Beberapa hari berlalu, kesal di hati masih mekar. Perkiraanku, kekesalannya hanya sehari itu saja, lepas beban dengan banyak berseloroh di berbagai tempat. Saya cukup tenang dan tetap berpembawaan santai menanggapi banyak keluh kekesalannya, toh besok rutinitas akan menghapus hal-hal buruk, pikirku.
Ternyata tidak! Simpatiku dirongrong oleh ocehan-ocehannya yang bagiku terlalu analitis, sehingga banyak aspek yang dihidden untuk mengambil keputusan, semacam menanggalkan objektifitas akibat deru emosi yang merasuk. Mana mungkin ada konspirasi, pikirku setelah menerima SMS dari Dg. Te’ne saat bersiap dengan kenyataan; apakah kami akan melakukan pesta makan-makan besar atau tidak.
Soal konspirasi ini, sebenarnya masuk akal bagiku. Jelas ada kemungkinan hal tersebut terjadi pada sebuah ajang kompetisi, saya lumayan memahami dunia komunitas blogger, sehingga cukup memberi perhatian dengan hal tersebut, tapi apakah bisa seperti itu? Terjebak dengan pertanyaan ini, saya memutuskan untuk tidak memperdulikan persoalan konspirasi ini lagi.
Dg. Te’ne berkelakar melalui blognya (klik: lingua franca), dia menuliskan refleksinya atas kompetisi yang dia anggap menyakitinya hingga berhari-hari, namun karena ada beberapa makhluk yang berulah misterius di dashboard wordpress-nya, dia menghapus catatan tersebut, tepatnya unpublish. Aih, apa yang dia tuliskan perlu dia sampaikan, tidak mempublikasikan melalui blognya, facebook (klik: Lomba Blog) selalu sedia menampung catatan apa saja.
Di Twitter, dia berkicau. Nyaris tak keruan sampai-sampai ku-RT dengan kicauan yang lebih tidak keruan lagi, ekting jahilku mode on.
Aih, hidup tidak selalu manis, Dg. Te’ne! Kau harus betul-betul menyadari ini. Walaupun saya yakin kau mengetahui perihal ini, tapi bagiku; kau belum mengerti betul, bahwa manisnya hidup saat kekecewaan itu menyayat nurani, ketika suatu cita dibentur kendala, atau ketika cinta tak pernah dibauri oleh apa-apa.
Tabe’ Daeng. Saya sepertinya harus jujur disini, biarlah kusakiti hatimu, tanggung menurutku, kau sudah kepalang hancur dengan kenyataan-kenyataan yang kemarin-kemarin itu. Jadi begini; sederhana saja! Tahukah kau bagaimana orang-orang Makassar memberi nama? Jika ajaran Islam, nama adalah doa, orang-orang Makassar tidak sepernuhnya demikian, nama (pakdaengang) adalah wujud halus dari perangai atau tampilan seseorang (walaupun hanya perangai haluslah yang disebutkan), tidak semata sebagai sebuah doa (asal kata pakdaengang adalah pakdoangang yang berarti doa), setidaknya begitulah yang kupahami.
Pikirlah sendiri Daeng, kenapa si dia menamaimu Te’ne! Refleksikan sendiri, toh hidup kau yang punya. Cuma bagiku, sahabatmu ini, kau terlalu baik dalam hidup ini, terlalu “something”, aih entah bagaimana mengatainya, kau tidak bersih murni (ci’nong), kau tidak baik (baji’), tapi kau ada diantaranya.
Sayang, kau sepertinya belum mengerti banyak, bahwa tabiat sangat berwarna. Jika kau mencintai Makassar, jangan sekaligus dengan-orang-orangnya! Ahhh saya macam orang-orang yang sudah beruban saja berkata seperti ini. Tapi di mataku, kau begitu!
Maafkan kata-kataku Daeng, setahuku orang Makassar tidak pernah sibuk mengeluh, kau akan dicela jika tak habis perkara setetes hingga berhari-hari karena sibuk mengeluh. Begitu keluarga kecilku membimbingku, kesahmu tak boleh tumbuh subur dan menjalar hingga ke orang lain, kau perlu setetes keringat untuk membasuh kesal itu, seperti zam-zam.
Kau sudah tau apa yang ingin kusampaikan? Jika belum, ingat saja tempo hari, berbulan-bulan yang lalu saat kuajak kau ke Galesong sekali lagi, datang bukan sebagai pelancong tapi sebagai Dg. Te’ne.
Sungguh, saya ingin kau tahu Makassar tidak dari buku yang menjadi pijakan imajinasimu untuk melontar bayang-bayang setinggi mungkin, sesenang dan semanis mungkin. Saya ingin mengajakmu mengenal makassar dengan seluruh indramu, memahaminya dengan baik, seburuk apapun kenyataannya.
Kau hidup kepalang manis, Daeng. Saya menebaknya dari sosok hingga perangaimu, entah sebenarnya seperti apa. Disamping itu, kau juga penuh dengan misteri, nyaris sama dengan kisah-kisang sang Karaeng yang kita minati bersama.
Kau bukan orang Makassar, Daeng. Sekalipun kau punya Pakdaengang!
Mungkin lebih tepatnya belum, kukatakan belum sebenarnya hanya untuk memperhalus, takut kau akhirnya tumbang, takut jikalau semangatmu sirna, takut jika sinar matamu terhambur dan karam di laut hanya karena mendengar meriam Anak Makassar berdentum.
Maafkan diriku terlampau lancang begini, Daeng. Perlu kau tahu, kekecewaanku terhadapmu tak bisa ditawar saat sms-mu yang pesimis itu kuterima, kemampuan menulismu anjlok? Apa kau tak ingin menulis lagi, Daeng? Kenapa kau biarkan rasa kesal merubuhkan semangat menulis itu?
Mungkin ini yang terakhir, Daeng. Tak apalah kau mengecewakanku, tulisan inilah obatnya, sekaligus wujud dari kekesalanku atas sakit hati yang tidak bisa kau buang itu, coba ikuti saran orang tuaku; Buang jauh-jauh ke lautan, Nak!. Kesal yang dikeluh itu memalukan, Daeng. Mana mungkin kau menghabiskan hidupmu hanya untuk mengeluh, memenuhi hatimu dengan dendam dan menggunakan kepalamu hanya untuk memikirkan hal yang sudah lewat?
Ingat, Daeng! Kau tak butuh bahu seperti yang kau katakan padaku lewat twitter subuh tadi. Kau butuh dirimu sendiri, sayangnya mungkin “dirimu sendiri” itu sedang tersesat di rimba keluh kesah. Kau pasti sudah tahu bagaimana menemukannya jika begitu: Musnahkan keluh kesah!.
Ternyata tidak! Simpatiku dirongrong oleh ocehan-ocehannya yang bagiku terlalu analitis, sehingga banyak aspek yang dihidden untuk mengambil keputusan, semacam menanggalkan objektifitas akibat deru emosi yang merasuk. Mana mungkin ada konspirasi, pikirku setelah menerima SMS dari Dg. Te’ne saat bersiap dengan kenyataan; apakah kami akan melakukan pesta makan-makan besar atau tidak.
![]() |
| Ini hati !!! |
Dg. Te’ne berkelakar melalui blognya (klik: lingua franca), dia menuliskan refleksinya atas kompetisi yang dia anggap menyakitinya hingga berhari-hari, namun karena ada beberapa makhluk yang berulah misterius di dashboard wordpress-nya, dia menghapus catatan tersebut, tepatnya unpublish. Aih, apa yang dia tuliskan perlu dia sampaikan, tidak mempublikasikan melalui blognya, facebook (klik: Lomba Blog) selalu sedia menampung catatan apa saja.
Di Twitter, dia berkicau. Nyaris tak keruan sampai-sampai ku-RT dengan kicauan yang lebih tidak keruan lagi, ekting jahilku mode on.
Aih, hidup tidak selalu manis, Dg. Te’ne! Kau harus betul-betul menyadari ini. Walaupun saya yakin kau mengetahui perihal ini, tapi bagiku; kau belum mengerti betul, bahwa manisnya hidup saat kekecewaan itu menyayat nurani, ketika suatu cita dibentur kendala, atau ketika cinta tak pernah dibauri oleh apa-apa.
Tabe’ Daeng. Saya sepertinya harus jujur disini, biarlah kusakiti hatimu, tanggung menurutku, kau sudah kepalang hancur dengan kenyataan-kenyataan yang kemarin-kemarin itu. Jadi begini; sederhana saja! Tahukah kau bagaimana orang-orang Makassar memberi nama? Jika ajaran Islam, nama adalah doa, orang-orang Makassar tidak sepernuhnya demikian, nama (pakdaengang) adalah wujud halus dari perangai atau tampilan seseorang (walaupun hanya perangai haluslah yang disebutkan), tidak semata sebagai sebuah doa (asal kata pakdaengang adalah pakdoangang yang berarti doa), setidaknya begitulah yang kupahami.
Pikirlah sendiri Daeng, kenapa si dia menamaimu Te’ne! Refleksikan sendiri, toh hidup kau yang punya. Cuma bagiku, sahabatmu ini, kau terlalu baik dalam hidup ini, terlalu “something”, aih entah bagaimana mengatainya, kau tidak bersih murni (ci’nong), kau tidak baik (baji’), tapi kau ada diantaranya.
Sayang, kau sepertinya belum mengerti banyak, bahwa tabiat sangat berwarna. Jika kau mencintai Makassar, jangan sekaligus dengan-orang-orangnya! Ahhh saya macam orang-orang yang sudah beruban saja berkata seperti ini. Tapi di mataku, kau begitu!
Maafkan kata-kataku Daeng, setahuku orang Makassar tidak pernah sibuk mengeluh, kau akan dicela jika tak habis perkara setetes hingga berhari-hari karena sibuk mengeluh. Begitu keluarga kecilku membimbingku, kesahmu tak boleh tumbuh subur dan menjalar hingga ke orang lain, kau perlu setetes keringat untuk membasuh kesal itu, seperti zam-zam.
Kau sudah tau apa yang ingin kusampaikan? Jika belum, ingat saja tempo hari, berbulan-bulan yang lalu saat kuajak kau ke Galesong sekali lagi, datang bukan sebagai pelancong tapi sebagai Dg. Te’ne.
Sungguh, saya ingin kau tahu Makassar tidak dari buku yang menjadi pijakan imajinasimu untuk melontar bayang-bayang setinggi mungkin, sesenang dan semanis mungkin. Saya ingin mengajakmu mengenal makassar dengan seluruh indramu, memahaminya dengan baik, seburuk apapun kenyataannya.
Kau hidup kepalang manis, Daeng. Saya menebaknya dari sosok hingga perangaimu, entah sebenarnya seperti apa. Disamping itu, kau juga penuh dengan misteri, nyaris sama dengan kisah-kisang sang Karaeng yang kita minati bersama.
Kau bukan orang Makassar, Daeng. Sekalipun kau punya Pakdaengang!
Mungkin lebih tepatnya belum, kukatakan belum sebenarnya hanya untuk memperhalus, takut kau akhirnya tumbang, takut jikalau semangatmu sirna, takut jika sinar matamu terhambur dan karam di laut hanya karena mendengar meriam Anak Makassar berdentum.
Maafkan diriku terlampau lancang begini, Daeng. Perlu kau tahu, kekecewaanku terhadapmu tak bisa ditawar saat sms-mu yang pesimis itu kuterima, kemampuan menulismu anjlok? Apa kau tak ingin menulis lagi, Daeng? Kenapa kau biarkan rasa kesal merubuhkan semangat menulis itu?
Mungkin ini yang terakhir, Daeng. Tak apalah kau mengecewakanku, tulisan inilah obatnya, sekaligus wujud dari kekesalanku atas sakit hati yang tidak bisa kau buang itu, coba ikuti saran orang tuaku; Buang jauh-jauh ke lautan, Nak!. Kesal yang dikeluh itu memalukan, Daeng. Mana mungkin kau menghabiskan hidupmu hanya untuk mengeluh, memenuhi hatimu dengan dendam dan menggunakan kepalamu hanya untuk memikirkan hal yang sudah lewat?
Ingat, Daeng! Kau tak butuh bahu seperti yang kau katakan padaku lewat twitter subuh tadi. Kau butuh dirimu sendiri, sayangnya mungkin “dirimu sendiri” itu sedang tersesat di rimba keluh kesah. Kau pasti sudah tahu bagaimana menemukannya jika begitu: Musnahkan keluh kesah!.
![]() |
| Masalah itu terasa berat untuk dilalui karena kita lupa tersenyum!! | Doc cheng prudjung |









