Sunday, November 6, 2011

Rekaman Suasana Acara Qurban KKSS Malang

“Makan coto eee!”. Demikian pesan yang kuterima melalui henfonku dari seorang teman sesama perantau asal Sulawesi.

IKAMI Sulsel Malang dan Ketua KKSS Malang, Muslimin Machmud
Foto bersama anggota IKAMI Sulsel Malang dan Ketua KKSS Malang, Muslimin Machmud
Sayang pesan tersebut tidak kubalas karena saya sedang sibuk mengendarai motor menuju Asrama Sulawesi di Dieng, disanalah acara makan coto itu berlangsung. Setibanya disana, teman-teman terlah berkumpul dan berbaur bersama para anggota KKSS (Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan) serta masyarakat umum yang sebentar lagi akan menerima pembagian daging qurban.

Canda demi canda berlalu menunggu hidangan siap dihidangkan dan dihidangi, beberapa orang yang masuk kepanitiaan qurban masih sibuk menurus daging yang akan dibagikan kepada warga Sulawesi yang telah lama menetap di Malang, tentu saja mereka yang terdaftar sebagai anggota di KKSS Malang, kurang lebih 200 orang (yang tercatat).

Suasana sangat akrab, seseorang yang sedang menunggu giliran mendapatkan jatah daging qurban terlihat sibuk dengan henfonnya, dia sedang berbicara dengan seseorang di seberang sana. “Aku sek ndik Makassar iki lo! (Aku masih di Makassar ini loh [terjemahan tekstualnya])”, katanya. Aku tersenyum saja mendengar itu, hahaha dia sedang berada di Makassar katanya. Tapi kejadian itu berlalu begitu saja tak ada yang menghiraukan, saya pun sebenarnya tidak menghiraukan, Cuma karena saya sedang menulis cerita tentang acara qurban tadi, maka kuceritakan juga kejadian ini, sekedar intermezzo yang tidak bermutu. Hahahaha

Tapi tak ada salahnya tersenyum. Khatib Idul Adha di kampusku tadi mengatakan bahwa perbedaan antara manusia dan binatang yakni senyum, manusia bisa tersenyum, namun hewan tidak! Dengan senyum, kata sang khatib, kita menjadi manusia!.

Mahasiswa rantau anggota IKAMI Sulsel Cabang Malang
Mahasiswa rantau anggota IKAMI Sulsel Cabang Malang
Akhirnya panggilan bersantap mode on, teman-teman saling memanggil, tak ada yang saling mendahului (yang ada malah saling mendahulukan), lelucon-demilelucon akhirnya terlontar. “Biarkan yang tua duluan, kasihan!”. Kata anak-anak muda.

“Yang muda duluan ayo, biar nanti kuat cuci piring!”. Kata para senior (tak enak menyebut para senior ini orang tua, hahaha).

Lelucon demi lelucon menyemarakkan acara, saling mengomentari porsi makanan menjadi tema. Menu pertama (karena nanti masih ada menu lain di babak selanjutnya, entah akan jadi berapa babak) adalah KONRO!. Melihat menu itu, beberapa orang ber-wahhh: Behhh konro e! mantap skali. Komentar yang lain: luar biasa!.

Oia hampir lupa, acara qurban ini dilaksanakan oleh KKSS Malang dan diramaikan oleh para mahasiswa rantau anggota IKAMI Sulsel Cabang Malang. Kegiatan itu diresmikan langsung oleh ketua KKSS Malang , Muslimin Machmud, yang terus saja sibuk mengatur distribusi daging qurban. Acara qurban ini rutin dilaksanakan setiap tahun, sumbernya berasal dari dana swadaya anggota KKSS, tahun ini ada 2 ekor sapid an 2 ekor kambing yang jadi korban santapan kami.

Demikian acara berlangsung dengan semarak, walaupun saya datang terlambat kehangatan silaturahmi tak mengenal kata terlambat. Mahasiswa rantau tak perlu khawatir lagi merasa sepi di hari raya, jauh dari kehangatan keluarga di kampung dan mati kutu di tanah rantau, kita punya keluarga sendiri di Malang, kecuali bagi mereka yang masih merasa sungkan, takut tak tersabut atau malah merasa emoh bergabung dengan alasan masing-masing. Bagiku inilah keluarga, walaupun tak ada konsensus bahwa kami adalah satu keluarga. Paragraf yang terakhir ini tak usah dihiraukan, hanya sekedar ending tulisan agar terasa gimana gitu!.

Berikut foto kegiatan.

Menikmati hidangan konro khas Makassar
Menikmati hidangan konro khas Makassar



Sisanya diupload nanti .. :D

1 komentar:

Man Man Man said...

asek skali..
jgn lupa di upload jg foto cuci piringnya nah ^_^

Post a Comment

Jangan lupa meninggalkan komentar ya.... (Tolong jgn berkomentar sebagai Anonymous)

 

Alternative Road Copyright © 2012 -- Template was edited by Cheng Prudjung -- Powered by Blogger