan menjalar hingga ke orang lain, kau perlu setetes keringat untuk membasuh kesal itu, seperti zam-zam.

Kau sudah tau apa yang ingin kusampaikan? Jika belum, ingat saja tempo hari, berbulan-bulan yang lalu saat kuajak kau ke Galesong sekali lagi, datang bukan sebagai pelancong tapi sebagai Dg. Te’ne.

Sungguh, saya ingin kau tahu Makassar tidak dari buku yang menjadi pijakan imajinasimu untuk melontar bayang-bayang setinggi mungkin, sesenang dan semanis mungkin. Saya ingin mengajakmu mengenal makassar dengan seluruh indramu, memahaminya dengan baik, seburuk apapun kenyataannya.

Kau hidup kepalang manis, Daeng. Saya menebaknya dari sosok hingga perangaimu, entah sebenarnya seperti apa. Disamping itu, kau juga penuh dengan misteri, nyaris sama dengan kisah-kisang sang Karaeng yang kita minati bersama.

Kau bukan orang Makassar, Daeng. Sekalipun kau punya Pakdaengang!

Mungkin lebih tepatnya belum, kukatakan belum sebenarnya hanya untuk memperhalus, takut kau akhirnya tumbang, takut jikalau semangatmu sirna, takut jika sinar matamu terhambur dan karam di laut hanya karena mendengar meriam Anak Makassar berdentum.

Maafkan diriku terlampau lancang begini, Daeng. Perlu kau tahu, kekecewaanku terhadapmu tak bisa ditawar saat sms-mu yang pesimis itu kuterima, kemampuan menulismu anjlok? Apa kau tak ingin menulis lagi, Daeng? Kenapa kau biarkan rasa kesal merubuhkan semangat menulis itu?

Mungkin ini yang terakhir, Daeng. Tak apalah kau mengecewakanku, tulisan inilah obatnya, sekaligus wujud dari kekesalanku atas sakit hati yang tidak bisa kau buang itu, coba ikuti saran orang tuaku; Buang jauh-jauh ke lautan, Nak!. Kesal yang dikeluh itu memalukan, Daeng. Mana mungkin kau menghabiskan hidupmu hanya untuk mengeluh, memenuhi hatimu dengan dendam dan menggunakan kepalamu hanya untuk memikirkan hal yang sudah lewat?

Ingat, Daeng! Kau tak butuh bahu seperti yang kau katakan padaku lewat twitter subuh tadi. Kau butuh dirimu sendiri, sayangnya mungkin “dirimu sendiri” itu sedang tersesat di rimba keluh kesah. Kau pasti sudah tahu bagaimana menemukannya jika begitu: Musnahkan keluh kesah!.

Masalah itu terasa berat untuk dilalui karena kita lupa tersenyum!! | Doc cheng prudjung

Monday, February 20, 2012

Jangan Anggap Saya Ngelantur !!!

Pembicaraan dari hati ke hati dengan seorang teman membuatku sadar akan suatu kondisi bagaimana orang-orang memandangku, menilai dan menanggapi segala gerik kelakuanku. Walauapun penilaianku ini terlewat subjektif dan sangat spekulatif, tapi saya harus tetap melakukan spekulasi ini, karena pandangan, penilaian dan respon orang terhadapku sangatlah penting.

Saya takut dianggap tukang ngelantur, heboh dalam memaparkan ide dan kelewat batas membuat poin capaian. Saya takut segala omongan dianggap kata-kata yang mati, tak bersayap sehingga tak bisa berpindah; dari warung kopi berlari jauh hingga ke sebuah istana. Saya takut dianggap pembual. Saya takut teman-teman di sekelilingku tidak sadar siapa yang ada di sisinya dan tak pernah berfikir untuk menjadi teman seorang "Raksasa", atau paling tidak teman dari seorang yang tidak hanya sekedar miskin.

Kebuntuan nasibku sepertinya tersandung pada kenyataan yang seperti ini. Orang-orang terdekatkulah yang menghalangi jalanku menuju target yang kuinginkan, susahnya karena teman-teman yang kuharap menjadi pejuang untuk medan yang sama berfikir pesimis bahwa kata pasti lebih sembrono dibandingkan kerja. Kata bisa sampai ke langit tingkat ke tujuh, tapi kaki akan tetap berpijak di bumi.

Jika di pikiran mereka sudah takut untuk berjuang melakukan perubahan, bekerja keras untuk kesuksesan orang dalam jumlah yang besar, lebih banyak daripada statistika angka. Maka tak ada lagi harapan untuk maju, disanalah kata-kata KEBEBASAN bersarang. Kesejahteraan dan hidup bahagia tidak lagi sebuah kenyataan, hanya ide bahkan sugesti semata.

Saya malah lebih takut jika kata MERDEKA hanyalah media yang digunakan untuk membangun citra, sebatas citra. Dia tidak akan lebih dari sekadar fonem untuk mengekspresikan dunia pada dimensi lain yang tidak bisa mewujud pada kehidupan nyata, kehidupan yang nyata sepenuhnya untuk konteks manusia dimana dia hidup sekarang ini, betul-betul sekarang ini.

Perlu diketahui, mana kata yang "bersayap" dan mana kata yang hanya benda mati. Sampai saat ini, yang kupahami dan yang kupegang teguh: sebuah kata merepresentasikan sebuah kenyataan, sehingga alat untuk mengukur suatu kenyataan, atau "ADA" adalah katanya, sehingga ketika kata untuk sebuah kenyataan ada, walaupun secara eksperimental kita tidak pernah mengalaminya, dia tetap ada; bukan di mulut, bukan di akal pikiran, bukan pada imajinasi, tetapi di dunia.

Aih, saya takut orang-orang di sekitarku, teman-temanku masih menganggapku membual, masih menganggap mulutku ini punya otak untuk membangun imajinasinya sendiri. Tidak kawan, kuingin dapat kepercayaan dari kalian semua, bahwa sebetapa tidak seriusnya wajah saya dalam berkata-kata pasti kata itu akan hidup, pasti bersayap, dengannya kita akan sampai pada kata itu bersama-sama.

Saya tidak mau terus-terusan menjadi pecundang. Walaupun sekarang ini saya hidup sangat miskin sehingga kelihatannya tidak pantas menggapai target-target besar yang didorong oleh modal materi (uang) yang besar, saya masih tetap teguh untuk mengejar mimpiku: Hidup dan berjuang untuk orang banyak.

Sesungguhnya, untuk hidup dan berjuang demi kehidupan sendiri (pribadi) atau untuk keluarga; kaki, tangan, mulut, mata, dll tidaklah berguna. Kita bisa hidup cukup dengan perut dan kelamin saja. Tapi karena kita punya kaki untuk berjalan dan berpapasan dengan banyak orang, kita punya tangan untuk saling berjabak, kita punya mata dan otak untuk saling menatap dan mengingat rupa, kita punya mulut dan pikiran untuk saling berbagi, kita punya hati untuk saling mencinta, kita punya hidup untuk saling memahami muasal, kita punya telinga untuk saling mendengar jeritan, kita punya perut untuk saling berbagi koleksi dapur, kita punya kelamin untuk meramaikan dunia; agar kita bisa memberikan kesempatan untuk calon generasi berikutnya menikmati dunia yang telah kita pijak dan "hancurkan" sebelumnya. Kita punya kata-kata untuk saling percaya bahwa kita punya masa depan yang gemilang, bukan untuk kita semata, tapi untuk kita dan mereka. Semesta!

Tapi, saya terus saja takut, ahhhh jangan sampai catatan ini hanya dianggap sebagai bualan saja, dia hanya menjadi pemantik sekali dan setelah itu mati.

Jika perlu, kawan. Saya akan datang lagi kepadamu untuk memperkenalkan diriku: Ahmad Husain, anak seorang petani !!!

Sunday, January 22, 2012

Ternyata HP Android Belum Kubutuhkan !!!

Setelah lebih dari seminggu menggunakan HP Android (Sony Ericson Xperia X10 Mini Pro), dorongan untuk menyerahkannya ke tangan lain timbul. HP Android berhasil menyenangkanku di awal, namun setelah puncak rasa senang karena memiliki HP keren, Android lagiii, kebingunganku mulai datang bak penyakit musiman. Ahhh saya tidak membutuhkan Android.

Oia, kebingunganku ini bukan karena bingung menggunakan HP Android, walaupun awalnya sih bingung juga secara teknis bagaimana menggunakan dan memaksimalkannya. Kebingunganku tidak seperti cerita temanku bahwa temannya yang punya HP Android bingung bagaimana cara memanfaatkan Android untuk urusan komunikasinya, walhasil: HP Android itu tak ada bedanya dengan hape pada umumnya yang digunakan untuk menelfon dan texting (SMS) atau menggunakan opera mini/mobile untuk berselancar di dunia maya, menginstal aplikasi facebook for mobile untuk facebook-an, dan segalanya.

Kebingunganku bukan karena kebingungan dengan sistem kodifikasi program linux, saya rasa saya bisa mempelajarinya, toh ada teman-teman mahasiswa informatika di sekitarku siap membantu. Bukan pula kebingungan aplikasi apa yang menarik diinstal dari jutaan aplikasi yang tersedia di market android (malas shopping).

Kebingunganku ini tentang rasa ingin memiliki dan pemenuhan kebutuhan. Walaupun telah menginstal berbagai macam aplikasi, mulai dari urusan personalisasi tampilan, catatan pribadi, hiburan (utamanya streaming radio internasional), hobi (utamanya aplikasi blogger di Android), dan berbagai aplikasi pendukung lainnya: GPS, Game, Translator, Ebookdroid, dll. Saya kerap merasa bahwa apakah saya membutuhkan aplikasi tersebut ataukah hanya sekedar menikmati saja. Jika pun saya memang membutuhkan dan memanfaatkan aplikasi tersebut, apakah karena sebenarnya saya butuh ataukah karena aplikasi tersebut terlanjur terinstal di HP dan rajin memanfaatkannya???.

Pilihan yang terakhir itulah yang membuatku kebingungan, parahnya ketika mendewakan sebuah aplikasi yang tidak dibutuhkan tapi sebenarnya kerapkali dimanfaatkan. Jika panjang lebar kujelaskan persoalan piliha kedua itu, kemungkinan pembaca akan capek dan kebingungan sendiri, karena disana ada dua sisi yang akan ditelisik dengan dalam untuk dapat menakar kemurnian nilainya. Apakah tanganku yang memegang HP Android ini, ataukah HP Android ini yang sebenarnya memegang tanganku?.

Hmmmm, sepertinya untuk sementara ini saya hanya membutuhkan hape biasa saja, yaaa mungkin spesifikasi utamanya adalah: terintegrasi program JAVA, jaringan 3G, Dual Simcard. Oia jelas hapenya bisa digunakan untuk nelpon dan SMS-an. Hehehehe

#Siap-siap jual hape :D

Tuesday, January 3, 2012

Happy Birthday Komunitas Blogger Makassar: Anging Mammiri

Sebenarnya tak ada niat mengunjungi situs angingmammiri.org, walaupun telah menjadi anggota di komunitas blogger Makassar ini, saya jarang sekali mengunjungi situs tersebut. Bukan hanya situs tersebut, membuka gmail dan memeriksa email yang masuk dan merespon diskusi-diskusi di milis Anging Mammiri jarang kulakukan, malah dua bulan terakhir hampir tidak pernah menyapa lagi teman-teman disana.

Ulang Tahun Anging Mammiri ke 5, 25 November 2011 | sumber foto: angingmammiri.org
Di angingmammiri.org, saya baru tahu bahwa bulan kemarin Anging Mammiri berpesta memperingati kelahirannya dan kini telah berumur lima tahun, ada kesan tersendiri di benakku. Pelan-pelan, kuingat lagi seorang teman dekat sesama blogger yang juga anggota Anging Mammiri walaupun tidak aktif. Mengetahui para blogger Makassar selesai berpesta, entah apakah piring dan gelas kotor sudah dibersihkan atau belum, saya ingin sekali merasakan kehangatan di tengah blogger Makassar, saat bertemu dengan catatan “Ultah ke-5 AngingMammiri: Kesunyian Tak Punya Tempat di Sana!”. Kemudian saya mulai meraba sebuah pertanyaan, “Benarkah, guru????”.

Sebenarnya, dua kali saya mendaftar sebagai anggota di Anging Mammiri, entah pertama kali pada tahun kapan (2005 atau 2006), saat itu saya masih kebingungan bagaimana bergabung dengan komunitas tersebut, saya tetap memajang banner Anging Mammiri walaupun tidak pernah ikut serta dalam aktifitas komunitas, baik bercengkrama atau sekedar berucap salam di milis, apalagi kegiatan kopdar.

Kali keduanya, adalah 2011. Ketika disarankan oleh seorang teman untuk membuat blog dan bergabung bersama blogger Makassar di Anging Mammiri, sang teman ini tertarik melihat catatanku di facebook dan menyarankan agar lebih intens di blog dibandingkan di facebook. Akhirnya, blog ku yang mulai mengudara sejak tahun 2008 kini mulai aktif kembali.

Sejak bergabung dengan komunitas blogger Anging Mammiri, semangat menulis kian menjadi-jadi, saya selalu mendapatkan semangat dari teman-teman Anging Mammiri melalui postingan-postingan blog mereka yang kuintip secara diam-diam, malah pernah suatu kala kebingungan rasanya mengunjungi dan menikmati update blog mereka yang diumumkan melalui trit posting di milis. Ingin rasanya membuat kliping dari postingan pilihan yang “nendang”, penuh semangat dan inspiratif, sayang saya kurang telaten mengelola managemen file di laptop sehingga banyak “saved page” yang berhamburan dan akhirnya kubersihkan saja, pusing juga melihatnya. Hehehehe

Semoga tidak terlambat menulis catatan seperti ini, toh pesta telah lewat sebulan lebih, piring dan gelas kotor sudah bersih, dan mungkin kesan pesta yang seharusnya tetap di dinding benda itu tetap menempel juga telah ikut bersih. Namun semoga tidak ada yang marah akan catatan ini karena sebagai anggota Anging Mammiri, tentu saya termasuk dalam kategori anggota nakal yang tidak tahun kapan Anging Mammiri berulang tahun, sekarang saya sudah tahu walaupun terlambat. Di tahun kelima Anging Mammiri, saya terdorong untuk berkeluh kesah alias curhat.


“Anu skaliiii”, Katanya!
Teman dekat sesama blogger, anggap saja namanya Yandu’, yang kusebutkan di atas pernah mengeluh, tidak hanya sekali, terhadap komunitas blogger Anging Mammiri. Entah sejak kapan dia bergabung di komunitas kebanggaan blogger Makassar ini, tetapi ocehan-ocehannya tentang suasana berkomunitas di blogger Makassar membuatku tahu bahwa dia telah bergabung disana.

Bingung juga menanggapi temanku ini, dia adalah anak muda yang penuh semangat dan baik hati, dalam hal komunikasi dia tergolong person yang individualis, yaitu mudah berinteraksi dan bergaul dengan siapa saja dan komunitas mana saja karena tingkat kecemasan dan power distance-nya kurang. Dia mengikuti banyak komunitas, sehingga saya sendiri kadang kebingungan dimana dia aktif bergaul pada suatu saat.

Kecuali di komunitas blogger Anging Mammiri, kesannya berbeda. Kaget juga ketika mendengarnya berkomentar “Emmdede, anu skali disana, Cheng!!”. Hari-hari selanjutnya, dia mulai memancing dengan mengajakku membangun komunitas blogger Makassar sendiri, saya hanya tertawa dan kebingungan, anak muda ini terlalu bersemangat!.

Ketika kuajak berdiskusi tentang komunitas blogger, dia mulai banyak mengungkapkan perasaannya ketiga mencoba bergaul disana, kata yang kuingat dari mulutnya adalah: “Kapara diaji, Ucheng!”. Kata itu menghentakku, pelan-pelan saya juga mulai membenarkan kata itu.
Kekecewaanku masih membekas, saat itu idul fitri 2011 telah usai tapi suasana silaturahmi masih membekas lama setelahnya, teman-teman di Anging Mammiri merencanakan kopdar atau gathering atau apalah namanya saat itu, tujuannya adalah berwisata di pulau Kodingareng Keke. Entah tiga atau dua hari sebelum keberangkatan (saat itu sebenarnya jadwal keberangkatan belum pasti), saya mengecek email dan melihat infonya, lalu kusiapkan uang untuk turut serta (hitung-hitung ingin juga rasanya bertemu teman-teman sesama blogger Makassar). Sayangnya, saat itu saya sedang di sawah membantu orang tua, siang itu di tengah istirahat di bawah pohon pisang hambil menikmati sebotol sirup dan bangke-bangke, kucek email melalui hape, dan ternyata rombongan wisatawan telah beraksi, mengunjungi pulau Kodingareng Keke pagi itu.


Andai saja pagi sebelum mereka berangkat saya mengetahui infonya, pasti akan kukebut motorku untuk mengejar. Tapi apalah, siang itu terik matahari tidak hanya memudahkan bulir padi lepas dari batang jerami, niat bersilaturahmi dan berwisata pun lepas. “Kenapa infonya tidak lewat sms saja???, berapakah harganya sms ke semua anggota?”, kurang lebih begitu kataku dalam hati.
Pulau Kodingareng Keke:
Pulau Kodingareng Keke di Kecamatan Ujung Tanah Kota Makassar
Sumber foto: darimakassar.com
Melalui Yandu’, saya juga mulai ikut-ikut menerawang Anging Mammiri, sebenarnya tidak pantas karena saya tidak mengenali sama sekali komunitas dan anggotanya, kecuali tulisan dan foto-foto anggotanya yang dipublikasikan melalui blog. Saya belum pernah bertatap muka, baik kopdar atau berpapasan di jalan atau via webcam, saya tidak kenal sama sekali.

Tapi sebagai anggota, saya dan Yandu tentunya punya kesempatan untuk angkat bicara juga kan? Hahahaha. Sebenarnya, lebih parah lagi ketika Yandu mengungkapkan bahwa selain ikatan emaosional sesama blogger (passion-nya sama), kedekatan emosi institusional juga mempengaruhi, sehingga anak baru yang bergabung di Anging Mammiri (yang) tidak kenal sistem pergaulan institusional mereka kesulitan untuk coddo.

Menurutku, bukan persoalan institusional (kami menyebut satu isntitusi, tapi tak perlulah kuungkap dalam catatan ini) yang menyulitkan proses akrab kita (saya dan Yandu’) dengan teman-teman disana. “Kalau saya, persoalan beda umurjaki sama mereka, Yan”, kataku.

Pendapat tersebut ceritanya (argumentasi) begini: selain anggota di Anging Mammiri, saya juga anggota di Komunitas Blogger Malang (Ngalam). Berbeda dengan Anging Mammiri, blogger Ngalam diramaikan oleh anggota-anggota yang mayoritas mahasiswa dan SMA, di milis kuperhatikan banyak perkenalan dari anggota baru yang nyatanya adalah anak SMA. Saat mengikuti kegiatan blogger Ngalam yang bekerja sama dengan salingsilang.com (setelah di Malang, acara seperti ini juga dilaksanakan di Makassar), saya sedikit kaget, saya merasa sebagai peserta tertua diantara ratusan anak SMA, bahkan SMP yang diantara mereka didampingin oleh (entah) orang tua atau guru mereka. Waaaawww

Dari pengalaman tersebut, dapat kubandingkan bahwa Anging Mammiri tetap jagonya posting berkualitas dan semangat menulis tinggi yang mapan, sementara di blogger Ngalam (tidak termasuk sesepuhnya) sangat menjanjikan untuk hidup lama karena proses regenerasi menjanjikan, sumberdaya anggota mereka adalah anak muda calon penyokong bangsa.

Dan sistem pergaulan tentu saja dipengaruhi oleh rentang umur, gaya berkomunikasi, tingkat kesulitan wacana dankepentingan jelas sekali berbeda. Itulah salah satu alasan bagiku mengapa si Yandu’ ini kesal, hahaha. Saya sendiri, menanggapi persoalan rentang umur ini pernah juga kuperkenalkan bahwa saya adalah bapak dari seorang anak, tapi tetap saja tidak terpengaruh, mungkin mereka telah punya lebih banyak anak atau tidak sama sekali.


Capekma ....
Haaaahhhh, lelah juga menuliskan ini. Ada banyak pokok diskusi yang sebenarnya harus kuungkapkan di hadapan sidang Anging Mammiri yang kini telah berumur 5 tahun. Di momen atau di umur 5 tahun inilah rasanya cocok menyampaikan apa kata anggota sebagai bahan refleksi. Kuingat lagi catatan Daeng Rusle berjudul “Ultah ke-5 Anging Mammiri: Kesunyian Tak Punya Tempat di Sana!”, dan mulai merasa gele’-gele’ malu mencernanya. “Tabe daeng, kalau bisa saya bertanya: Kita’ kenal Yandu’???”.

Selamat ulang tahun ke 5 Anging Mammiri | selamat beramai-ramai buat teman-teman yang membenci kesunyian, atau malah membenci kami karena sudah terlanjur merasa sunyi. Makassar memang tidak kasar, tapi PACCEI.

Sunday, January 1, 2012

Harga Ikan Gurami

Pernah gak kamu ke pasar dan membeli ikan?, saya pernah! Ke pasar dan membeli ikan bukan hal asing bagiku, keluargaku adalah pedagang pasar tradisional di Galesong (Kabupaten Takalar), dan Galesong merupakan salah satu Bandar ikan terbesar di Sulawesi. So, pasar dan ikan bukan hal asing buatku.

Bau amis, lagak dan penampilan penjual ikan yang khas tidak pernah menggangguku, malah saya senang melihat para pedagang ikan di pasar, gayanya tidak beda dengan pedagang ikan di (pasar) kampung halaman, hanya berbeda suara dan semangat tawar menawar saja.

Hari kemarin, hal baru kutemukan di pasar saat mendampingi teman membeli ikan di pasar. Sore itu, beberapa penjual ikan berjejer di depan pasar Blimbing, di pinggir jalan raya. Beberapa diantara ikan yang tersedia di sana adalah bandeng, patin, gurami, kakap, hiu, lumba-lumba dan paus. Diantara ikan-ikan itu, saya tertarik dan senang rasanya menyaksikan ikan gurami yang masih hidup berenang sesukan hati di dalam box ikan.

Iwak urip, iwak urip!!! (Ikan hidup)”, teriak penjual ikan yang berbadan kekar dengan beberapa tato di kedua lengannya kepada jalanan.

Beberapa pengguna jalan singgah, mereka yang naik motor melintah pelan dan singgah sebentar menyaksikan ikan gurami hidup tanpa trun dari motor. Seseorang datang, perawakannya biasa saja, jelas ekali kalau dia penganut ekonomi lemah yang pada pemilu kemarin memilih SBY. Spontan sambil tersenyum bahagia, dia berkata: Senneng aku ndeluk iwak urip !!! (Aku senang melihat ikan yang masih hidup).

Saya tersenyum kepadanya, menyaksikan senyumnya sangat menyenangkan. Pria tua dengan kaos oblong hijau tua dan celana levis urakan, mungkin di saku belakannya tersampir dompet yang isinya kurang dari lima puluh ribu, atau kurang dari dua puluh ribu malah, berdiri lama di samping box ikan tanpa bertanya berapa harga ikannya.

Senang rasanya. Senang melihat pria tua miskin ini tersenyum bahagia hanya karena menyaksikan ikan hidup. Saya membayangkan andai saja dia diundang berkunjung ke istana dan bertemu langsung dengan SBY, dia pasti lebih memilih melihat ke arah ikan yang berenang di dalam akuarium istana dibandingkan memperhatikan wajah SBY yang banyak bicara. Tapi itni kalau istana Negara punya akuarium di ruang penerimaan tamu miskin seperti pak tua ini.

“Syukurlah kalau mereka masih punya kebahagiaan, walaupun sumbernya dari beberapa ekor ikan yang berenang di dalam box itu, bukan dari pemimpin yang telah menjanjikan kebahagiaan kepada mereka sejak 2004 lalu”, kataku dalam hati.

“Harganya berapa, pak?”. Tanya temanku kepada penjual ikan.

“Yang mati: 30.000. Yang hidup: 32.000”, kata penjual ikan sambil menunjuk ke tumpukan ikan gurami yang telah mati dan ke ikan gurami yang masih hidup di dalam box.

Lucu rasanya mendengar harga tersebut, nyawa itu harganya cuma 2000 saja. Ouh, begitukah???

Terlintas bayang-bayang kelam kehidupan, perdagangan manusia, peperangan, hingga kejahatan hak asasi manusia. Jangan-jangan kita sudah tidak lagi menganggap bahwa nyawa itu adalah perangkat paling berharga dalam kehidupan selain kehormatan.

Cuma ikan memang, tapi harga ikan itu menjadi cermin bagiku, cermin melihat perilaku manusia sepertiku yang lebih memperhatikan tampang, penampilan seseorang atau hal-hal materialistis lainnya tanpa menengok esensi eksistensinya.


Berapa harga nyawaku sendiri? Hahahaha

Dunia ini bukan pasar, dimana kepentingan atau kebutuhan dipertukarkan, kemampuan atau kecakapan diperjual belikan sehingga citra hidup manusia yang awalnya sangat social bergeser menjadi sangat ekonomis. Kau akan dianggap hidup dan bernyawa jika memiliki tenaga, kecakapan, dan jaringan. Tanpa itu semua, kau adalah mayat hidup yang dipermainkan tuhan, diciptakan dan ditinggalkan begitu saja menjadi bahan ejekan manusia yang berharga mahal.

Berapa harga nyawaku??? Hahahahaha

Tergantung bagaimana sang bos mengupahi, tergantung berapa isi amplop yang diterima saat pemilu. Dan tergantung berapa banyak duit yang ada di dalam dompetku. Itulah harga kita, harga manusia. Aihhh, pedih rasanya memikirkan ini terlalu lama, menulis pun menjadi tidak konsen lagi memikirkan beta lalimnya manusia di hadaan harga, betapa rendah dan datarnya kehidupan dengan tuhan uang.

Berapa harga nyawaku????

Tergantung seberapa kuat tubuhku mengolah sawah dan menjual hasilnya, tergantung seberapa cerdik para politisi mempermainkan opini dan meramu wacana. Harga hidup yang dahulu kala tak pernah disentuh harga, kini mulai dihargai dan harga itu adalah sudut pandang paling utama dalam memandang manusia lainnya yang mempengaruhi kita dalam memberikan atau merespon orang lain dalam kehidupan sosial.

Memang cuman ikan kawan, tapi ikan gurami dan pedagangnya itu menjadi cermin bagiku membangun refleksi di akhir tahun, sungguh materialism telah menguasai kehidupan kita, sehingga cinta tidak lagi disimbolkan dengan bunga mawar, tetapi pertamina (bensin): motor dan mobil, parahnya lagi jika disimbolkan oleh kondom: Ahhhhh betapa harga anak-anak di generasi mendatang lebih murah dari kondom di pasar, karena mereka lahir dari kondom produk gagal.

Berapa harga nyawaku? Silahkan menawar kawan !!!

Friday, December 30, 2011

Pengen Punya iPad !!!

Sejak semalam, saya mulai bercita-cita memiliki iPad, walaupun sebelumnya saya memandang sebelah mata gadget yang ikut mempopulerkan nana Steve Jobs (CEO Aple yang pertama kali memperkenalkan iPad). Sebelumnya, iPad kuanggap teknologi digital baru yang belum diperlukan oleh masyarakat luas, mahasiswa sepertiku belum memenuhi kriteria untuk masuk daftar konsumen iPad.

iPad yang kini hadir dalam dua generasi menggoda minatku, ceritanya kurang lebih seperti ini: Tadi malam saya menemui beberapa teman yang sedang menikmati suasana warung kopi Garasi. Salah seorang teman (Jaka) sedang asik dengan barang baru yang mengaburkan mataku. Karena dia duduk sambil menundukkan kepala, saya ikut menundukkan kepala untuk memeriksa wajahnya, apakah dia benar-benar Jaka?.

Dialah yang pertama memperkenalkan iPad kepadaku, gadget imut yang manis, sangat sensitif dan dalam (entah layarnya memiliki berapa bit warna). Saya mengambil posisi duduk tepat disebelahnya kemudian memaksanya meminjamkan gadget itu. Ratusan pertanyaan terlontar bagaimana menggunakan dan menikmatinya.

Ketika dalam genggamanku, beberapa kali tampilan layar yang landscape berubah menjadi portrait tanpa kusengaja, saya harus memutar-mutar layarnya agar tampilan kembali ke mode landscape seperti yang kuinginkan, walaupun memang ada aplikasi yang harus dijalankan dengan mode portrait. Jaka kebingungan melihat tingkahku memutar-mutar layarnya, hahahahaha.

Kugesekkan jariku dengan lembut di atas permukaan layarnya yang halus, secara otomatis gambar-gambar yang merupakan ikon aplikasi dalam layar tersebut bergerak, berpindah, bertukar tempat dengan ikon aplikasi yang sebenarnya dipanggil oleh gesekan jariku. Saya menikmati gesekan demi gesekan di atas layar kaca yang halus itu, tanganku terasa (nyaris) tidak menyentuh apa-apa, seperti membuat gerakan menggesek sebagai isyarat saja, dan dengan pintar para ikon aplikasi ini bergerak sesuai isyarat jariku.

marilyn monroe and ipad
Marilyn Monroe dan iPad


Lelucon Lima Jari
Teman-teman pasti tidak asing lagi dengan istilah mengetik dengan sepuluh jari. Istilah tersebut kian usang oleh berkembangnya teknologi yang memfasilitasi dunia tulis menulis. Mengetik dengan sepuluh jari menandakan zaman kerja keras, kedua tangan diletakkan di atas keyboard dan siap untuk menekan tuts-tutsnya, sementara pandangan mata terfokus ke layar monitor menyaksikan tuts apa saja yang ditik oleh kesepuluh jari itu.

Gaya mengetik semakin maju, saya sudah merasakannya saat iPad milik Jaka itu berada di tanganku. Saya tertawa kecil sambil menggeleng memuju kecanggihan iPad serta kreatifitas Steve Jobs dalam merancang gadget digital yang sangat manja. Bayangkan saja pemirsa, saat tanga kiri anda memegang gadget ini, sementara lima jari di tangan kanan anda sibuk menari di keyboard screen iPad, dan pandangan anda tak perlu lagi terganggu karena harus bolak balik memandang monitor dan keyboard.

Ahhhhh, sepulang dari Garasi, kuhampiri teman di kontrakan dan mengatakan padanya bahwa saya pengen punya iPad, temanku hanya tertawa. Saat dia sibuk mengetik, merangkai kata untuk update status di facebook, kusindir dia: Aduhhhhh skarang tidak jaman lagi mengetik dengan sepuluh jari dinda. LIMA JARI donggg !!!!.

Kami terbahak-bahak dan pelan-pelan kembali ke dunia nyata!.

Semuanya adalah Sensasi
Semalaman, sentuhan-sentuhanku pada layar iPad tak bisa kulupakan, entah apakah si iPad juga tak bisa melupakan sentuhanku atau sebaliknya. Perasaan senang saat memangku iPad dengan kedua tanganku, membukanya, mengayunkannya, memutar layarnya, menaksir berapa beratnya... ouhhhhhhh sensasi itu indah sekali. Belum lagi ketika kubuka Safari dan mengetikkan alamat blogku disana, aku hampir berjingkrak sambil berteriak karena kegirangan melihat blogku dibuka dan tampil di layar iPad yang memukau. Swinggggg swingggg, #terbanggggggggggggg!

Ouh dunia, ouhhh teknologi, ouhhhh perkakas digital yang kian tahun kian memanjakan perasaan, merangsang titik-titik sensasi dalam diri hingga rasanya ada yang berpendar berpendar seperti permukaan laut yang berlinang cahaya. Sejenak kesadaranku hampir hilang didorong keinginan untuk memiliki iPad, tujuanku hanya satu yakni untuk memaksimalkan kegiatan menulis dan update blog.

Belakangan baru kusadari bahwa ada sekitar 60.000 aplikasi yang available, menunggu para pengguna iPad memaksimalkannya, sementara saya hanya memimpikan iPad untuk kegiatan menulis? Hanya 1 aplikasi yang ingin kupenuhi diantara 60.000 aplikasi digital yang tersedia. Ahhhh saya mulai gila, sensasi sudah mulai menjadi monster berbusana cantik, mirip Camilla belle dalam gaun latin yang indah, atau seperty Mary Elizabeth Winstead dalam busana sporty sambil tersenyum dengan matanya.

Benarkah saya benar-benar menginginkan iPad??? Jawabannya tentu saja YA saya benar-benar menginginkannya, akan tetapi saat pulang dari menyaksikan konser Kirsten Dunts dan bertemu dengan seorang yang misterius, berambut keriting dan berkulit hitam dan penuh senyum keramahan (mungkin dia adalah Morgan Freeman) bertanya kepadaku, “APAKAH KAU BENAR-BENAR MEMBUTUHKANNYA???”, saya terperanjat dan mulai berfikir lebih jernih.

Saturday, October 15, 2011

Bunuh Diri; Ketika Pribadi Tak Kuat Merangkum Masalah

"Kuat! Kuatlah menjalani hidup ini".
Tak ada kutipan (quotation) yang kudapatkan dengan bunyi seperti itu, padahal aku menginginkannya, aku membutuhkannya agar aku tahu bahwa ada orang yang sadar bahwa kehidupan ini berat, penuh tantangan dan tidak selalu menyenangkan.

Saya tidak mau mengutipnya untuk diriku sendiri, terlalu naif, hidup ini terlalu sepi, tak ada orang lain yang memiliki "sambungrasa kemanusiaan".

Malam ini, tubuhku terasa lemas, kedua batang kakiku tergeletak layu. Keinginanku menjauh dari rumah sangat besar, namun tubuhku berkata lain. Berkali-kali kuhela nafas panjang, kuperdengarkan lenguhannya pada dinding kamar tak berperasaan. Kuhisap sebatang rokok, aku semakin payah.

Kelelahan yang dialami tubuhku sebenarnya tak seberapa berpengaruh dibandingkan kelelahan otak yang mengolah segala masalah menjadi masalah besar. Memori "memperlihatkan" semua rangkuman masalah yang kuhadapi dan belum tuntas. Ingatkah teman-teman pada peribahasa, "Bersatu kita teguh ..."?. Seperti itulah yang terjadi di kepalaku, memori memfasilitasi persatuan masalah, hingga akhirnya mereka menjadi monster raksasa yang mematahkan semangatku.

Kudirikan sholat untuk mengharap ketenangan hati, namun entah si "mutmainnah" berlari dan tersesat dimana. Aku mengeluh dengan puluhan lenguhan.

Hidup ini berat, kataku dalam hati. Namun, berbeda jika kita jalani bersama orang lain. Itulah sebabnya aku membutuhkan seseorang yang menegaskan padaku, menyadarkanku bahwa hidup ini berat, agar kepalaku dapat "kusetel" untuk menghadapi gempuran permasalahan yang narsis di kepalaku.

Akan terasa sedikit ringan jika ada teman. Namun (sekali lagi), jika teman yang dipercaya ini yang juga menjadi sumber masalah, aishh entah ke arah mana dunia ini berputar. Kekiri atau ke kanan?

Biasanya, dengan kondisi seperti ini, masalah-masalah yang menggerogoti fikiranku dapat kuatasi dengan melepasnya satu per satu pada setiap nafas yang terbuang dari dadaku. Kali ini, aku seperti pecundang. Apakah ada waktu dimana diri kita tak bisa menangkal sistem-sistem yang berjalan di dalam diri kita?

Aku butuh teriakan, aku butuh perkelahian, aku butuh pukulan, aku butuh gelas pecah. Aku butuh sesuatu yang bingar, agar perhatianku pada kemacetan arus informasi di kepalaku dapat teralihkan. "Everybody need somebody".

Tuesday, October 11, 2011

Makan Malam yang Indah

(Awalnya, tulisan ini kuberi judul: Akkaddokang Taipa Soro ri Lantang Bangngia )

“Malam ini kita makan apa?”, Tanyaku pada Umi. “Cuma ada nasi dan sambal ikan teri yaa”, kataku menjawab pertanyaanku sendiri. Umi hanya terdiam sambil memandang sesuatu.
---

Di sampingku, Umi sudah mengeluh kedinginan, waktu memang sudah menunjukkan jam 11 malam, namun saya tidak merasakan dingin yang memaksaku pulang ke rumah. Saya masih tetap asik dengan laptop mungil yang terkoneksi ke internet.

Hanya rasa lapar yang kemudian mendorongku pulang ke rumah. “Kenapa tidak singgah beli tahu telor aja tadi?”, Umi mengeluh karena saya memelas membayangkan makan malam dengan nasi dan lauk sambal ikan teri.

Akhirnya kuputuskan untuk pulang, namun sebelum meninggalkan area hotspot di gedung ICT kampusku, saya teringat dengan buah mangga yang bisa menjadi penikmat makan malamku, pohon mangga itu terletak di sebelah timur area hotspot tempatku melakukan hobi berselancar di dunia maya.

Selain Darno, teman dari Sulewesi yang juga mahasiswa Unmuh Malang, ada juga Aan, mahasiswa UMI Makassar yang “Numpang hidup” di Malang. Dialah yang kumintai pertolongan untuk mengambilkan beberapa buah mangga. “Mau kupake untuk makan malam, ces”, Kataku pada Aan.

Setelah menggengam 5 buah mangga dengan ukuran berbeda-beda, saya dan Umi pulang ke rumah. Di perjalanan kudiskusikan status halal-haram 5 buah mangga yang kubawa pulang itu.

“Tentu saja halal, mangga ini tumbuh di kampus, trus kita kan udah bayar SPP, berarti ini mangga kita juga”. Kataku.

Akhirnya, buah mangga paling kecil telah tersedia. Mangga rica-rica atau apalah istilah sebenarnya. Kubumbui dengan garam dan vetsin serta 4 buah cabe. Nikmat sekali makan malam ini.

Menu mangga rica-rica memang kegemaranku, jika di Makassar sedang musim buah mangga, menu ini sering tampil di meja makan, pasangannya adalah ikan bakar atau ikan kering. Di keluargaku, hampir semua anggota keluarga menikmati menu ini, walau hanya ada ikan terbang (sebelumnya sudah diasingkan dan dikeringkan, orang Makassar menyebutnya ikan tuing-tuing) dan rica-rica mangga, makan akan berjalan sangat seru, tak cukup jika hanya menghabiskan 2 piring saja.

“Ini (rica-rica mangga) paling enak dimakan pake ikan apa, Kak?”, Tanya Umi saat kami menikmati makan malam berdua.

“Ikan tuing-tuing”. Menurutku ini yang menyenangkan.

Sedikit melenceng dari pembicaraan makan malam. Di kampungku, Galesong, buah mangga sangat mudah didapati, ada banyak pohon mangga yang eksis disana, baik tumbuh di halaman rumah, kebun maupun tempat lainnya yang tidak termasuk di pekarangan rumah. Banyaknya pohon mangga yang tumbuh mungkin membuat buah mangga terasa sangat biasa, sehingga kenikmatan yang dikandungnya sidikit tersisih. Namun bagi beberapa orang, salah satunya ayahku, buah mangga adalah favorit. Tak berlebihan rasanya jika kukatakan buah mangga bagi ayahku adalah buah dari surga yang tumbuh bebas di Galesong.

Saya sendiri mungkin mewarisi ‘sistem cita rasa’ ayahku, namun lebih tepat jika dikatakan bahwa buah mangga bagiku adalah buah penawar rasa rindu, sehingga saya yang telah (agak) lama hidup di tanah orang sangat menggilai buah ini. menikmati sebuah mangga tidak lagi terbatas hanya pada rasa yang dikandungnya, tapi sampai pada kesan kebahagiaan yang terangkum dalam buah mangga.

Makin jauh pembicaraan kita. Ada lagi buah favorit selain mangga, (entah nama buah dalam bahasa Indonesianya apa) Rappo-rappo atau Coppeng dan Bu’ne. Kedua buah ini sangat nikmat bagiku, kenikmatan yang kumaksud tetap tak terbatas hanya pada rasa, namun pada kisah masa anak-anak yang terkandung padanya, baik masa kanak-kanakku maupun kedua orang tuaku, saya banyak mendengar kisah anak-anak hingga remaja mereka dengan menyebutkan dua jenis buah ini.

Maka makan malam ini begitu nikmat dan indah, karena dengan buah mangga, bukan hanya lidah dan perutku saja yang merasakan ‘dirinya’ namun memoriku pun kembali pada puluhan tahun ketika saya masih kanak-kanak. Saya masih ingat bagaimana ayahku memanjat pohon mangga dan memetik buahnya (bantu saya menerjemahkan kata : annompong, ke dalam bahasa Indonesia) hingga terkumpul buah mangga dalam jumlah besar, buah mangga tersebut dijual di warung setelah dijadikan manisan mangga.

Masih teringat jelas dalam kepalaku, ketika aku bangun di subuh hari, bahkan sebelum adzan subuh berkumandang, dan bersama temanku keluar rumah dengan sulo dan mendatangi beberapa pohon mangga, memeriksa rumput atau permukaan tanah di sekitar pohon itu, mungkin ada buah mangga masak dan jatuh ke tanah yang dapat kami nikmati di siang hari saat bermain.

Aih, aku tersenyum begitu saja saat mengingat masa-masa ini, belum lagi kisah-kisah saat ‘berburu’ Comppeng dan Bu’ne. Sungguh indah, sungguh masa kecil yang mengagumkan, masa kecil yang polos namun sengatan energi kepolosan ini membuat hidup yang beranjak dewasa tersadar, bahwa jutaan kebahagiaan dan keindahan menyejarah dan hampir terlupakan. Selamat menikmati makan malam anda.

Tuesday, September 27, 2011

Karaeng Galesong Mungkin Kesepian

Aku bingung menuliskan kegelisahanku ini, syndrome yang menyerang penulis pemula menyerangku. Namun aku menerima itu, toh dalam menulis soal karaeng Galesong Tumenangan ri Tappa’na aku masih dalam tahap memulai, walaupun banyak “chemistry” kutemukan sejak aku sadari bahwa aku tergerak untuk menggali kisah tentang Raja yang satu ini, seorang Raja yang mungkin merasa kesepian disana.

Hampir 5 tahun aku menetap di Malang dalam urusan studi mengejar status sarjana, namun baru sekali aku mengunjungi makam Karaeng Galesong di Ngantang, itupun baru-baru ini bersma seorang teman yang sama sekali tidak tahu kalau ada jendral perang yang gagah perkasa melawan penjajahan Belanda, mengabadi disana. Hari itu, Sabtu tanggal 24 September 2011, aku mengunjungi makam sang karaeng yang masih menjadi tanda tanya di benakku.

Aku kesulitan menuliskan apalagi mengurutkan informasi-informasi yang menyentak kepalaku soal jejak kehidupan sang karaeng. Tak banyak yang tahu, olehnya itulah dia kalah popular dengan kawan seperjuangannya meruntuhkan kerajaan Mataram, Pangeran Trunojoyo. Aku pernah berfikir, andai saja karaeng Galesong tidak berkawan dengan Trunojoyo, namanya tak akan termaktub dalam kitab manapun. Bagaimana tidak, kesan yang selalu kurasakan saat membaca literatur yang menyebutkan Karaeng Galesong selalu termarginalkan dalam wacana, dia menjadi pembantu Trunojoyo dalam mengalahkan Mataram. Bukan hanya itu, aku kadang dibuat sinis tanpa sadar ketika Karaeng Galesong dianggap sebagai pemberontak ketika ia datang ke pulau Jawa.

Sebelum melanjutkan tulisan ini, kuharap ada seseorang yang melontarkan pertanyaan; Apa yang mendorongku menuliskan karaeng Galesong?. Jawabanku; aku belum berhasil merangkum jawaban untuk pertanyaan ini, bahkan aku sendiri pun merasa bingung apa yang menyebabkanku terobsesi pada petualangan mengejar kisah ini. Kadang, ketika fikiranku merasa lelah dengan kata Galesong, aku selalu menghalaunya dengan dalil-dalil subjektif, bahwa aku adalah anak muda yang ditarik oleh kekuatan sejarah untuk mengejar serpihan sejarah seorang raja yang “dijahati para penulis” (jika ada penulis yang pernah menulis tentang karaeng Galesong dan merasa tersinggung dengan istilahku ini, tolong beranikan diri anda untuk meluruskan kekeliruanku).

Aku selalu berfikir, kenapa orang Makassar yang memperkenalkan dirinya sebagai kaum pemberani, malah tidak berani mengungkapkan sejarahnya, atau bahkan tidak berani mempelajari sejarahnya di tengah wacana sejarah yang didominasi oleh kaum tertentu yang memang cerdas memperkenalkan sejarah mereka. Tolong jangan anggap ini sinisme yang chauvinis, saya tidak bertujuan menyerang suatu kaum, yang saya sesalkan hanyalah hilangnya kisah-kisah kepahlawanan oleh kuatnya arus wacana sejarah yang didominasi oleh hikayat/sejarah tertentu. Tidak cukupkah kerajaan yang dihikayatkan besar ini menguasai nusantara dengan dominasi kekuatan lewat jalan peperangan? sehingga mereka pun tetap berusaha menguasai wacana, agar kami, orang yang tak termasuk dalam 'fans' sejarah yang besar itu dipaksa untuk menghafalnya.

Tolong jangan terlalu perfeksionis membaca catatan ini, aku baru memulainya, aku hanya kesulitan membangun alur saat ini, sehingga aku tak mengerti apakah tulisan yang anda baca ini adalah catatan yang pantas dibaca atau tidak, mohon tetaplah membacanya.

Saat mengunjungi makam karaeng Galesong, perasaanku biasa saja. Hingga kuceritakan kepada temanku tentang apa yang terjadi padanya, sepengetahuanku saja, setahuku. Jika ada informasi salah yang kusampaikan padanya, itu bukan karena mauku, namun karena orang-orang yang memberikan informasi tentang sosok raja ini. Saat bercerita pada temanku itulah perasaanku tertekan, terasa betul perubahan emosional ini, aku mulai terharu namun kusembunyikan dari perhatian teman yang baik ini, aku hanya memunguti daun kuning yang berjatuhan di sekitar makam yang berbentuk persegi di permukaan. Hanya itu bakti yang bisa kulakukan dalam kunjunganku itu, memunguti dedaunan kuning yang jatuh sambil berusaha menguasai perasaanku, toh ketika melakukan ziarah kubur, kita harus terus menjaga emosi, jangan sampai larut.

Hatiku terdorong membacakan Al-fatihah untuk beliau, namun aku urungkan, rasanya aku belum suci untuk itu. Dalam kompleks pemakaman itu (makam karaeng Galesong dan beberapa makam lainnya dipagari dengan batu bata besar yang disusun, bagian terluarnya adalah pagar besi --entah apakah itu benar-benar besi atau tembaga-- itulah yang kusebut kompleks pemakaman, walaupun diluar pagar itu ada banyak makam), ada sebuah ‘vehicle’ mirip rumah merpati bercat hijau, tertulis disana “Ini adalah tempat yang Suci, Hindarilah kemusyrikan”.

Temanku, melontarkan beberapa pertanyaan, salah satu pertanyaan yang kujawab seadanya adalah makna dari tulisan arab yang termaktub di prasasti tersebut, sebuah ayat yang dikutip dari surah Al-Baqarah ayat 154. Kukatakan: janganlah kau anggap bahwa orang yang berjuang di jalan Allah betul-betul mati, sesungguhnya mereka hidup, namun kau tak menyaksikannya/menyadarinya. Itulah jawabanku saat itu, kaata terakhir aku tak begitu mengerti, apakah benar artinya ‘namun kau tak menyaksikannya/menyadarinya’ atau apalah.

Saat menerjemahkan ayat itu, aku hampir meneteskan air mata, ada yang ‘menggedor’ diriku dari dalam. Entah apa yang mendorong para Jama'ah Anshorullah memilih ayat tersebut untuk dituliskan pada prasasti sang raja ini.

Pertanyaan selanjutnya yang kujawab adalah, arti julukan “Tumenanga ri Tappa’na”. Sekali lagi, aku menjawab sekenanya, kukatakan pada temanku bahwa artinya adalah; Orang yang mati dalam mempertahankan keyakinannya (tolong luruskan jika keliru).

Aku terbawa perasaan.


Beberapa lama kemudian, datang dua orang peziarah ke makam karaeng, mereka mengucapkan salam pada kami dan kami jawab. Kubiarkan mereka bertanya duluan kepadaku karena mereka lebih tua dari kami berdua.

Mereka berdua adalah penduduk asli Malang, dari mereka kuketahui bahwa mereka bukanlah keturunan Makassar. Pengakuannya ini yang menarik perhatianku sehingga kutanyakan pada mereka; kok tahu karaeng Galesong?.

Mereka mengetahuinya dari teman, dan mereka kagum terhadap sosok Karaeng ini. Tentu saja kutelusuri lebih jauh perihal informasi yang mereka miliki tentang karaeng Galesong.

Mereka berkata bahwa sedikit sekali orang yang mengenal Karaeng ini, bahkan mereka juga bingung mengapa ada anak muda yang tahu soal karaeng Galesong. Dari mereka kuketahui bahwa sang raja memiliki suatu ajaran, bahkan ketika mereka mengetahui aku berasal dari Galesong, mereka menanyaiku apakah aku mengerti soal ajarannya?, dalam benakku; ajaran apa pula ini.

Ternyata mereka berdua adalah “petualang” (mereka menyebut diri mereka begitu; “yaaa, karena bertualang seperti ini akhirnya kami tau beliau”), mereka berusaha menggapai maqam sufi. Saat kami duduk dan berbincang, aku tahu bahwa mereka memang sedang dalam “perjalanan rohani”, perbincangan kami memang perbincangan rohani, sufistik. Entah mengapa terarah kesana, padalah aku hanya bertanya apa ajaran karaeng galesong yang mereka ketahui, mereka hanya menjawab bahwa ajaran beliau itu sudah termasuk dalam apa yang mereka sampaikan kepada kami. Saat kupaksa mereka untuk menjelaskannya semakin jauh, aku hanya dituntun untuk membaca kisah-kisah Syekh Siti Jenar.

Karaeng Galesong …. ? pertanyaanku tertahan. Aku tak tahu kalau sang raja dekat dengan ajaran tasawuf. Aku semakin ditarik memasuki petualangan yang kian gelap.

Setelah adzan Ahsar berkumandang aku bergegas mengakhiri perbincangan, suasana sepi dan tenang harus terbongkar olehku, sebenarnya materi perbincangan kami yang mulai tak menyentuh tanah sehinggah aku merasa capek sendiri mengolahnya. Aku mencatat beberapa poin dari hasil percakapan kami, namun untuk menuliskan ulang, aku rasa terlalu sulit, catatanku itu terlalu sufistik untuk anak muda dengan semangat yang menggelora sepertiku. Wallahu a'lam bissawab

Sunday, July 17, 2011

Tubuh yang Melemah

Aih, tubuhku sudah mulai menunjukkan kelemahannya, sedikit-demi sedikit kurasakan kekuatan mulai menjauh. Aku masih ingat bagaimana aku menggunakan kemampuan sugestiku untuk merasakan kenyang hingga tiga hari, saat ini tidak lagi.

Masalah lainnya lebih tidak enak, kondisi tubuh yang melemah mempengaruhi kerja otakku, jika dalam kondisi lapar bisa kurasakan bagaimana otakku mencerna informasi dengan begitu bagusnya, bibit-rasa malas tidak sedekat saat ini, dan aku merasa ketika lapar, produksi kepalaku sangat baik.

Dan apa kata yang patut, aku memang jaarang berolahraga, semakin terbiasa berada di bawah tekanan fikiran-fikiran liar, semakin kusut rasanya hingga susah kujamah apakah ide yang muncul di kepalaku adalh buah dari proses berfikir atau jejak-jejak imajinasi saja. Dilain sisi, emosiku cukup tenang kecuali pada beberapa hal, yakni sesuatu yang kuaanggap begitu bodoh ketika berinteraksi, aku tidak dapat mengakomodir ide, menerimanya dengan penuh rasa hormat, malah cenderung menyerang ide tersebut, yap menyerang dengan kondisi yang tidak menyenangkan. Sama sekali.

Ingin rasanya punya uang banyak dan memenuhi segala dorongan nafsu, tapi ini lebih benar dikatakan immajinatif dibandingkan solusi, sebenarnya yang kubutuhkan hanya jalan keluar, dan rasanya jalan keluar tersebut adalah teman dengan pemikiran segar. Jujur saja, beberapa bulan terakhir ini memang tak ada lagi pikiran-pikiran segar yang kutemukan, baik datang dari diriku sendiri, maupun dari teman-teman sekelilingku.

Aih, dengan kondisi begini semuanya terasa begitu dingin. Tak terbayang bagaimana kesadaranku akan mengakui masa tua ketika aku hadir di depan cermin dengan wajah yang tak “itu” lagi. Aku merasa semakin tua dengan refleksi-refleksi seperti ini. Something, please !!!

Tuesday, March 15, 2011

Apa itu Rumah? - Catatan Kerinduan Pengganti Tahajjud

Keterus-terangan ini semoga menjadi obat 
Persahabatan atau pertemanan akan sangat terasa jika kita dilupakan 
Tak usah ke puncak gunung untuk menikmati melankoli, di kamar sepi dan di hape tanpa dering, kita akan dapatkan, dalam realitas yang kecil, Pram harus memasukkanku dalam “Mereka yang Dilumpuhkan”. 

Pertanyaan dasar malam ini adalah, Apa itu rumah?. Imajinasi yang mencari jawaban akan pertanyaan ini adalah teks tersembunyi yang kukirimkan padamu para pembaca. Aku berusaha menuliskan ide-ide yang sangat subjektif kepadamu, namun kata-kata yang kuramu di kepalaku tak mampu menembus alammu sendiri. Biarkan imajinasi itu melangkah jauh, agar pesan-pesanku sampai padamu dalam medium yang banyak. Kecuali kau dapatkan pertanyaan ini dari orang lain, imajinassi itu bukan milikku. Inilah satu-satunya jalan bagiku, menyampaikan perasaan paling dalam pada kalian, para pembaca.

Kenapa harus rumah yang jadi persoalan?. Anggap saja karena kosa kata ini mulai pupus diasah zaman. Ketika pasar menjadi kamar pribadi kita, dimana lemari-lemari adalah wujud lain dari kompleks toko atau rak dagangan yang terhambur di “pasar”. Anggap saja karena kosa kata ini mulai pupus diasah zaman, dimana ruang makan adalah daftar kafe atau warung makan mewar yang siap sedia kita kunjungi sesuai jadwal. Anggap saja, ruang keluarga adalah internet, handphone atau berbagai rupa alat komunikasi yang menggantikan jabatan tangan dengan teks “Apa kabar, sayang”.

Realitas ini yang mengantarku menjadi anak muda yang rindu dengan rumah. Kalaupun aku berada di rumahku yang sebenarnya, disana hanya akan kudapatkan seorang ayah dengan parasit uang, ketika mereka memandang kami sebagai benda yang akan makin mengkilap jika digosok dengan uang. Keringat mereka adalah uang, dan uang mereka adalaah kasih sayang kepada kami. Ketika masakan ibu, menjadi pemacu pertumbuhan tubuh kami, penyengar tubuh dalam melaksanakan kegiatan setiap hari.

Adik-adikku akan menuruti apa kataku, karena mereka adikku. Dan aku akan kebingungan menasehati mereka, alasannya jelas. Kakak macam apa aku.

Ada rumah lain, jika kutuliskan pengalaman organisasi di selembar kertas, maka harusnya aku adalah anak muda yang kaya dengan pengalaman organisasi, ramai akan teman yang menjadi keluarga sendiri, dimana problem sosial yang ditemukan saling dibagi, saling bersimpati dan saling mengulur bantuan. Rumah lain ini bias, sangat bias. Bahkan menjadi masalah di suatu hari, ketikan dia ditimpa bencana Tsunami, atau bencana lainnya yang merubahnya menjadi tumpukan sampah. Benar begitu, Tumpukan sampah.

Pada suatu malam, ketika aku dan seorang teman dari jauh datang, kusampaikan padanya kerisauanku ini. “Aku membutuhkan rumah, aku membutuhkan massa, Bang”. Kataku padanya.

“Kenapa?”.

Aku butuh tempat berteduh dari kelelahan materialistik. Aku butuh tempat beristirahat dari kelelahan hegemonik, aku butuh naungan ketika terik matahari mendera kulitku, aku tak mampu bertahan di tengah siang dengan matahari yang terik seperti ini.

Aku pernah membangun rumah di IRM, dan seperti ada yang merubuhkannya. Identitas yang kubawa, semakin memperkeruh keadaan atau semakin menambah bau busuk tong sampah ini. Anak muda kampung yang miskin dengan imajinasi yang tidak membumi. Aku pernah ngontrak beberapa lama di HMI, ketika kepalaku sedikit terbentur dengan garang tebing bebatuan, aku linglung dan terjerumus pada jalan lain yang membuat ketentuan baru dalam hisupku. Aku mencoba numpang di Kompala, mengais sedikit-demi sedikit keberanian, mendekati perenungan-perenungan. Aku tak pernah melupakan pengalaman di dalam gua, ketika semua sumber cahaya kami matikan, bahkan tanganku sendiri pun tak nampak, aku seperti makhluk halus tanpa tubuh fisik. Rumah yang satu ini tak kutemukan lagi, sebabnya? Mungkin saat kepalaku terbentur di tebing dan membuatku linglung, jalan yang kutempuh tidak memiliki pintasan menuju alamat rumah yang satu ini.

Aku punya banyak rumah sebenarnya, ada banyak. Seorang mahasiswa yang berumur lebih tua dariku, termasuk di kampus dan di rumah yang kutempati sekarang ini, pernah menggertak. “Berapa tahun kamu berorganisasi?”.

Aku memintanya menjawab terlebih dahulu, setelah itu kukatakan padanya bahwa aku lebih dahulu mengecap organisasi darinya, 2 tahun lebih awal. Dia terdiam.

Jika gertakannya tidak ciut disitu, maka tentu aku yang akan ciut, karena di depan pertanyaan itu, terpajang sebuah pertanyaan yang siap menerkamku. “Apakah rumah-rumah itu masih menerimamu jika engkau kembali kepadanya?”. Aku angkat tangan.

Aku merindukanmu kawan!.

Kerinduan ini jelas menerangkan bahwa rumah yang kutumpangi saat ini tidaklah berarti lagi, beberapa waktu yang lalu mungkian iya, tapi apalah gunanya rumah dan kebahagiaan yang terkurung disana jika semuanya akan menjadi jejak yang mebodohi dan menggelitik masa depan kita?. Tak ada gunanya.

Apa permasalahan dari Rumah PMII yang satu ini?, sementara yang kualami adalah kehambaran rasa. Dapur di rumah ini tak berasap, tetangga kami tidak ada yang tahu kalau ada penghuni di rumah ini. PMII yang kutempati tidak berjendela, sehingga kami kesulitan menatap sebuah ide jauh di depan sana. Aku menemukan orang-orang bingung disini, tak pernah aku lupakan pesan teman-teman serumah dulu, “Kenapa mesti disana, apa yang kucari?”. Aku menjawabnya dengan nada senyum. Saat ini, mungkin kutemukan beberapa rangkai jawaban dari pertanyaan itu, kekosongan, kehambaran, mampet dan kebingungan anak muda yang bertepuk sebelah tangan.

Apa itu rumah?

Aku tidak mungkin mengatakan itu rumah jika disana tak ada orang lain selain aku, takkan jadi rumah jika tak ada komunikasi yang jalin-menjalin, bukan rumah jika hati mati di dalamnya. Bukan rumah jika keramaian pasar merasuki ruang pribadi di dalamnya, sehingga di dalam rumah itu ada kelas sosial terbentuk, kelas dalam komunitas kecil yang semakin memperparah suasana hati. Tak habis pikir pula aku, kesulitan memikirkan “Aku ada dimana?”.

Dan, aku berhadapan pada pertarungan kecil dalam sebuah rumah, ketika identitasku bertaruh dengan senyum yang harus mekar dalam rumah itu. Tidakkah kita sadari, bahwa dalam rumah ada kamar pribadi dimana kita menyembunyikan bercak kotor di hati pada dinding kamar. Kamar pribadiku dijajah seorang tamu yang dibawah teman dari sana.

Aku tidak mau bersikap positivistik. Aku lelah menjawab kesepakatan orang banyak untuk memaklumi suatu pengalaman. Aku tidak menerimanya lagi sejak aku tahu, bahwa positivism ini adalah benalu yang mengait banyak orang menjadi satu rumpun “Korban benalu” sehingga mereka yang selamat menjadi bulan-bulanan.

Aku akan membangun rumahku sendiri. Istri dan anak-anakku akan ada di dalamnya, dengan kasih sayang yang kucurahkan melalui temaram lampu di ruang keluarga, dengan suara “tik” dari kompor gas, dengan kecupan-kecupan kecil di dahi sebagai restu dariku. Mereka juga harus melakukannya padaku.

Aku akan membuat rumahku sendiri, dimana manusia-manusia maju sebagai penghuninya. Mereka adalah orang-orang yang sakit hati. Dengan semurni-murninya sakit hati. Aku sudah terlalu asam untuk pengalaman di masa muda seperti ini.

Aku rindu rumah, aku merindukan banyak orang, bahkan mereka yang tidak kukenal sekalipun. Semoga mereka hanya menganggapku bocah hilang yang akan menemukan jalan kembali, walaupun aku tidak kemana-mana. Duh, ada orang gila yang menendangku!

Sungguh aku tidak berniat memasuki rumah-rumah ini untuk melacur, sungguh tidak. Kakiku yang berjalan menuju alamat ini. Entah dengan alasan apa, andai kaki punya ootak, aku akan berusaha menaksir alam pikirnya.

Dan biarkan imajinasimu melangkah jauh, menemukan arti rumah. "Aku tak tahu siapa yang kuhadapi".

Tuesday, February 22, 2011

Kesepian

Seorang teman mendekat, duduk di sampingku dengan seringai telanjang. Inilah kebiasaan dia jika hati galau mampir padanya.

Sepi, dia bilang. Parasnya membenarkan.
Dan belum mandi, kubalas.

"Cheng, ngapain yah enaknya biar gak sepi kayak gini?".
"Kamu salah orang kalo pertanyaanmu begitu".
"Siapa lagi selain kau, Cheng. Sepi".

Lama dia terdiam, mulai berlaku risih plus menularkannya padaku. Aku ketularan!!

"Apaan sih kamu".
"Ihhhhh, Ucheng sangar, gan", dia bilang. Mencoba menyenangkan diri.
"Capedeh".
"Hahahahaha"

frezz

"Ayo Cheng, kita ngapain ne biar rame?". Merengek!
"Cheng?".
"Cheng, apa?". Sarap, orang ini mulai mengambil jatah dialogku.
"Yailah Cheng, sama teman kau cuek skali".

Kutatap wajahnya, titik fokus kulukis di hitam bola matanya.
Aku berdiri dan langsung merampas tangannya.

"Ayo, kita ke Neraka biar gak kesepian".

Thursday, December 30, 2010

Apa itu BARU? [Happy New Day!]

Ucapan 'Selamat Tahun Baru' menyebar begitu saja, jangkauannya lebih jauh daripada semburan kembang api yang meledak di langit-langit bumi. Seketika itu, setiap orang mulai berterima kasih pada 2010 dengan segala pengalaman hidup, bersyukur akan kesempatan bertemu dengan 2011. Tahun baru, betapa semaraknya dia, kecuali padaku yang sedang terjebak dalam analisa kata BARU, apa itu baru?

Saya sedang memikirkan sebuah spirit, beberapa catatan teman-teman di kompasiana dengan tema tahun baru, menyampaikan sebuah bubungan semangat untuk mambangun sebuah rencana dan strategi pencapaian rencana, atau setidaknya harapan. Ada juga kata resolusi kudapatkan, sayangnya saya tidak mengerti apa itu resolusi.

Tahun baru menyulap jutaan umat manusia untuk hidup dengan kompak, melalui rencana personal mereka, merekka tiba pada sebuah kesamaan dengan label 'Baru' dan spirit bekerja keras hingga tahun ini (2011) lebih baik dari tahun kemarin, segala harapan terwujud (realistiknya, segala rencana tercapai). kekompakan dan spirit kerja keras tersebut kucurigai bukan efek dari 'Tahun' yang berganti, melainkan karena 'Baru'. Dengan sesuatu yang baru, kita dapat membangun imajinasi yang 'sempurna' sebagaimana idealitas hal baru tersebut.

Sungguh menarik menurut hemat saya, jika saja kita mempergunakan jarak waktu yang lebih dekat untuk membangun kekompakan dan kerja keras, 1 tahun menurutku terlalu lama bagi kita untuk melakukan refleksi dan perencanaan, kita membiarkan diri kita terjebak dalam adonan baik-buruk selama setahun, entah dia telah matang atau gosong, atau mungkin pula masih muda, mengkal, matang atau bonyok.

Kita butuh 'pemampatan waktu' dari setahun menjadi sebulan, sehingga tiap bulan kita bisa melakukan evaluasi dan perencanaan dengan semangat baru, dengan 'baru' yang dipahami masing-masing personalia.

Sebulan terlalu lama? kalau begitu, marilah kita belajar untuk merayakan new day, everyday


Selamat!

Monday, November 15, 2010

Hakikat Roda

Suatu ketika, ada sebuah roda yang kehilangan salah satu jari-jarinya. Ia tampak sedih. Tanpa jari-jari yang lengkap, tentu, ia tak bisa lagi berjalan dengan lancar. Hal ini terjadi saat ia melaju terlalu kencang ketika melintasi hutan. Karena terburu-buru, ia melupakan, ada satu jari-jari yang jatuh dan terlepas. Kini sang roda pun bingung. Kemana kah hendak di cari satu bagian tubuhnya itu?

Sang roda pun berbalik arah. Ia kembali menyusuri jejak-jejak yang pernah di tinggalkannya. Perlahan, di tapakinya jalan-jalan itu. Satu demi satu di perhatikannya dengan seksama. Setiap benda di amati, dan di
cermati, berharap, akan di temukannya jari-jari yang hilang itu.

Ditemuinya kembali rerumputan dan ilalang. Dihampirinya kembali bunga-bunga di tengah padang. Dikunjunginya kembali semut dan seranggakecil di jalanan. Dan dilewatinya lagi semua batu-batu dan
kerikil-kerikil pualam.

Hei....semuanya tampak lain. Ya, sewaktu sang roda melintasi jalan
itu dengan laju yang kencang, semua hal tadi cuma berbentuk titik-titik kecil. Semuanya, tampak biasa, dan tak istimewa. Namun kini,  semuanya tampak lebih indah.

Rerumputan dan ilalang, tampak menyapanya dengan ramah. Mereka kini  tak lagi hanya berupa batang-batang yang kaku. Mereka tampak tersenyum,melambai tenang, bergoyang dan menyampaikan salam. Ujung-ujung rumput itu, bergesek dengan lembut di sisi sang roda. Sang roda pun  tersenyum danmelanjutkan pencariannya.

Bunga-bunga pun tampak lebih indah. Harum dan semerbaknya, lebih  terasa menyegarkan. Kuntum-kuntum yang baru terbuka, menampilkan wajah yang cerah. Kelopak-kelopak yang tumbuh, menari, seakan bersorak pada sang roda. Sang roda tertegun dan berhenti sebentar. Sang bunga pun
merunduk, memberikan salam hormat.

Dengan perlahan, dilanjutkannya kembali perjalanannya. Kini, semut  dan serangga kecil itu, mulai berbaris, dan memberikan salam yang paling semarak. Kaki-kaki mereka bertepuk, membunyikan keriangan yang
meriah. Sayap-sayap itu bergetar, seakan ada ribuan genderang yang di tabuh. Mereka saling menyapa. Dan, serangga itu pun memberikan salam, dan doa pada sang Roda.

Begitu pula batu dan kerikil pualam. Kilau yang hadir, tampak  berbeda. Jika di lihat dari mata yang tergesa-gesa. Mereka lebih indah, dan setiap. Sisi batu itu memancarkan kemilau yang teduh. Tak ada lagi sisi dan ujung yang tajam dari batu yang kerap mampir di tubuh sang Roda. Semua batu danpualam, membuka jalan, memberikan kesempatan untuk melanjutkan perjalanan.

Setelah lama berjalan, akhirnya, ditemukannya jari-jari yang hilang.  Sang roda pun senang. Dan ia berjanji, tak akan tergesa-gesa dan berjalan terlalu kencang dalam melakukan tugasnya.

(Catatan ini adalah arsip file di laptopku, tidak ada jejak sumber catatan ini, so izinkan saya menuslis "A Note From My Archive File)

Beranilah

Entah apa yang mendasari seruan yang menjadi judul catatan ini "Beranilah". Saya hanya terus terbayang akan kata itu, Berani.

"Jika kau adalah penakut, paling tidak katakanlah berani untuk dirimu sendiri". Demikian sebuah pesan imajinatif masuk dalam ideku hingga memaksaku menuliskan catatan tentang keberanian. Saya tidak punya kisah tentang keberanian yang baik untuk diceritakan, ditulisakan dalam catatan ini, aku tidak bisa mengingat dengan terang. Cuma, yang perlu disadari adalah, untuk apa keberanian?.

Kukatakan, ini pendapat personal, keberanian adalah kunci utama. Jika kita menganggap bahwa buku adalah jendela pengetahuan, ilmu adalah kunci memasuki dunia bebas, maka keberanian adalah kunci ituma dari gerbang megah pengetahuan. Kita musti membangun ponsadi keberanian sebelum mendekat pada pengetahuan, pada ilmu.

Karena kehebatan ilmu, daya tarik yang luar biasa, akan membawa kita pada suatu kuasa akal pikiran, dimana keteguhan karaktek menjadi penyeimbangnya. Jika kita mencintai pengetahuan, maka kita harus berdiri di atas keberanian. Pengetahuan dan Ilmu itu menyeramkan, ngeri.

Apa itu keberanian?
Saya tidak mengerti sebenarnya, yang pokok keberanian adalah bubungan kekuatan untuk bertahan dan melawan, kita menggunakan keberanian untuk bertahan dikala sebuah daya tarik memaksa kita, jangan ikuti, jangan menerimanya begitu saja, gunakan keberanian untuk membungkarnya.

Keberanian untuk melawan adalah sebuah kuasa mental dan fikiran, dia harus dijalankan dengan kendali rasio, bahwa yang kita lawan adalah kebenaran, bukan kesalahan. Kenapa kebenaran? karena dalam kebenaran itulah kesalahan menjamur. Mari kita bongkar.

Paling tidak kita memiliki keingina untuk menjadi berani, bukan pada pikiran, bukan pada kata dan perbuatan, tapi dalam ketakutan.

Tuesday, October 26, 2010

Aku dan Matahari Sore

Entah bagaimana menamai sore ini, atai memberikan sifat pada sore ini, aku terbangun dari tidur siang yang sebentar, tidur siang yang tidak disengaja, saya membaca buku sambil berbaring dan sekali memutar badan ke samping, aku tak tahu lagi posisi buku di tangan ku seperti apa, pandanganku gelap, tanpa mimpi.

Aku terbangun di sore yang tidak usah kunamanai, kucek beberapa pesan yang ada di henpon, pesan basi dan tidak penting. Aku mempersiapkan tas, kumasukkan laptop mungilku ke dalamnya, lalu ke depan pintu dan duduk di lantai, di ambang pintu. Kuambil kaos kaki yang baru kubeli pagi tadi lalu segera kukenakan, kututup dengan memasang sepatu tanpa tali.

Kuangkat tasku dan kugantung di pundak kanan, walaupun tasku adalah jenis tas punggung, aku tidak mengenakannya dengan sempurna, kugantungkan begitu saja di bahu kananku, mirip seorang anak yang mengenakan tas salempang yang disangkutkan di pundak. Aku melangkah.

Aku sadar bahwa sore ini adalah sore setelah aku keluar dari keteduhan pohon keres yang rindang, ketika tubuhku bermandikan cahaya matahari yang hangat, entah apakah matahari sore itu benar-benar hangat atau menggerahkan, tapi aku senang dengan sinar matahari ini. Angin semilir menerpa tubuhku.

Aku melangkah, manaiki tanjakan, menikmati sinar matahari dan terpaan angin. Peluh dan keluh terasa begitu enak saat itu, dan ketika aku masuk pada area bayangan dari rindangnya pohon, kepalaku meengeluh, meminta sinar matahari sore lagi. Kepalaku berontak, mengirim beberapa memori yang memusingkan pada bagian lain di kepalaku yang membuatku merasa ditekan. Raasanya ingin muntah.

Selain tubuh dengan balutan pakaian, tas berisi laptop, dua buku bacaan, sebuah spidol dan sebungkus rokok lucky strike, kusandang. Ikut pula beberapa “beban pikiran” yang berkecamuk di setiap langkahku. Beban hidup, proyeksi masa depan, imaji akan pekerjaan 2 atau 3 tahun kedepan. Ada pula di dalam kepalaku tersangkut dan menggelayut persoalan sosial, hubungan dengan kawan, tanggung jawab, komunikasi, konflik, uang, uang dan uang. Aku tetap melangkah.

Sore itu, matahari yang entah bagaimana caranya membuat keluh yang begitu harmonis dalam diriku, seperti sebuah ritme tak berarutan yang indah, seperti alur cerita fiksi yang kusut tapi menggairahkan, seperti sebuah nama yang njelimet untuk disebut bahkan diingat hadir sangat menarik untuk diperhatikan. Sore itu, cahaya matahari yang ditangkap kedua mataku yang rabun terlihat kuning, memberikan efek kuning kepada benda-benda disekitar, memantulkannya dan membuat perasaan semakin harmonis. Beautifull.

Aku mendekati jalan raya, deru suara kendaraan tidak terhiraukan. Memang kudengarkan tapi tidak kuperhatikan, maka tak ada satu kesan pun dapat kutangkap dari mereka.
Ilustrasi Matahari di sore hari (Sumber: Disini)

Thursday, October 21, 2010

10 Tahun Bersama, 10 Tahun Kelaparan

Pertama kali, catatan ini idenya dari sebuah pertanyaan yang tiba-tiba mengapung di benak saya, Bagaimana jika wanita yang kita jadikan pendamping tidak tahu memasak?

Pertanyaan tersebut menguak begitu saja, kebetulan saya sedang main laptop dan Online, saya langsung menuliskannya, rasanya sih jadinya akan bagus, tapi kita lihat saja nanti. Selanjutnya, saya kembali berhadapan dengan beberapa pertanyaan baru terkait pertanyaan di atas.

- Berapa banyak wanita pra nikah atau siap nikah yang terbiasa / pintar memasak?
- Seberapa besar kebutuhan lelaki akan wanita yang bisa memasak?
- Apakah laki-laki tidak mempersoalkan masalah masak-memasak?
- Bagaimana perspektif gender terkait masalah masak-memasak?

Judul catatan di atas adalah sebuah bayangan akan kondisi, dimana suatu saat wanita yang bisa memasak semakin "pelit". Terlepas dari persoalan gender (kenapa musti wanita yang memasak?), mari kita perhatikan catatan ini sesuai kondisi kultural kita semua, bahwa wanita mengurusi konsumsi ketika nanti telah berkeluarga.

Marilah memperhatikan bagaimana persoalan memasak tidak lagi menjadi sebuah gaya, semisal ketika jaman baheula wanita membantu ibu di dapur, beralih menjadi wanita yang membantu pedagang di pasar. Ketika gaya hidup mulai mempertemukan gaya hidup yang halus, dibandingkan keterampilan yang kasat mata.

Untuk memperkuat bagunan atau pondasi tulisan ini, saya mengajak pembaca untuk mengingat potongan cerita Syalimah dalam "Cinta di Dalam Gelas". Syalimah (subuh itu) bangun seperti biasanya, ia menyalakan tungku dan memasak air lalu menyeduh kopi untuk dihidangkan kepada suaminya, setelah kopi telah siap dihidangkan, ia termenung, ia baru sadar kalau kemarin suaminya meninggal. Dan selanjutnya silahkan menikmati sendiri sensasi imajinasi potongan kisah tersebut.

Bakti terindah wanita adalah pelayanan, membubungkan kebahagiaan suami di atas kerja kerasnya mengolah materi (uang dan selaga macamnya) menjadi kasih sayang, sementara suami memeras keringat dan mengolah otak untuk mendapatkan senyuman dari istri (biasanya kalau istri nggak dikasi duit, wajahnya cemberut, tapi entahlah, saya cuma menaksir, belum mengalami).

Lalu, apakah wanita sekarang (secara umum mereka yang berbenturan dengan gaya hidup "modern") mampu membangkitkan semangat "Cinta di dalam Gelas", atau mereka akan memodifikasi konsepsi tersebut menjadi Pernyataan cinta baru yang lebih "maju", semisah Cinta di atas Nampan KCF dll, atau Cinta dalam lipatan nasi bungkus" atau bagaimanalah. Makanan yang terhidang di atas meja, adalah buah tangan wanita lain (Sepertinya ini dapat dikatakan selingkuh).

Kita mungkin belum mengerti (apalagi saya) apa perbedaan rasa antara makanan jajakan, atau makanan produksi dapur sendiri. namun sepertinya kita bisa memindahkan pindahkan referensi pengalaman diatas kepada pengalaman makan di dapur hasil olahan orang tua, dibandingkan dengan makan di warung olahan koki number wahid. rasanya memang berbeda kan? Enak, jelas dimiliki oleh makanan buah karya si koki, namun tidakkah kita merasakan bagaimana kasih sayang menyelimuti setiap butir nasi?. Dus, tanpa air sayur pun, nasi itu tetap lancar melewati tenggorokan.

Jika ini dipandang terlalu patriarkis, atau memojokkan golongan wanita, maka marilah kita menempuh jalan tengah melalui pertanyaan ini. Bagaimana Lelaki dan Perempuan (suami dan istri) dalam sebuah rumah tangga mengelola dapur mereka?.

Saya refleks teringat sebuah potongan scene dalam film berjudul Cico Mendez, Ketika si Presiden dan seorang bekingnya datang ke rumah Cico untuk melalukan diplomasi terkait pembabakan hutan Amazon. Kedua tamu Cico dihidangkan masakan (oleh istri Cico) yang sederhana, ada sayur kacang di atas meja, entah kacang apa. Cico menyantap masakan itu, menyantap sesendok sayur kacang yang tersedia dan berkata pada istrinya "Sayur kacang buatanmu enak". Jika kalian (kaum hawa) yang menjadi istri Cico pada saat itu, bagaimana kesan pernyataan tersebut?, dia mengucapkannya di depan Presiden dan bekingnya.

Lelaki pintar menggoda dan wanita menikmati godaan lelaki.
Wanita (sebaiknya) pintar memasak (agar) lelaki menggoda wanita dengan pujian. Kalau tidak bisa, maka rawatlah kulit baik-baik (termasuk yang satu itu).

Demikianlah catatan ini berakhir, tulisan ini sangat bebas, kata-kata mengalir begitu saja sembari jemari saya menuliskan kata-kata tersebut. Sehingga jika salah ucap atau kesalahan berfikir yang tampak dalam tulisan ini, mohon dimaafkan dan dikomentari.

Al-Kautsar 58, 21 Oktober 2010

Tuesday, October 19, 2010

Si Ucheng Is Bingung On the Boat

Apakah kita musti menyisipkan suatu muatan kebaikan dalam catatan atau karya tulisan tertentu?, semisal jika saya menulis essai tentang Mahasiswa Rantau di Malang dan Dompet yang Tipis, dan yang saya sampaikan hanyalah realitas kehidupan mereka, tanpa menyisipkan persuasi untuk “mari belajar dari kenyataan tersebut”.

Penyisipan sebuah nilai, atau dakwah (anggaplah dakwah jika ada yang g sepakat) dalam sebuah tulisan menentukan muatan tulisan tersebut, kehambaran atau citarasa tulisan terdapat dalam jawaban “Apa yang diinginkan oleh tulisan ini?”. Semisal buku berjudul Drunken Monster yang ditulis oleh Pidi Baiq, disana cerita-cerita yang disajikan sepertinya tdak keruan, meloncat sana-sini dan alurnya timbul tenggelam. Apa yang bisa kita temukan disana?

Jika pertanyaan itu ditujukan pada saya pribadi, maka jawabanku adalah, menemukan apa yang tidak ditemukan. Membayangkan suasana kacau atau kenyataan kacau dengan kendaraan buku. Kita dihadapkan dengan kehidupan kacau tanpa ada role lagi. Menyenangkan.

Dan apakah kekacauan yang disajikan oleh Pidi Baiq adalah sebuah substansi yang terdapat dalam buku tersebut? Atau sebenarnya kita tulisakan saja apa yang di benak kita dan menyerahkan nilainya kepada pembaca tulisan kita?. Hal ini yang memusingkanku dalam usaha produksi tulisan.

Untuk apa kita menulis?
 

Alternative Road Copyright © 2012 -- Template was edited by Cheng Prudjung -- Powered by Blogger