Sunday, November 13, 2011

Dari Putra Galesong untuk Sang Raja

Bajiki anne abbannang kebo’ karaeng
Naki bulomo sibatang
Cera’ sitongka-tongka
Nanipajappa nikanayya kuntu tojeng
Assolorong bokoi erona Balandayya
Amminasa dudu tonga karaeng
Ampennepokangi pasorang matannga parang
Ampanummbangangi balembeng ma’bangkeng romang
Punna nia buranne karaeng rewangang nainakke
Se’re lipa kuruai kusionjo tompo bangkeng
Kusikeke kamma lame kukamma mamo kicini karaeng
Tedong alagayya harang sialle ganayya
Nampa kicinika.
(Bait-bait ARU, sumpah prajurit Makassar (Gowa-Tallo), dikutip dari blog Amir Al-Maruzy)

Mungkin di sumur itu, suaramu menggelegar.
Dimana rasa takutku tersembunyi?
Kala aru kau tegaskan untuk sang raja, untuk negri bagi para raja.

Wahai sang raja, andai saja aku dapat melihatmu kala itu.
Aku ingin mencari rasa takutmu.
Supaya aku mengerti bagaimana keberanian mekar dalam jiwamu.

Sumpahmu itu, Wahai sang raja.
Mengabadikan keberanianmu.
Melukis sosokmu dengan bayang-bayang.
Mengamuklah, kami tidak akan duduk diam menonton amukanmu.
Tak usah kau ijinkan, kami tetap berkeras hati ada di sampingmu.

Aku ingin melihatmu meninggalkan sumur itu. Bungung Barania.
Menuju kapalmu diiringi arumu, memberkati setiap keputusan menelanjangi badik.

Kutulis sebuah memo wahai sang raja.
Entah di masa depan yang bagaimana,
Kami bisa menemukan seorang sosok pemimpin.
Meninggalkan tanah yang terjajah.
Menuju dunia dimana darahmu tumpah.
Disanakah?
Kau bersemayam dengan abadi, mempertahankan keyakinanmu?
Mengorbankan jasadmu untuk aru yang dahulu itu kau terikkan?

Memo itu wahai sang raja.
Bukan undangan bersua.
Namun, ungkapan terimah kasih karna kau telah menghargai kehidupan yang diberikan Allah untukmu.
Dari putra-putra Galesong yang bertarung mencari jati diri.

Malang, November 2011.

0 komentar:

Post a Comment

Jangan lupa meninggalkan komentar ya.... (Tolong jgn berkomentar sebagai Anonymous)

 

Alternative Road Copyright © 2012 -- Template was edited by Cheng Prudjung -- Powered by Blogger