Friday, November 11, 2011

Menuju Musyawarah Nasional IKAMI Sulsel; 2011 atau 2012 ???

Musyawarah Nasional IKAMI Sulsel
Tertunda dari rencana pelaksanaan Musyawarah Nasional (Munas) IKAMI Sulsel yaitu pada tanggal 8 Desember 2011, maka Panitia Pelaksana seharusnya dituntut untuk makin serius mempertanggungjawabkan amanah kepanitiaannya, atau terlepas dari tanggung jawab panitia Munas, teman-teman Pengurus Besar IKAMI Sulsel harus bertanggung jawab atas rekomendasi yang dikeluarkan untuk menunjuk beberapa orang yang bekerja sebagai panitia Musyawarah Nasional IKAMI Sulsel.

Seharusnya, penundaan pelaksanaan Musyawarah Nasional IKAMI Sulsel ini, sudah menjelaskan bagaimana kinerja teman-teman di tingkat kepeminpinan nasional dalam tubuh IKAMI Sulsel. Penundaan Jadwal Musyawarah Nasional menjadi tanda ketidak seriusan-para punggawa IKAMI Sulsel, khususnya pemimpin para punggawa, untuk mengembangkan IKAMI Sulsel sebagai organisasi yang profesional dan modern. Apalagi melihat Musyawarah Nasional bukan permusyawaratan yang remeh temeh, bisa di maklumkan dengan kata maaf beserta berbagai alasan seperti teman-teman yang sibuk menjadi kordinator kampus di cabang masing-masing. PB IKAMI Sulsel jelas sekali terlalu kekanak-kanakan dengan tidak jelasnya jadwal pelaksanan Musyawarah Nasional yang akan dilaksanakan di Yogyakarta, entah kapan.

Tulisan ini pada dasarnya bukan untuk menyerang suatu kelompok secara politis, namun lebih terdorong oleh kebimbangan penulis akan masa depan IKAMI Sulsel ini, dan kesalahan kecil seperti penetapan jadwal Musyawarah Nasional yang kacau balau sangat jelas mendasari kekhawatiran penulis. Bayangkan, organisasi skala nasional, PB IKAMI SULSEL tidak becus menentukan jadwal pelaksanaan Musyawarah Nasional. Bukankah ini sangat memalukan kita?.

Jauh sebelum Munas 2011 mulai diperbincangkan di sekitar penulis, berbegai aktifitas organisasi baik perilaku personalia maupun terlaksananya mekanisme organisasi, sempat dikritisi. Namun peroblematika tersebut menunjukkan suatu bentuk kedewasaan politik kalau bisa berkata begitu, bagaimana tidak jika kepentingan suatu kelompok saja yang menjadi perhatian. Nahkoda Pinisi seperti melihat suatu target menggunakan teropong yang memang mendekatkan jarak pandang, menarik objek semakin dekat dengan mata si Nahkoda, namun sekaligus mempersempit ruang pandang. Artinya hanya orang yang dekat itulah yang sering mendapatkan perhatian.

Aihhhhh, ujung-ujungnya kita akan banyak mengorbankan perasaan dan menerima pelaksanaan Musyawarah Nasional ala kadarnya, mau apa lagi, mungkin sang nahkoda tak memiliki semangat lagi untuk sampai pada dermaga akhir yang tidak sesubur dan seramai dermaga atau bahkan bandar politik lainnya, pada suatu pulau. dan berbagai permakluman yang lain tentunya. Kita tentunya akan lebih memperhatikan masa depan IKAMI Sulsel dibandingkan problematika masa lalu.

Oia, mungkin ada kesempatan untuk meminta pertanggungjawaban kepada Nahkoda dan para awaknya, meminta klarifikasi atas segala aktifitas yang terjadi dalam kapal. Namun, apakah kesempatan ini masih penting? apakah kita bisa meminta pertanggung jawaban dari seorang Nahkoda dan para teman dekatnya yang sudah jelas tidak bertanggung jawab?. Misalkan IKAMI Sulsel sedang berlayar di laut lepas, apakah sang Nahkoda yang sudah kita kenal dengan baik selama dua tahun ini bisa menjelaskan bahwa kapal bernama IKAMI Sulsel berada di laut bagian mana? angin di samudra mana saja yang pernah meniup layar kita?

Penulis ragu sang nahkoda mampu menjawabnya, alasannya sang nahkoda bukanlah pelaut, dia hanya memanfaatkan kapal ini untuk sampai pada labuan cita-citanya. Entah siapa yang meminjamkan kemudi dan status nahkoda kepadanya.

Parahnya lagi, jika sebenarnya kapal IKAMI Sulsel kita ini tidak berlayar kemanapun, hanya air laut yang mengombang-ambing dan akhirnya kita bertemu sebuah dermaga secara kebetulan. Atau malah dermagalah yang berlayar dan menemukan kita???? hahahahaha, Penulis sangat kebingungan menalar IKAMI Sulsel hari ini dan hari-hari sebelumnya pada suatu tetakan periodesasi kepemimpinan.

Penulis ini bukan siapa-siapa, jika suatu saat ada teman yang bertanya siapa saya dan apa kepentingan saya, penulis hanya sedang menaksir masa depan IKAMI Sulsel, dan pelan-pelan memikirkan bahwa IKAMI Sulsel memang membutuhkan Munas dengan kejelasan jadwal pelaksanaan tentunya. Setidaknya pada periode ini, penulis memang merasa bahwa kegiatan utama yang perlu dilaksanakan PB IKAMI adalah Munas, tidak kegiatan lainnya, hanya itu, yang lain tak ada gunanya!

Demi Masa
Sesunggunya beberapa periode kita mengalami Kerugian.
Kecuali mereka yang masih memiliki keyakinan dan tenaga untuk bekerja keras,
Bekerja sama dalam kejujuran, saling memegang amanah dengan penuh kecerdasan.

Jayalah IKAMI Sulsel di seluruh Nusantara.
Selamat dan Sukses Musyawarah Nasional
Ikatan Kekeluargaan Mahasiswa/Pelajar Indonesia Sulawesi Selatan.
2011 atau 2012 ????

6 komentar:

bartez said...

- Bukankah ini sangat memalukan kita?(paragraf ke-3)

+ Amat sangat memalukan, tidak punya malu sekaligus banyolan menggelikkan, PB sepertinya rombongan wayang yg senantiasa tidak lelah menghibur dengan sesuatu yg tidak perlu di masuk akal kan pemirsa. masih mengutip paragraf ke-3, menimbang organisasi berskala nasional, PB IKAMI SULSEL tidak becus menentukan jadwal pelaksanaan Musyawarah Nasional?

* * *

+ Paragraf ke-7 Penulis ragu sang nahkoda mampu menjawabnya, alasannya sang nahkoda bukanlah pelaut, dia hanya memanfaatkan kapal ini untuk sampai pada labuan cita-citanya. Entah siapa yang meminjamkan kemudi dan status nahkoda kepadanya.

- Saya, dia, mereka, kalian memang wajib ragu dan meragukan. Tatkala semua ragu sudah menggempul pekat itulah yakin. Sekiranya ada benarnya sungguh amat sangat terlalu disayangkan mungkin perlu jua disesali, mengingat setau akal saya seperti Donald H McGannon berujar 'kepemimpinan adalah tindakan, bukan posisi'. Nah lho ??

* * *

- Akhir penutup 'Jayalah IKAMI Sulsel di seluruh Nusantara. Selamat dan Sukses Musyawarah Nasional Ikatan Kekeluargaan Mahasiswa/Pelajar Indonesia Sulawesi Selatan. 2011 atau 2012 ????'

+ Mungkin perlu dijawab dengan jawaban klasik, 'biarlah waktu yg akan menjawabnya' atau yg sedikit bernada sejuk 'coba kau tanya pada rumput yg bergoyang'

Anonymous said...

ADRTnamo saya, tahanna najaga yang palsu yang dikrim..nda diurus penggantinya, percuma munas bandung...parah

Anonymous said...

semoga tulisan ini lahir benar2 atas dasar rasa sayangnya pada IKAMI melihat keadaannya saat ini... entahlah,seberapa banyak kepentingan yang bermain disana (berharap sih tdk ada...itupun mustahil rasanya) karena sesungguhnya ini adalah organisasi yg lahir karena rasa persaudaraan sesama anak rantau. jikalah rasa kekeluargaan ini mesti dinodai hanya karena ada 'politik kepentingan' yg sifatnya sementara itu...sungguh sangat disayangkan.bukankah IKAMI diisi oleh2 para cendikia yg berotak cemerlang,kemanakah nikmat fikir yg dianugerahkan Tuhan...ayolah,rajut kembali tali persaudaraan itu,singkirkan nafsu 'kekuasaan' yg mungkin kini masih bertengger dikepala.... mana janji2mu wahai pengurus yg kini mengemban amanah tak takutkah kalian jika nanti dimasa segala amalperbuatan dimintai pertanggungjawabannya "taro ada taro gau". sy yakin kalian pasti bisa! dan kita masih punya waktu utk memperbaiki ini semua..... EWAKOOOOO! sebelum semua terlambat.....

UgiTeddeng

Ucheng said...

@Ugi Teddeng ::: Demikian yg kita saksikn daeng, solidaritas itu pecah disamun kepentingan.. dan memangnya apa yang tak berkepentingan itu? hanya saja memilih kepentingan bersama yg lebih mencirikan kita perantaulah yg perlu diperhatikan...

spirit taro ada taro gau juga, entah betul ata tidak, susah sekali dipertanggung jawabkan jika sudah bersinggungan dengan soal kekuasaan.. mungkin pelajaran dr guru saya yg bisa menjadi acuan, bahwa kita memang butuh pelopor untuk mempersatukan pikiran untuk mengembangkan organisasi ini...

pelopor itu tentu saja harus tau dimana dia bertarung, mengenal medan dan menguasai psikologis para pejuangnya. namun yang utama, dia harus berusaha menjadi pribadi yang assulapa appak...

salam hormatku daeng :D
Cheng Prudjung

Oia, tak usah bingung bertanya dimana nikmat fikir yang dianugrahkan sang pencipta, dia ada daeng, hanya saja tidak berani menampilkan diri, malu dan ragu mengemban amanah besar,,, butuh kekuatan dan sumbu semangat yang dipantik oleh keluarga besar ikami untuk mendorongnya maju ke depan, menunjukkan kualitas anugrah itu ... tabe |

Anonymous said...

becce,

emang ngebingungin nih....Klo ga salah udah dua kali ya ditunda,bulan November dan desember atau malah lebih dr yg sy ketahui? :D. Sebenarnya apa sih yg menjadi kendala?
Cuma ingin berbagi pengalaman nih, Tp emang semenjak ikut di salah satu cabang IKAMI sy kurang ngerasain peran PB yg mengayomi gitu… jd terkesan kita Cuma jalan n sibuk sendiri2, ga ada rasa memiliki sesama IKAMI. Padahal IKAMI pnya cabang di berbagai daerah kan, harusnya PB bisa menjadi mediator utk ini, setidaknya kita bisa mengenal saudara2 kita yg lain dan bisa bertukar informasi. Nah…MUNAS mgkn adl salah satu wadah itu… tp kalo melihat kinerja yg begini, apa bisa yah?
Hmmmmm, apapun itu sy senang bisa menjadi bagian dr IKAMI.stidaknya sy bisa lebih mengetahui adat n budaya nenek moyang jg bisa menjaganya meski ga banyak,minimal ngerti bahasanya deh. N sy senang berada diantara saudara2 yg sesama perantau, minimal di tanah rantau ini ga ngerasa sendiri jd udah kayak keluarga aja. So, kepentingan apapun yg bermain diatas, silahkan saja toh kalian jg yang akan mempertanggung jawabkn perbuatan kalian.kami Cuma bisa ngedoain semoga IKAMI bisa tambah sukses dan mensuksskan org2 yg ada didlam n sekitarnya, amin

Cheng Prudjung said...

@becce :: Saya kira merasa senang di Ikami Sulsel dan keuntungan yang qt nikmati di sana jadi bukti kl Ikami Sulsel memang top... nah sepikiran dengan mbak becce ini, saya selalu mikir begini, bergaul di satu cabang saja gembira-senangnya bukan main krna banyak cerita, apalagi kl dari berbagai cabang qt bagi cerita ....

memang butuh PB untuk memediasi komunikasi antar cabang ini, tp sampai sekarang,,, marimaki siapkan silaturahmi di munas saja ... :D

terima kasih mbak becce ! :D

Post a Comment

Jangan lupa meninggalkan komentar ya.... (Tolong jgn berkomentar sebagai Anonymous)

 

Alternative Road Copyright © 2012 -- Template was edited by Cheng Prudjung -- Powered by Blogger