Thursday, June 26, 2008

APA YANG KITA DAPATKAN?

Tidak ada larangan bagaimana sebuah pertanyaan yang pragmatis terlontar, atau pragmatisme tersebut coba kita simpan dulu untuk mengetahui apa substansi suatu permasalahan sebenarnya, karena yang layak untuk dinilai adalah inti suatu permasalahan bukan kulit luar atau dalam tulisan ini berupa judul.

Semuanya berhubungan dengan sebuah proses ”menjadi” dalam sebuah organisasi, sebelumnya, saya ingin menyampaikan ada tiga teori kebutuhan (need) yang disampaikan oleh Mc Celland, yaitu need for achiefment (N-ACH), need for afiliation (N-AFI) dan need for power (N-POW). Ketiga kebutuhan dasar manusia ini dapat digunakan sebagai anggel untuk memandang suatu situasi atau suatu proses relasi dalam sebuah organisasi.

Terlepas dari penggolongan organisasi dalam teori kebutuhan tersebut di atas, maka menarik kiranya melihat bagaimana organisasi dilihat atau dijelaskan dengan membaca bagaimana person yang terlibat di dalamnya berperan sesuai kebutuhan dasar menyangkut tiga kebutuhan manusia yang disampaikan oleh Mc Celland.

Persoalan need for achiefment , menjelaskan seseorang yang memiliki kebutuhan akan prestasi, dimana seluruh latar belakang aktifitasnya didasari oleh keinginan untuk meraih suatu prestasi, kemudian N-POW mejelaskan seseorang yang memiliki kebutuhan untuk mendapatkan kekuasaan atau pengakuan akan kekuasaan untuk melakukan.

N-AFI menjelaskan bagaimana seseorang melakukan aktifitas kesehariannya untuk mendapatkan teman yang banyak.

Dalam lingkungan suatu organisasi, kita dapat melihat bagaimana ketiga kebutuhan tersebut nampak dan melakukan suatu relasi kerja atau relasi emosional berupa usaha untuk membangun siatu hubungan khusus seperti persahabatan ataupun persoalan cinta.

Bagi person/pelaku organisasi yang cenderung didasari oleh kebutuhan akan prestasi akan mendorong dirinya untuk melakukan kerja-kerja yang giat bahkan profesional karena menyangkut suatu prestasi, pertanyaan dasar yang menjelaskan suatu tingkat prestasi adalah, apa persyaratan atau indikator suatu kompetisi dapat dikatakan memiliki prestasi yang gemilang? Maka jawabannya adalah jika suatu pekerjaan atau aktifitas dapat berjalan sebagaimana keinginan atau perencanaan, dan jika pekerjaan tersebut diperbandingkan dengan pekerjaan lain yang dijalankan oleh orang lain maka, jawaban dari pertanyaan di atas adalah, mana yang lebih menarik perhatian bagi khalayak umum sebagaimana karakteristik khas suatu organisasi. Maka demikianlah yang diusahakan oleh mereka yang berlatar belakang N-ACH. Dalam kamus mereka banyak hal yang menyangkut prestasi, bahkan segala prestasi dijelaskan didalam kamusnya.

Lalu bagaimana dengan N-POW, identitas dari person yang berlatar belakang kebutuhan akan kekuatan atau kekuasaan adalah, mereka yang secara naluriah terbiasa melakukan perintah atau kordinasi dengan mengatur atau menjelaskan pekerjaan setiap orang, dia selalu menempatkan dirinya pada wilayah selalu ingin didengar dan selau ingin mengatur jalannya roda organisasi.

Kemudian N-AFI, yaitu orang-orang yang menjadikan silaturahmi sebagai hobi utama, karena dalam silaturahmi tersebut, orang-orang dengan latar belakang seperti ini akan dengan mudah mendapatkan atau membangun suatu relasi pertemanan, memiliki banyak kenalan.

Lalu bagaimana ketiga kebutuhan personal ini dimanage dalam suatu kerja organisasi? Jawabannya sederhana yaitu, setiap orang dengan bebas melakukan pekerjaannya sesuai kebutuhan dasarnya sebagaimana yang telah dijelaskan di atas, namun kebebasan tersebut harus berawal atau berbarengan dengan kesadaran adanya suatu kesepakantan bersama mengingat orang-orang tadi bergaul dalam lingkungan organisasi dimana segala pekerjaan adan keputusan diambil dan dijalani bersama.

Setiap orang yang menjalankan perannya sesuai dengan tanggung jawab yang diemban dalam organisasi tersebut, harus memperhatikan kebutuhan setiap orang yang lainnya, dalam artian semisal bagaimana si A yang kebutuhannya adalah prestasi didukung oleh si B yang kebutuhannya adalah kekuasaan, yaitu segala keterampilan dalam pemenuhan kebutuhan mereka harus disatukan sehingga terjalin kerjasama. Atau bagaimana si C yang kebutuhannya adalan teman banyak dan terampil mecari teman mendukung si B, dalam hal membangun relasi agar kebutuhan akan kekuasaan si B dapat terpenuhi dengan bantuan oleh si C.

Namun persoalannya, bagaimana dalam lingkungan organisasi tidak terjadi kerjasama atau saling mendukung satu sama lain. Dalam artian mereka yang N-AFI mencari teman untuk kepentingan sendiri memenuhi kebutuhannya, tanpa membangun relasi untuk mendukung pemenuhan kebutuhan yang lainnya. Pertanyaan yang lucu adalah, apakah lingkungan pergaulan mereka dapat dikatakan sebuah organisasi?.

Jawabannya singkat. Ironis. Karena salah satu tujuan seseorang untuk berpartisipasi dalam suatu organisasi adalah mempermudah pemenuhan kebutuhan karena dalam organisasi sebuah kepentingan dijadikan kepentingan bersama sehingga dijadikan pekerjaan bersama.

Apa yang terjadi jika suatu kebutuhan yang diharapkan dapat terpenuhi dengan masuk dalam organisasi? Maka jawabannya adalah penarikan diri dari status keanggotaan, atau pelaksanaan kerja organisasi dengan setengah hati akibat kekecewaan karena tujuan mereka tidak terpenuhi.

Mencari sebuah konteks

Ada pada lingkungan organisasi mana kita menjalankan proses pemenuhan kebutuhan? Disinilah pertanyaan awal pada tulisan ini (yaitu apa yang kita dapatkan) coba untuk dijawab. Yaitu apakah kita betul-betul menemukan/memenuhi kebutuhan kita? Ataukah kebutuhan kita yang tertanam sejak awal telah berubah pada jenis kebutuhan yang berbeda, yaitu menurut saya ada, organisatoris yang kebutuhannya dilatar belakangi oleh need for asikment, yaitu kebutuhan akan segala sesuatu yang asik, tau apapun yang terjadi, “seng penting suasananya asik-asik aj√°”. Demikianlah kebutuhan para pelaku organisasi yang telah pupus harapan karena kebutuhan dasarnya tidak terwujudkan.

Demikianlah yang dapat dilihat oleh mata dengan kacamata tembus pandang yang dapat melihat suatu keadaan yang “halus” dimana secara kasat mata hal tersebut tidak nampak. Roda organisasi berjalan tanpa ada arah, disorientasi karena person yang berperan di dalamnya sekadar memenuhi kebutuhan merekla akan suasana atau berbagai keasyikan yang tentu saja tidak substansial. Semisal bagaimana aktifitas organisasi yang dibangun yaitu Ngopi, kenapa ngopi? Karena dengan ngopi pada warung dengan suasana santailah apa yang dinamakan asik akan terwujud. Selain kegiatan ngopi tentu masih banyak hal lain seperti ngumpul yang biasanya diapologikan sebagai rapat. Kapan ada ngumpul bareng yang tidak menyenangkan?

Demikianlah suatu kebutuhan menjadi sesuatu yang menjebak karena suatu kebutuhan kemudian dapat menjadi suatu kultur, sehingga suatu organisasi yang telah terjebak pada suatu kultur asikment ini, tidak akan keluar dari kebiasaan jeleknya ini, yang dimaksud kebiasaan jelek adalah ketika asikmen menumpulkan gerakan dimana suatu keputusan yang “pahit” rasanya tidak akan mungkin diambil, alasannya karena akan merusak suasana, melonggarkan ikatan emosional yang sebelumnya direkatkan oleh kata asik.

Maka doktrin yang lahir kemudian adalah “ayo buat kegiatan yang asik!”. Dan substansi kemudian ditempatkan pada urutan ke 1945, karena latarbelakang pelaksanaan kegiatan adalah asal asik. Semisal melakukan suatu kegiatan seperti diskusi, maka alasan pelaksanaannya adalah, “kan asik karena kita bisa ngumpul lagi”, sebagaimana telah disampaikan bahwa ”mana ada ngumpul itu yang gak asik”. Kecuali mungkin ngumpul di neraka.

Maka salah satu alasan kenapa seseorang atau suatu kelompok tidak dapat menemukan substansi atau semangat dari suatu diskusi, yaitu karena diskusi dijadikan sebuah tameng, kehadiran narasumber dan tema pembahasan dihadirkan untuk menjustifikasi suatu diskusi yang pada tataran imagenya menarik, padahal diskusi hanya dihadirkan untuk menjelaskan bahwa suatu organisasi telah melakukan kegiatan dan itu berarti mereka eksis. Persetan.

Jadi, lama waktu yang telah dihabiskan pada suatu organisasi tentu memiliki suatu hasil, para pelaku organisasi tentunya mendapatkan sesuatu, malah banyak hal yang dapat dirangkumkan dalam suatu kata yang indah dan megah, kata ini yang menjadi suatu momok yang lucu karena dibenci untuk mencintai yaitu kebodohan. Meksud saya dibenci untuk mencintai adalah, demikianlah kebodohan dibenci namun karena apa yang kita benci itu adalah satu-satunya barang yang tersisa maka terpaksalah hal tersebut lebih sempurna jika dicintai.

Adakah organisasi yang dapat keluar dari suatu permasalahan jika kultur yang terbangun didalamnya terjebak dalam ruang melingkar dimana tidak adanya kesadaran untuk membangun suatu relasi managemen kerja menjadi penyakit yang mengikuti pola lingkaran yang dijalankan dalam organisasi.

Persoalan yang terjadi dalam sebuah organisasi tidak lepas dari peran personal para pelaku organisasi, dimana setiap orang yang didasari oleh kebutuhan akan prestasi, power dan relasi/afiliasi, dituntut untuk bekerja sama dalam pencapaian suatu tujuan organisasi yang telah terumuskan. Setiap orang harus dengan penuh kesadaran, lahir sebagai person yang menempatkan dirinya sebagai abangunan pribadi dan bangunan organisasi.

Belajar dari strategi perang yang diterapkan oleh tentara Sparta (Spartan) dimana setiap orang harus menjadi penjaga atau pelindung kawannya yang lain yang berada di sebelah kiri, karena perisai berada di sebelah kiri mereka dan membela atau menyelamatkan kawannya yang lain disebelah kanan karena di kananlah pedang, tombak atau senjata lainnya bertumpu. Dalam artian bahwa, tentara Sparta mengajarkan bahwa jaga, lindungi dan selamatkan orang disampingmu!! maka mereka akan menjagamu pula. Karena perisai yang dipegang dan pedang yang tergenggam bukan untuk membela diri sendiri akan tetapi membela kawan seperjuangan yang berada di sebebelahnya.

Maka demikianlah egoisitas dalam pemenuhan kebutuhan dihancurkan ketika menempatkan diri dalam suatu organisasi.

Siapa yang kebutuhannya dalam organisasi atau dalam kehidupannya sehari-hari untuk mendapatkan prestasi, maka prestasi yang dicarinya tidak harus secara pribadi, akan tetapi prestasi yang dikejarnya adalah untuk sahabat-sahabatnya yang lain, demikian bagi mereka yang hobi atau butuh mencari teman/membangun relasi, maka relasi tersebut harus dibangun guna mendukung atau mampu mengakomodasi segala keinginan organisasi dalam rangka pencapaian tujuan organisasi atau menyelesaikan persoalan organisasi yang menjebak.

Di akhir kata, hal yang perlu disampaikan adalah, dalam suatu organisasi tidak ada alasan untuk tidak dapat keluar dari suatu persoalan, dan selalu saja solusi cerdas membawa organisasi keluar dari persoalan, tidak boleh ada korban dan pahlawan, karena hal tersebut dapat memupuk egoisitas dan dapat mendiskreditkan yang lain. Selanjutnya, kesadaran akan adanya kerjasama dan kepahitan untuk memutuskan suatu kebijakan yang kiranya berpotensi menimbulkan konflik tidak musti dihindari karena konflik dalam suatu organisasi akan membawa pada pendewasaan para pelaku organisasi. Demikian.

0 komentar:

Post a Comment

Jangan lupa meninggalkan komentar ya.... (Tolong jgn berkomentar sebagai Anonymous)

 

Alternative Road Copyright © 2012 -- Template was edited by Cheng Prudjung -- Powered by Blogger