Showing posts with label ikami sulsel. Show all posts
Showing posts with label ikami sulsel. Show all posts

Monday, February 6, 2012

Seberapa Banyak Kenalanmu :: Refleksi Munas IKAMI Sulsel di Jogja

Alhamdulillah, Musyawarah Nasional (Munas) IKAMI Sulsel telah usai. Segala prosesnya berlangsung dengan sangat bersemangat sehingga tidak sedikit tenaga yang dikurasnya, begitupula pikiran yang nyaris buntu sehingga persinggungan fisik yang tak masuk akal membangun potensinya sendiri untuk menunjukkan siapa yang paling berani mati diantara berbagai kubu.

Tentu saja ada yang kecewa diantara pesta mereka yang menang dalam konteks politik, namun bagi saya secara pribadi menang dan kalah tidak diukur oleh periode atau suatu kontes yang membentuk batas sehingga hati para perantau yang seharusnya satu, pecah menjadi kubu: mozaik yang menolak realitas indah karena egonya.

Saya sendiri, berdiri diatas kubu lain. Secara politis, saya mengusung seorang kandidat Ketua Umum PB IKAMI Sulsel, Shadikin Suhidin, namun diluar dari jeruji politik saya bergabung dengan kubu canda tawa. Posisi saya yang dilematis memaksaku membangun suasana Munas yang berbeda, tak heran jika saya selalu memanfaatkan waktu luang untuk bercanda tawa dengan teman-teman walaupun kenyataannya saya dipusingkan oleh urusan memenangkan kandidat yang memercayakan kemenangannya kepadaku.

Aih, lupakan saja urusan politik dan silang kepentingan yang membentuk kita menjadi manusia dengan tingkah yang aneh. Untungnya, saya masih ada waktu untuk bersilaturahmi dengan beberapa teman dan senior (kanda) yang juga hadir atau sekedar bertamu di Munas IKAMI Sulsel. Salah satunya adalah Kanda Suryadin Laoddang (kak Adin) yang baru pertama kali itu kujumpai, padahal setelah bertemu, saya dan beliau hampir tak ada bedanya. Kami berdua adalah aktivis IRM (Ikatan Remaja Muhammadiyah) dengan periode yang berbeda, kami senang dengan sastra dan budaya Sulsel (saya dengan Makassar sementara kak Adin dengan Bugis-Wajo), tetunya kami berdua adalah mahasiswa. Hehehehe

Selain kak Adin, ada lagi beberapa teman lain yang sempat berbagi senyum dan sesumbar tawa, sebut daja namanya Fitri (pernah berkomentar di blog ini dengan inisial v3). Dia anggota (atau pengurus?) IKAMI Sulsel Cab. Ciputat yang tak lagi sungkan setelah berkenalan dan mengatahui bahwa sayalah Cheng Prudjung, author blog ini (hahahahaha). Saat berkenalan dengan Fitri sambil menyindir blogku sesekali, sensasi artis tiba-tiba merasuk ke dalam sukmaku. Selain karena senyum si Fitri ini yang memang manis, bertemu dengan pembaca adalah hal luar biasa!

Beberapa teman lainnya adalah Sahrul dan Salman (Selamat, nama anda disebutkan dalam blogku), keduanya adalah teman yang asik diajak ngobrol di sela-sela momentum Munas IKAMI Sulsel. Selain mereka, teman-temanku yang berada di Jogja selalu menjadi hiburan yang menyenangkan, sayalah mungkin satu-satunya MC (master of campaign) yang paling murah mengobral tawa.

Nah, adakah teman-teman menikmati Jogjakarta dalam suasana Munas IKAMI Sulsel?. Anda mungkin bisa datang ke Jogja kapan saja, tapi mengunjungi Jogja dengan suasana Munas IKAMI Sulsel belum tentu, kapan lagi bersilaturahmi dengan kawan seperantauan dalam satu momen besar dengan potensi pengeratan semangat persaudaraan yang lebih besar lagi.

Seberapa banyak kenalanmu? Seberapa erat tali persaudaan yang kau bangun bersama saudara-saudara yang dibentang zamrud. Adakah Munas IKAMI Selsel menyadarkan kita bahwa saudara kita tersebar nyaris di seluruh Nusantara?

Maka beruntunglah mereka yang hidup damai, meninggikan konsep di atas ketua umum, menjadikan Munas IKAMI Sulsel sebagai perjamuan keluarga besar. Dan pada akhirnya kita akan tetap menjadi satu dengan identitas PERANTAU.

Thursday, January 26, 2012

Semangat Merantau Transformatif & Eksistensi IKAMI Sulsel

Judul asli : Rantau Transformatif dan Eksistensi IKAMI Sulsel
Penulis : Shadikin Suhidin*
Diterbitkan di : Lintas-kabar.com (21 Januari 2012)

Merantau dan Legitimasi Langit

Kitab suci di samping memberikan informasi penting kepada manusia, juga memberikan pemahaman penting yang berbuah nilai kecerdasan. Letak signifikansi kitab suci bukan saja sebagai pelengkap kepercayaan kita kepada Tuhan, tapi lebih pada nilai inspiratif dan legitimasi psikologis kepada orang-orang tertentu yang mempercayainya.

“…Mengapa tidak sebagian kamu, pergi/keluar memperdalam ilmu agamanya untuk selanjutnya memberikan bimbingan kepada khalayak. Bimbingan kepada kaum dan umatnya…”, demikian kutipan lepas yang bersumber dari firman Tuhan dalam kumpulan info langit tersebut.

Walaupun anjuran ataupun kewajiban ini lebih bersifat fardu kifayah, namun sangat inspiratif dan penting sebagai landasan justifikasi kepada semua sebagai anak rantau. Juga, dalam beberapa hikayat, disebutkan bahwa salah satu bukti akan kenabian Muhammad Ibnu Abdullah tidak lain karena keinginan dan kemampuan beliau kembali ke bumi setelah bertemu dengan Tuhan-Nya.

Singkat kata, bahwa banyak hal yang menjadi nilai positif dalam perspektif Qur’anik tentang manusia – manusia yang melakukan safar. Mulia, dalam paradigma Qur’anik – bagi manusia yang menjelajah dunia untuk menemukan nilai–nilai transendental. Bahkan sakral nan suci bagi yang mampu menembus hakikat perjalanan itu sendiri.

Tulisan ini tentang Mahasiswa Rantau. Khususnya mahasiswa rantau dari Tanah Sebrang, Sulawesi Selatan (dalam kacamata manusia jawa). Dan, tidak berpretensi mencari pembenaran keberadaan dan status kita sebagai anak rantau—bukan untuk dikatakan lebih mulia daripada saudara yang tetap melanjutkan studi di Makassar.Tulisan ini bukan alat pembenar dan seolah mulia. Toh, belum tentu semua kita mempunyai pandangan Quranik. Toh tidak sedikit yang sudah lupa baca tulis quran. Tulisan atau dialog ini tentang merantau “bagaimana menjadi”. Sebuah rantau transformatif. Rantau yang mencoba menemukan titik ideal sebagai musafir.


Rantau-merantau : Jalan Menembus Hakikat

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata rantau mempunyai makna cukup luas; 1. Pantai sepanjang teluk (sungai); 2. Daerah (negeri) di luar daerah (negeri) sendiri atau daerah di luar kampung halaman; negeri asing. Menambahkan awalan me-rantau, bentuk kata kerja, yang dapat diartikan sebagai pergi ke negeri lain untuk mencari kehidupan, ilmu dan seterusnya.

Hakikat merantau adalah untuk menjadi, bukan mempunyai. Menjadi (to be) berarti memaknai perjalanan sebagai anak rantau untuk melakukan metaforfosa diri ke arah yang lebih baik dan konstruktif. Sedang mempunyai (to have) hanyalah selancar bayang-bayang profan yang tidak mengantar pada hakikat perantaun yang ideal.

Dalam perspektif reflektif jalan panjang ini , secara garis besar, mahasiswa rantau dapat dibagi dalam dua arus besar. Pertama, mahasiswa rantau yang mampu memaknai perjalanan panjang, dan melahirkan kesadaran akan posisi sebagai kaum intelektual. Kedua, mahasiswa rantau yang termotivasi dengan bayang-bayang profan. Termotivasi oleh nilai-nilai material; Merantau untuk mendapatkan harta melimpah, merantau untuk mendapatkan gadis desa tercantik atau merantau untuk menjadi yang “terbaik” di bumi masing-masing.

Kalangan besar kedua ini, kita lihat masih terjebak pada status tanpa nilai transendental. Tidak ada pemaknaan lebih tinggi, tidak mampu menembus ruang dibalik ruang material. Pada titik ini pula, didapatkan reduksi nilai yang sangat besar dalam kamus anak rantau tentang tellu cappa atau tiga ujung pamungkas yang dimiliki perantau bugis-makassar. Tiga ujung yang dimaksud adalah ujung lidah, ujung badik, dan ujung kemaluan. Dalam pandangan arus besar kedua di atas, substansi spirit kultural telah hilang dan tergantikan dengan hal yang bernilai material belaka; ujung lidah tidak lebih sebagai perangkat negosiasi untuk kepentingan pribadi; ujung badik juga direduksi hanya pada keberanian memamerkan kehebatan fisik; dan ujung kemaluan juga hanya perangkat mengelabui pribumi demi kepentingan sesaat. Hemat penulis, ujung ketiga inilah yang paling sering disalahartikan oleh perantau bugis-makassar hari ini.

Gambar ini mengingatkan kisah romantika Saijah dan Adinda dalam Multatulu karya Max Havelar


Revolusi Dari Luar, Dari Kita Untuk Umat

Akhirnya, Merantau akan berarti ketika sang musafir mampu memaknai tiga lingkaran hidupnya; Tuhan, alam dan manusia sekitar. Kewajiban saling mengingatkan sesama perantau bugis-makassar “dimana langit dijunjung, disana bumi dipijak” pada saat bersamaan saling memasyrakatkan dalam komunitas sesama perantau akan kata bijak lainnya “seekor burung akan selalu kembali ke sarangnya”. Artinya, kemampuan adaptasi perantau bugis-makassar di negeri orang harus diimbangi dengan spirit pembangunan rumah besarnya sendiri yang bernama Sulawesi Selatan.

Adakalanya penghuni balla’ lompoa yang bernama Sulawesi Selatan perlu memotret rumah secara utuh, dan itu hanya bisa dilakukan dari luar. Tidak jarang pula, dinamika rumah memerlukan pandangan-pandangan pihak eksternal untuk selanjutnya mengambil solusi cerdas bahkan langkah preventif terhadap gejolak sosial yang sangat mungkin terjadi. Memandang dari titik jauh adalah tugas perantau bugis-makassar. Dan ketika perantau ini mengayauh langkah secara bersama dalam bingkai organisasi paguyuban seperti IKAMI SULSEL dan KKSS peran seperti di atas jatuh ke pundak kita semua.

Eksistensi Ikatatan Kekeluargaan Mahasiswa/pelajar Indonesia (IKAMI) Sulawesi Selatan dapat dilihat dari kerja-kerja nyata untuk masyarakat Sulawesi selatan itu sendiri. Wacana Revolusi dari luar, dari kita untuk umat bukan sekedar wacana di atas kertas ketika serangkaian program strategis mampu dibumikan sesegara mungkin. Dalam konteks ini pula kecerdasan ilahiyat serta sense of critis akan mewujud setelah oleh para perantau mampu memaknai sabda tuhan di atas bahwa “mengapa tidak sebagian kamu keluar (baca, merantau) dalam rangka memperdalam pengetahuan dan ilmu agamanya untuk selanjutnya memberikan pencerahan dan pembaharuan kepada kaumnya. Maka merantau pun alih-alih hanya mencari penghidupan material semata tapi mampu menembus hakikat bagai sebagai napak tilas perjalanan kenabian yang dianjurkan, bahkan dalam konteks tertentu, diwajibkan kepada semua manusia.


*) Kandidat Ketua Umum PB IKAMI Sulsel dan Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM)

shadikin suhidin

Monday, January 23, 2012

Pos Budaya Sebuah Visi Pengembangan Oraganisasi dan Kampung Halaman

Menuju Munas, menuju pengembangan organisasi.
IKAMI Sulsel adalah wadah utama para mahasiswa/pelajar yang merantau meninggalkan Sulsel sebagai kampung halaman. Sebagai sebuah organisasi, IKAMI Sulsel sudah tentu memiliki potensi dan sumber daya anggota yang memadai untuk suksesi suatu program. Dengan dukungan segala prangkat organisasi, baik struktur maupun sumberdaya anggotanya, Pos Budaya sebagai sebuah semangat tentu saja memungkinkan sebagai sebuah visi.

Jika sedikit mengintip kembali bagaimana IKAMI Sulsel secara struktural berkembang nyaris ke seluruh pelosok nusantara, hal ini akan menjadi potensi untuk kegiatan memperkenalkan kebudayaan Sulsel dan meningkatkan pendapatan ekonomi daerah. Lihat saja berapa banyak cabang-cabang IKAMI Sulsel yang tersebar dari kepualauan Sumatra hingga Papua.

Sebagai sebuah organisasi dengan semangat kekeluargaan yang telah berumur setengah abad, pondasi-pondasi keorganisasiannya tentu saja sudah kuat untuk memantapkan sebuah proyek besar. Pos Budaya pada taraf awal perlu dikampanyekan sebagai sebuah spirit, bukan hanya dorongan untuk memperkenalkan budaya kampong halaman, tetapi sebuah usaha mengembangkan kampong halaman dari luar.

Forum silaturahmi yang dikemas dalam kegiatan Musyawarah Nasional yang akan dilangsungkan di Yogyakarta beberapa saat lagi perlu menjadi ajang dimana Pos Budaya diperhatikan oleh segenap mahasiswa/pelajar yang merantau di berbagai daerah dan tergabung dalam sebuah semangat persaudaraan IKAMI Sulsel.


Apa itu Pos Budaya
Atas dasar keinginan untuk mengembangkan organisasi, sekaligus memberikan kontribusi terhadap perkembangan kampong halaman (Sulsel), pos budaya dirancang sebagai sebuah gerakan kebudayaan yang dimotori oleh para mahasiswa/pelajar yang merantau. Mereka ini kemudian menjadi corong dengan berperan sebagai duta atau diva kebudayaan Sulsel.

Perlu diketahui, bahwa ketika meninggalkan kampong halaman, seseorang tidak hanya meninggalkan akar
kebudayaan yang membentuk kepribadiannya. Melainkan membawanya ikut serta sebagai bekal dasar untuk bergaul dan beradaptasi dengan kebudayaan dimana dia merantau. Interaksi simbolik dua kebudayaan (budaya pendatang dan budaya lokal) menjadi ajang dimana budaya Sulsel berkesempatan untuk dikenali.

Persoalannya hanyalah, tidak ada suatu kesepahaman dan kegiatan organisasi dimana IKAMI Sulsel lah yang menjadi promotornya dengan mengajar para anggotanya untuk bangga dan bersemangat mempromosikan kebudayaannya.


Pos Budaya dan Kekuatannya dalam Pengembangan Sulsel
Visi pos budaya yang diusung sebagai sebuah cita pengembangan bukan serta merta sebuah ide yang bias, dimana konsep, strategi dan pelaksanaannya kacau balau. Hanya saja pos budaya seakan meminta tumbal, dimana realisasi visi atau semangat ini perlu dikawal oleh orang-orang yang memiliki ghirah dan energi yang besar.

Maka, ajang Munas IKAMI Sulsel adalah pintu gerbang dimana Pos Budaya ini masuk menelisik ruang kalbu. Sosok pemimpin yang cendekia yang telah lama bergumul dalam IKAMI Sulsel di Malang, menjadi personalia yang potensial untuk semangat pengembangan Sulsel dengan platform Pos Budaya.

Dalam kerja pengembangan Sulsel, Pos Budaya memiliki kekuatan yang berdampak dari segi ekonomi. Jika diperhatikan, mahasiswa/pelajar rantau memiliki kecenderungan membawa pulang oleh-oleh dari tanah rantau ke kampong halaman, belum lagi keluarga yang “nitip” beberapa produk dalam jumlah tertentu untuk dikonsumsi di kampong halaman, atau malah dijual ulang sebagai suatu prospek bisnis disana.

Logika seperti ini sepertinya harus dibalik, dimana dengan sumber daya alam dan beragam kerajinan Sulsel perlu dipromosikan dengan membawanya ke negeri rantau, baik sebagai oleh-oleh maupun dibukakan jalan menjadi sarana bisnis. Dengan ini, sector perekonomian daerah dapat digenjot.



Dari Malang ke Jakarta untuk Membangun Kampung Halaman
Beberapa tulisan yang lalu mungkin sudah menunjukkan bagaimana sosok pemimpin yang diidamkan perlu memperbaiki kondisi-kondisi negative yang dialami oleh IKAMI Sulsel. IKAMI Sulsel cabang Malang dengan kontribusi yang luar biasa tak ingin membiarkan IKAMI Sulsel berjalan stagnan tanpa efek yang bombastic sebagai sebuah “rumah” bagi para perantau.

Kita terlalu besar untuk melakukan hal-hal kecil. Oleh karena itu, perlu adanya suatu keyakinan untuk suatu pengembangan, bukan sekedar perubahan. Sekiranya ini bukanlah janji, melainkan sebuah pengharapan akan suatu cita, dimana perahu IKAMI Sulsel tidak hanya digunakan untuk mengembangkan kampong orang lain dimana oraganisasi ini hadir.

Malang merupakan starting poin yang baik untuk berproses di Jakarta, menyatukan semangat dan kerja keras dan secara massif mengembangkan kampong halaman dengan spirit Pos Budaya.

Mari, mengantar Shadikin ke Jakarta!

Saturday, January 21, 2012

PB IKAMI Sulsel dan Wawasan Munas

Pengurus Besar (PB) IKAMI Sulsel adalah pucuk struktur organisasi, disana segala kehormatan bermuara, jangan harap IKAMI Sulsel di tingkatan cabang memiliki kehormatan sebelum PB IKAMI Sulsel. Logika begini sudah pasti kita pahami bersama, dan soal kehormatan sudah pasti menjadi pokok perhatian anak-anak Sulsel, toh kehidupan seseorang dilihat dari eksistensinya, dan eksistensi di Sulsel adalah kehormatan dan rasa saling mengasihi.


Apa itu Musyawarah Nasional ??? = Ruh Eksistensi Organisasi

Untuk masuk ke dalam dunia PB IKAMI Sulsel, ada gerbang utama yang menjadi forum silaturahmi terbesar yang mempertemukan seluruh anggota IKAMI Sulsel, gerbang itu adalah Musyawarah Nasional (Munas), sebagaimana prinsip dasar permusyawaratan, segala sesuatu (keputusan) harus melewati proses musyawarah yang demokratis. Di IKAMI Sulsel sendiri, demokratisasi dalam bermusyawarah ditunjukkan dengan kesepakatan bahwa setiap cabang memiliki satu suara.

Artinya, dalam pengambilan keputusan, setiap Pengurus Cabang memiliki jatah berpendapat dan menentukan keputusan tersebut. Apalagi ajang Munas adalah forum milik cabang, sementara Pengurus Besar (PB), Steering Committee, dan Panitia pelaksana, hanyalah fasilitator yang bekerja untuk mensukseskan terlaksananya permusyawaratan.

Sebagaimana yang kita ketahui, ada tiga tugas Musyawarah Nasional, yakni Mendengarkan Laporan Pertanggung Jawaban Pengurus Besar IKAMI Sulsel, Membahas Perangkat Lunak Organisasi (AD/ART, GBHO, dan berbagai aturan atau tata kelola organisasi, termasuk rekomendasi), dan Pemilihan Ketua Umum yang akan menjalankan segala keputusan permusyawaratan yang telah diputuskan bersama oleh cabang-cabang secara nasional.

Ketiga tugas Munas di atas sejatinya saling mengikat, bahwa laporan pertanggung jawaban dilakukan untuk mengewaluasi kinerja kepengurusan selama satu periode, evaluasi tersebut menjadi bahan pertimbangan dalam pembahasan perangkat lunak organisasi, selain mempertimbangkan berkembangnya kondisi sosial politik yang mempengaruhi organisasi. Sementara itu, perangkat lunak juga menjadi acuan dalam proses pemilihan ketua umum, sehingga pertarungan politik ketua umum sebenarnya terjadi di forum pembahasan aturan-aturan dan konsep pengembangan organisasi. Karena aturan organisasi tidak boleh timpang atau berbeda dengan hasil pembahasan materi di Munas.

Berbedanya keputusan pada pembahasan materi dengan hasil pemilihan ketua umum dapat menjadi ancaman bagi organisasi, walaupun keduanya (keputusan materi dan vis-misi ketua umum) mengusung konsep pengembangan organisasi, namun ancamannya adalah apakah hasil pembahasan materi yang telah diputuskan oleh sidang Musyawarah Nasional dapat dijalankan oleh ketua umum atau dikesampingkan untuk mendahulukan visi-misinya.

Oleh karena itu, kandidat ketua umum tidak serta-merta mebangun kekuatan politik dengan melupakan pembahasan konsep pengembangan organisasi yang meliputi AD/ART, GBHO, tata kelola administrasi dan aturan lainya.

Pemilihan Ketua Umum dalam suatu permusyawaratan sendiri, berbeda dengan pemilihan ketua umum yang dilaksanakan secara praktis, misalnya pemilihan presiden atau kepala daerah yang secara teknis diurus oleh lembaga independen sebagai penyelenggara proses pemilihan, dalam konteks ini, kita mengenal KPU.

Prosesi pemilihan ketua umum dalam sidang Munas harus melewati kesepakatan peserta sidang, sehingga sebelum melaksanakan pemilihan ketua umum, harus dimusyawarahkan dulu tata tertip pemilihan secara bersama, bukan ditentukan oleh sepihak. proses ini perlu diperhatikan dengan baik untuk menghadapi Munas IKAMI Sulsel di Jogja.

Adanya proses pendaftaran/penjaringan kandidat ketua umum membuat kegiatan Musyawaran Nasional semakin bias, bukankah segala proses yang terjadi dalam Munas adalah keputusan bersama? tidak diatur oleh sekelompok orang dengan kedok panitia pelaksana, steering committee, bahkan Pengurus Besar sekalipun. Perlu diingat bahwa Sidang Munas adalah forum pengambilan keputusan tertinggi, dan pengambilan keputusan tidak ditentukan oleh sekelompok orang, melainkan bersama-sama dengan cabang dalam gugusan nusantara.


Prosesi Pra Munas yang Keliru

Prosesi pelaksanaan Munas IKAMI Sulsel dengan tahapan penjaringan dan penetapan calon pada poster yang disebarkan oleh panitia pelaksana Munas IKAMI Sulsel di atas perlu dikritis dengan cermat. dengan melihat adanya prosesi pra Munas tersebut, forum Musyawarah Nasional seperti kehilangan taringnya, dan kedaulatan cabang-cabang dicederai, parahnya lagi jika pada akhirnya cabang-cabang menyepakati adanya proses tersebut.

Apa pendapat teman-teman tentang prosesi/ tahapan Munas dalam poster ini???
Dengan jelas, ada tim semacam KPU dalam tubuh IKAMI Sulsel yang tidak pernah disepakati dan diatur kerjanya. Para kandidat yang awalnya patuh terhadap segala kehendak cabang-cabang yang dijawantahkan pada keputusan-keputusan pleno dalam sidang atau musyawarah, kini diarahkan oleh prosesi sebagaimana yang disampaikan dalam poster tersebut di atas.

Sekali lagi, kepekaan dan keterbukaan pemikiran tentu saja sangat dibutuhkan dan harus menjadi senjata kita semua dalam mensukseskan Munas yang dilaksanakan secara cerdas, betapa malunya kita ketika kecerdasan menanggapi suatu proses dikesampingkan untuk suatu urusan yang remeh temeh, seperti pragmatisme kepentingan politik yang memandang Munas hanya sebagai ajang pemilihan nahkoda baru untuk IKAMI Sulsel.

Kita harus punya visi untuk masa mendatang, kita harus punya semangat bekerja keras dalam rangka mewujudkan visi tersebut, dan akhirnya harus ada KEBERANIAN untuk mengawali kesuksesan organisasi ke depan, bukan hanya sekedar memperjuangkat martabat organisasi, melainkan kehormatan kita sebagai bangsa yang besar, bangsa yang menjunjung tinggi nilai dan kehormatan.

EWAKO !!!

Silahkan baca catatan terkait lainnya disini: Menuju Munas IKAMI Sulsel

Monday, January 16, 2012

Gagasan Versus Duit; Kultur Politik IKAMI Sulsel Harus Beda

Sumber: yustisi.com
Kami tak Punya Uang, tapi Kami Punya Gagasan, Keinginan & Tenaga; Celoteh Kandidat Alternatif

Ada sebuah hukum alamiah atau aksioma: untuk menjadi pimpinan organisasi yang memiliki bargaining dan peran/ pengaruh besar terhadap kondisi sosial politik bangsa ini, uang adalah persyaratan utama. Jika modal ekonomi sudah kuat, persentase kemenangan sudah mencapai 50%, 50% sisanya adalah kerja-kerja strtategis.

Entah darimana aksioma ini berasal, namun karena hampir setiap momentum politik, uang selalu menjadi pokok penentu sehingga mau tidak mau, modal ekonomi menjadi persyaratan mutlak seorang kandidat untuk memenangkan persaingan di kontes politik. Parahnya, para konstituen tidak jeli dan larut dalam hukum tersebut, daya tarik yang membuat mereka berkubang tidak lain karena adanya simbiosis mutualisme disana, sang kandidat membutuhkan suara untuk menang, di pihak lain para konstituen membutuhkan dana untuk berpesta.

Pihak ketiganya, yakni organisasi menjadi korban yang terus saja dimanfaatkan. Pelan-pelan, kondisi ini merubah konsep organisasi yang disepakati sebagai wadah untuk melakukan gerakan-gerakan pemberdayaan, gerakan memaksimalisasi potensi masyarakat untuk menikmati hidup yang sejatinya adalah indah. Konsep itu beralih, menjadikan organisasi sebagai sarang harimau lapar, mempermainkan konstitusi untuk kepentingan beberapa orang.

Tapi memang, uang memegang peranan penting dalam usaha pemenangan kandidat dalam kontes politik. Tak ada usaha yang tak memakan biaya, sehingga cost politic tidak bisa dikesampingkan. Akan tetapi perlu dibuat garis toleransi sampai dimana uang mempengaruhi proses politik, jangan sampai dunia politik (sepraktis apapun) bermetamorfosa menjadi pasar, dimana uang adalah media komunikasi yang utama.

Perlu Ada Perubahan:
Perlu ada perubahan. Kita harus sadari baik-baik kondisi (kultur) politik bangsa yang mulai ditunggangi oleh wajah Soekarno-Hatta pada selembar ‘kertas’ berwarna merah. Wacana bahwa masyarakat Indonesia semakin melek politik sehingga tidak mudah lagi mempercayai janji dan upeti (uang) belum masuk di akal saya, rakyat memang tak butuh janji, rakyat memang tak butuh upeti, akan tetapi rakyat/ bangsa ini butuh lebih banyak uang karena melek politik mereka mengantar kesadaran berfikir bahwa suara mereka tidak murah. Suara mereka adalah penentu masa depan bangsa, dan apakah masa depan bangsa dibeli dengan harga 50 ribu rupiah?

Jangan Mengandalkan Dana!!! Refleksi menuju IKAMI Sulsel Modern

Kalau dipikir, ujung dari riwayat uang adalah tai, jika bukan, wujudnya berarti sampah yang lambat laun akan dikerumuni lalat, dicakar oleh belatung dan menjadi istana cacing tanah, tikus got, ular dan lainnya. Apa wujud uang yang bisa dibanggakan? Tolong sampaikan pada saya agar derajat ide bisa saya turunkan ke tanah dan mengangkat tinggi-tinggi uang sebagai pedoman hidup.
Bebas dari godaan duit.

Janganki berfikir bahwa saya mencoba membangun wacana dan mempengaruhi corak berfikir teman-teman, silahkanmi dipikir sendiri apakah gunanya itu uang? Dibandingkan dengan gagasan besar untuk membangun gerakan pemberdayaan dan pengembangan potensi manusia. Apalagi dalam konseks IKAMI Sulsel sekarang ini.

Pertanyaan anak SD-nya, apakah IKAMI butuh pemimpin berdompet tebal agar kondisi semakin membaik? Ataukah seorang pemimpin yang mengusung gagasan cemerlang dan realistis, belum lagi semangat dan tenaga untuk bekerja keras masih unggul.

Pertanyaan anak SD-jie itu di atas, tapi kita perlu jawab pertanyaan itu dengan kepala (fikiran) professor, ilmuan, filosof (pencinta kebijaksanaan), bahkan nabi kalau bisa. Jawabanta adalah milikta, dan benar salahnya adalah urusanta, tanggunganta sendiri. Semoga tidak adaji yang menjawab lalu meninggalkan tanggung jawab atas jawabannya.


Gagasan, Semangat, Tenaga dan Tanggung Tawab.

Sejago apapun gagasannya, sepanas apapun semangatnya, dan sekassa’ apapun tenaganya (bahkan seperti Hulk) kalau tidak bertanggung jawab, dia hanyalah manusia kerdil dimana mulut, dada, dan tubuhnya hanyalah rongsokan, mirip seperti sebilah badik sakti yang tak bertuan: tidak ada manfaatnya sama sekali.

Tanggung jawab adalah ruh, dia adalah nyawa dalam eksistensi manusia. Petuah-petuah bijak sudah menyarankan kita kesana, “Taro ada’, taro gau’” menyesuaikan perkataan dan perbuatan. (Bagaimanami kalo orang bisu, nenek???). Petuah di atas perlu menjadi pedoman untuk menjelaskan apakah seseorang dikatan manusia atau tidak. Bangunan tubuh manusia memungkinkan adanya kesesuaian atau kerjasama antar organ secara terorganisir, itulah hukum alam manusia, kaki kita ada untuk menginjak bumi dan tangan kita ada untuk menggapai angkasa, sementara hati yang berada di tengah menjadi penyeimbang agar tanah dan angkasa tidak berjarak. Apakah yang membatasi tanah dengan angkasa?

Saya kira begitu, sehingga untuk menjadi manusia kata tak boleh kontra dengan perbuatan, kapangi pisah kata dan perbuatanta, secara istilah tappisa tommi itu kepala dengan badanta, jadi kalau tappisami badan dengan kepala, manusiaka itu? Kalau setan mungkin, atau robot-robot yang patah leherna.

Emmmm, itu fikiran saya! Entah bagaimana teman-teman yang masih berkutat di IKAMI Sulsel memikirkan oraganisasi yang besar ini. Kalau masih berfikir: “apa untung atau rugiku di’ selama di IKAMI Sulsel atau berapami uang yang kudapat atau kuhabiskan di IKAMI Sulsel di’???” mending ke laut aja, pi boker (kalau cari tude masi mending).

Bertanggung jawab. Berani???
Saya mencitakan IKAMI Sulsel maju, organisasi ini menjadi potongan puzzle kebesaran dan keagungan citraannya (Segala kehidupan di Sulsel). Jika sedikit saja kita melowongkan waktu membaca sejarah, astaga… sedih rasanya kehidupan jaman materi ini, malah sistem kehidupan kita berulang ke jaman batu, untung saja ada gedung tinggi, ada bandara dan pesawatnya, ada Kapal laut besi, ada komputer dengan internet dan teman-temannya, ada pabrik kain, ada Spiderman-nya, ada James Bond-nya, ada Iron Man-nya, ada Transformer-nya, sehingga kehidupan kita yang seperti jaman batu ini tidak ketahuan oleh nenek moyang yang berperan sebagai aktor pencerahan (aufklarung). Kalau dia tau, mungkin akan terpingkal-pingkal dan merasa geli, tak ada alas an lain kecuali kita hanyalah boneka bagi mereka.

Abu Nawas & Ikami Sulsel:
Coba Abu Nawas hidup di jaman kita dan mengetahui kondisi IKAMI Sulsel, mungkin ada sebuah lelucon untuk kita, atau paling tidak teka-teki: Berbentuk tapi tak dapat dilihat, banyak yang terlibat tapi ternyata hanya sedikit yang ada, dia berwarna sesuai bentuknya, jika disadari keberadaannya maka banyak yang akan sakit walaupun sedikit yang kesakitan, berapakah satu ditambah satu?.

Penasaran yahhh ????:
Intinya, IKAMI Sulsel ini mBulet, ujung-ujungnya pasti pertanyaannya berapa. Hahahaha.

Lalu???:
Ada yang berani menyangkal? Atau merubahnya?

Tabe’

Tuesday, December 27, 2011

Meninggikan Konsep di atas Ketua Umum; Menuju Munas IKAMI Sulsel

munas ikami sulsel
Musyawarah Nasional (Munas) IKAMI Sulsel semakin dekat di depan mata, forum permusyawaratan yang biasanya bermetamorfosa menjadi forum silaturahmi tahunan antar perantau di berbagai daerah di Indonesia, menuntut perhatian yang besar. Munas adalah kegiatan sacral yang menentukan gerak organisasi selama dua tahun ke depan.

Dalam ajang Munas ini, setiap cabang yang menjadi peserta dan pemilik hak musyawarah tentu akan berhadapan dengan tiga agenda besar, yakni mendengarkan Laporan Pertanggung Jawaban (LPJ) dan meminta klarifikasi atas kinerja Pengurus Besar (PB) IKAMI Sulsel, merancang “perangkat lunak” organisasi seperti AD/ART dan konsep pelaksanaan ata tata kelola organisasi yang mendasar serta rekomendasi, dan tentu saja memilih punggawa yang akan bertanggung jawab atas keputusan-keputusan Munas.

Tentu saja kita mengetahui bahwa ketiganya memiliki peran yang penting dalam menentukan berlangsungnya organisasi professional yang modern. LPJ dibutuhkan guna meminta pertanggung jawaban dari para pengurus atas seluruh gerak-geriknya atas nama IKAMI Sulsel berdasarkan pada keputusan Munas sebelumnya.

Rumusan “Perangkat lunak” organisasi menjadi bagian paling krusial dalam kegiatan permusyawaratan, “Perangkat lunak” inilah yang menuntun para aktivis IKAMI Sulsel dalam menghidupkan organisasi, tanpa rumusan ini, IKAMI Sulsel bak petualang yang menjelajahi rimba tanpa bantuan kompas. Dan agenda terakhir adalah pemilihan Ketua Umum.

Yang terakhir ini sangat sulit dijelaskan, sebenarnya Ketua Umum dalam organisasi modern seperti IKAMI Sulsel hanya bertindak sebagai pengarah, mengakumuliasi segala ide dan kepentingan antar kelompok (cabang misalnya) dan memanfaatkannya utuk keuntungan bersama dan kemajuan organisasi. Persoalan penentuan kebijakan organisasi, Ketua Umum tidak mandiri dan bebas bertindak semena-mena, kebijakan harus berlandaskan pada rumusan konsep pengelolaan organisasi yang telah digodok dan disepakati sebagai bersama. Memang tak salah jika mensejajarkan Ketua Umum dengan pelayan dalam hal kerja pelayanannya.

Namun walaupun begitu, agenda pemilihan Ketua Umum seperti menjadi puncak dari perayaan Munas, kesibukan menghadapi Munas di Cabang jangan sampai adalah kegiatan membaca dan membuat peluang untuk menduduki jabatan tertinggi di PB IKAMI Sulsel. Sementara perumusan konsep gerakan organisasi ditelantarkan, parahnya lagi jika panitia pelaksana juga (larut) lebih memfokuskan agenda pencalonan dan pemilihan Ketua Umum, dibandingkan perumusan “Perangkat lunak” organisasi. IKAMI Sulsel yang kita cintai ini hanya jolloro yang terombang-ambing di tengah samudra. Hanya jolloro (bahkan mungkin lepa-lepa), bukan kapal atau pinisi !!!.

Musyawarah Nasiona IKAMI Sulsel semakin dekat dengan ambang mata. Setiap gerakan mata untuk membaca catatan ini mengantarkan kita semakin dekat ke ajang sakral itu. Mungkin rindu saling bertatap di forum Munas semakin membuncah, atau rasa penasaran sudah kelewat besar untuk mengetahui siapa sosok dibalik eksistensi dan cemerlangnya IKAMI Sulsel di cabang pada suatu daerah tertentu. Namun semoga kita tetap ingat bahwa Munas adalah satu langkah menuju semesta kesuksesan, langkah lainnya adalah kerja keras.

Mari meninggikan konsep di atas Ketua Umum !!!

ikami sulsel adalah rumah

Munas dan Perjamuan Keluarga Besar
Pernahkah terbayang di benak pembaca bahwa IKAMI Sulsel adalah sebuah keluarga? Pernahkah terbersit di hayalan bahwa Munas IKAMI Sulsel, adalah perjamuan keluarga besar yang anggotanya duduk mengelilingi meja bundar dan membicarakan kegiatan liburan di akhir pekan tanpa memusingkan siapa yang harus menjadi sopir?

Dalam kondisi di atas, bukankah pembicaraan soal rencana liburan menjadi topik utama? Misalnya menentukan tujuan kemana kita akan berlibur, bagaimana konsep kegiatan agar liburan jadi menyenangkan, atau tentang apa saja yang perlu disediakan, dll. Sementara soal pemimpin rombongan keluarga atau sopir ditentukan dengan bebas, tanpa banyak embel-embel dan saling berebut, sehingga forum mulai terpecah karena dukungan yang berbeda.

Marilah kita saling menjamu dan menjadi anggota keluarga yang baik dan cerdas, menghindari pertengkaran karena dipecah oleh keberpihakan anggota keluarga terhadap seorang kandidat. Biarkanlah kandidat hidup dalam dunia politiknya sendiri, merayu kita dengan kata-kata manis, sementara cabang-cabang (sebagai anggota keluarga) fokus pada pengembangan konsep organisasi.

Toh, kita semua sudah mulai besar sebagai sebuah keluarga dan semakin matang dalam menentukan pilihan.

Sunday, December 25, 2011

Menuju Munas IKAMI Sulsel; Doa Sang Pertapa

Sinopsis
Suatu kala, seorang anggota IKAMI Sulsel mengasingkan diri diakibatkan kebimbangannya terhadap kondisi di sekitarnya. Di pengasingan, dia bertapa, melantunkan doa-doa untuk keselamatan, kesejahteraan dan kemajuan lingkungan di sekitarnya.

Utang dimana-mana, setiap orang saling berebut kekuasaan, janji tak ada yang ditepati malah diobral dengan murah, kepentingan untuk keuntungan rupiah. Resahlah hati anggota IKAMI Sulsel yang memilih jadi seorang Pertapa.

Dengan khusyuk dia membatinkan semesta, mensakralkan IKAMI Sulsel dan mencoba membangun organisasi melalui doa, mungkin dia pikir bahwa organisasi ini jarang didoakan sehingga gerak majunya terhalang, tapi tetap saja doa tidak banyak berguna tanpa kerja keras.

Namun, saat sang Pertapa sedang dibuai kedamaian tapa, datanglah sesosok makhluk mengganggu, lalu terjadilah pertarungan sengit diantara mereka….




Jangan lupa berkomentar !!!

Friday, November 11, 2011

Menuju Musyawarah Nasional IKAMI Sulsel; 2011 atau 2012 ???

Musyawarah Nasional IKAMI Sulsel
Tertunda dari rencana pelaksanaan Musyawarah Nasional (Munas) IKAMI Sulsel yaitu pada tanggal 8 Desember 2011, maka Panitia Pelaksana seharusnya dituntut untuk makin serius mempertanggungjawabkan amanah kepanitiaannya, atau terlepas dari tanggung jawab panitia Munas, teman-teman Pengurus Besar IKAMI Sulsel harus bertanggung jawab atas rekomendasi yang dikeluarkan untuk menunjuk beberapa orang yang bekerja sebagai panitia Musyawarah Nasional IKAMI Sulsel.

Seharusnya, penundaan pelaksanaan Musyawarah Nasional IKAMI Sulsel ini, sudah menjelaskan bagaimana kinerja teman-teman di tingkat kepeminpinan nasional dalam tubuh IKAMI Sulsel. Penundaan Jadwal Musyawarah Nasional menjadi tanda ketidak seriusan-para punggawa IKAMI Sulsel, khususnya pemimpin para punggawa, untuk mengembangkan IKAMI Sulsel sebagai organisasi yang profesional dan modern. Apalagi melihat Musyawarah Nasional bukan permusyawaratan yang remeh temeh, bisa di maklumkan dengan kata maaf beserta berbagai alasan seperti teman-teman yang sibuk menjadi kordinator kampus di cabang masing-masing. PB IKAMI Sulsel jelas sekali terlalu kekanak-kanakan dengan tidak jelasnya jadwal pelaksanan Musyawarah Nasional yang akan dilaksanakan di Yogyakarta, entah kapan.

Tulisan ini pada dasarnya bukan untuk menyerang suatu kelompok secara politis, namun lebih terdorong oleh kebimbangan penulis akan masa depan IKAMI Sulsel ini, dan kesalahan kecil seperti penetapan jadwal Musyawarah Nasional yang kacau balau sangat jelas mendasari kekhawatiran penulis. Bayangkan, organisasi skala nasional, PB IKAMI SULSEL tidak becus menentukan jadwal pelaksanaan Musyawarah Nasional. Bukankah ini sangat memalukan kita?.

Jauh sebelum Munas 2011 mulai diperbincangkan di sekitar penulis, berbegai aktifitas organisasi baik perilaku personalia maupun terlaksananya mekanisme organisasi, sempat dikritisi. Namun peroblematika tersebut menunjukkan suatu bentuk kedewasaan politik kalau bisa berkata begitu, bagaimana tidak jika kepentingan suatu kelompok saja yang menjadi perhatian. Nahkoda Pinisi seperti melihat suatu target menggunakan teropong yang memang mendekatkan jarak pandang, menarik objek semakin dekat dengan mata si Nahkoda, namun sekaligus mempersempit ruang pandang. Artinya hanya orang yang dekat itulah yang sering mendapatkan perhatian.

Aihhhhh, ujung-ujungnya kita akan banyak mengorbankan perasaan dan menerima pelaksanaan Musyawarah Nasional ala kadarnya, mau apa lagi, mungkin sang nahkoda tak memiliki semangat lagi untuk sampai pada dermaga akhir yang tidak sesubur dan seramai dermaga atau bahkan bandar politik lainnya, pada suatu pulau. dan berbagai permakluman yang lain tentunya. Kita tentunya akan lebih memperhatikan masa depan IKAMI Sulsel dibandingkan problematika masa lalu.

Oia, mungkin ada kesempatan untuk meminta pertanggungjawaban kepada Nahkoda dan para awaknya, meminta klarifikasi atas segala aktifitas yang terjadi dalam kapal. Namun, apakah kesempatan ini masih penting? apakah kita bisa meminta pertanggung jawaban dari seorang Nahkoda dan para teman dekatnya yang sudah jelas tidak bertanggung jawab?. Misalkan IKAMI Sulsel sedang berlayar di laut lepas, apakah sang Nahkoda yang sudah kita kenal dengan baik selama dua tahun ini bisa menjelaskan bahwa kapal bernama IKAMI Sulsel berada di laut bagian mana? angin di samudra mana saja yang pernah meniup layar kita?

Penulis ragu sang nahkoda mampu menjawabnya, alasannya sang nahkoda bukanlah pelaut, dia hanya memanfaatkan kapal ini untuk sampai pada labuan cita-citanya. Entah siapa yang meminjamkan kemudi dan status nahkoda kepadanya.

Parahnya lagi, jika sebenarnya kapal IKAMI Sulsel kita ini tidak berlayar kemanapun, hanya air laut yang mengombang-ambing dan akhirnya kita bertemu sebuah dermaga secara kebetulan. Atau malah dermagalah yang berlayar dan menemukan kita???? hahahahaha, Penulis sangat kebingungan menalar IKAMI Sulsel hari ini dan hari-hari sebelumnya pada suatu tetakan periodesasi kepemimpinan.

Penulis ini bukan siapa-siapa, jika suatu saat ada teman yang bertanya siapa saya dan apa kepentingan saya, penulis hanya sedang menaksir masa depan IKAMI Sulsel, dan pelan-pelan memikirkan bahwa IKAMI Sulsel memang membutuhkan Munas dengan kejelasan jadwal pelaksanaan tentunya. Setidaknya pada periode ini, penulis memang merasa bahwa kegiatan utama yang perlu dilaksanakan PB IKAMI adalah Munas, tidak kegiatan lainnya, hanya itu, yang lain tak ada gunanya!

Demi Masa
Sesunggunya beberapa periode kita mengalami Kerugian.
Kecuali mereka yang masih memiliki keyakinan dan tenaga untuk bekerja keras,
Bekerja sama dalam kejujuran, saling memegang amanah dengan penuh kecerdasan.

Jayalah IKAMI Sulsel di seluruh Nusantara.
Selamat dan Sukses Musyawarah Nasional
Ikatan Kekeluargaan Mahasiswa/Pelajar Indonesia Sulawesi Selatan.
2011 atau 2012 ????
 

Alternative Road Copyright © 2012 -- Template was edited by Cheng Prudjung -- Powered by Blogger