Tuesday, October 26, 2010

Aku dan Matahari Sore

Entah bagaimana menamai sore ini, atai memberikan sifat pada sore ini, aku terbangun dari tidur siang yang sebentar, tidur siang yang tidak disengaja, saya membaca buku sambil berbaring dan sekali memutar badan ke samping, aku tak tahu lagi posisi buku di tangan ku seperti apa, pandanganku gelap, tanpa mimpi.

Aku terbangun di sore yang tidak usah kunamanai, kucek beberapa pesan yang ada di henpon, pesan basi dan tidak penting. Aku mempersiapkan tas, kumasukkan laptop mungilku ke dalamnya, lalu ke depan pintu dan duduk di lantai, di ambang pintu. Kuambil kaos kaki yang baru kubeli pagi tadi lalu segera kukenakan, kututup dengan memasang sepatu tanpa tali.

Kuangkat tasku dan kugantung di pundak kanan, walaupun tasku adalah jenis tas punggung, aku tidak mengenakannya dengan sempurna, kugantungkan begitu saja di bahu kananku, mirip seorang anak yang mengenakan tas salempang yang disangkutkan di pundak. Aku melangkah.

Aku sadar bahwa sore ini adalah sore setelah aku keluar dari keteduhan pohon keres yang rindang, ketika tubuhku bermandikan cahaya matahari yang hangat, entah apakah matahari sore itu benar-benar hangat atau menggerahkan, tapi aku senang dengan sinar matahari ini. Angin semilir menerpa tubuhku.

Aku melangkah, manaiki tanjakan, menikmati sinar matahari dan terpaan angin. Peluh dan keluh terasa begitu enak saat itu, dan ketika aku masuk pada area bayangan dari rindangnya pohon, kepalaku meengeluh, meminta sinar matahari sore lagi. Kepalaku berontak, mengirim beberapa memori yang memusingkan pada bagian lain di kepalaku yang membuatku merasa ditekan. Raasanya ingin muntah.

Selain tubuh dengan balutan pakaian, tas berisi laptop, dua buku bacaan, sebuah spidol dan sebungkus rokok lucky strike, kusandang. Ikut pula beberapa “beban pikiran” yang berkecamuk di setiap langkahku. Beban hidup, proyeksi masa depan, imaji akan pekerjaan 2 atau 3 tahun kedepan. Ada pula di dalam kepalaku tersangkut dan menggelayut persoalan sosial, hubungan dengan kawan, tanggung jawab, komunikasi, konflik, uang, uang dan uang. Aku tetap melangkah.

Sore itu, matahari yang entah bagaimana caranya membuat keluh yang begitu harmonis dalam diriku, seperti sebuah ritme tak berarutan yang indah, seperti alur cerita fiksi yang kusut tapi menggairahkan, seperti sebuah nama yang njelimet untuk disebut bahkan diingat hadir sangat menarik untuk diperhatikan. Sore itu, cahaya matahari yang ditangkap kedua mataku yang rabun terlihat kuning, memberikan efek kuning kepada benda-benda disekitar, memantulkannya dan membuat perasaan semakin harmonis. Beautifull.

Aku mendekati jalan raya, deru suara kendaraan tidak terhiraukan. Memang kudengarkan tapi tidak kuperhatikan, maka tak ada satu kesan pun dapat kutangkap dari mereka.
Ilustrasi Matahari di sore hari (Sumber: Disini)

3 komentar:

Kios Galesong said...

catatan ny apik gan...
kadang hal-hal seperti ini dilupakan gara2 rutinitas, kita tidk smpat memperhatikan cantiknya matahari sore

Chino said...

Betul, bro. Indahnya mentari sore sering tersamarkan oleh rutinitas manusia sibuk atau sok sibuk. Hehehe... Nice posting, mengingatkan aku akan Karunia Allah SWT yang diberikan pada umat manusia setiap sore. BTW, mohon ijin untuk reposting article ini di blogku http://saqbemandar.co.cc Mohon konfirmasinya via facebook muhammad naim chino. Ditunggu bro. Thanks.

Apel Batu said...

Ternyata romantis orangnya..
Romantis (Rokok - makan - lihat betis)

Post a Comment

Jangan lupa meninggalkan komentar ya.... (Tolong jgn berkomentar sebagai Anonymous)

 

Alternative Road Copyright © 2012 -- Template was edited by Cheng Prudjung -- Powered by Blogger